Penafsiran Alegoris
Penafsiran
Alegoris adalah sebuah model tafsir yang populer pada Abad Pertama hingga Abad Pertengahan. Pendekatan ini merupakan sebuah upaya
menyingkap pesan teks Alkitab secara alegoris,
yaitu dengan mencari makna di balik kata-kata yang tertulis di dalam teks. Di
kalangan Rabi-rabi Yahudi, model ini merupakan salah satu alternatif model
tafsir, selain penafsiran literer,
Midrash, dan Pesher.
Latar Belakang
Tafsir
alegoris diperkenalkan oleh orang-orang Yunani yang secara
khusus dikembangkan melalui filsafat Stoa. Pendekatan ini
dinilai sebagai solusi untuk menjembatani ketegangan antara mitologi-mitologi
Yunani dan perkembangan filsafat. Dengan
demikian, tafsiran alegori umumnya bersifat pembelaan (apologetis).
Pendekatan
alegoris untuk menyingkap pesan teks-teks Alkitab dipelopori oleh Philo, seorang penafsir Yahudi pada Abad
Pertama. Keberadaan teks-teks kuno, seperti Taurat dalam tradisi Yahudi dan mitologi-mitologi dalam tradisi
Yunani, tidak lagi dianggap sebagai sebuah kebetulan, tetapi menyimpan pesan
moral dan nilai-nilai kebenaran yang dari masa lampau. Dengan
pendekatan alegoris, Philo yakin pesan-pesan spiritual yang tidak dapat
diungkapkan oleh teks secara harafiah dapat diungkap.
Alasan Perlunya Penafsiran Alegoris
Menurut
Philo, ada alasan-alasan tertentu yang membuat arti harafiah teks Alkitab harus
ditolak. Untuk itu, dia mendaftarkan 10 alasan mengapa teks perlu ditafsir
secara alegoris:
- Jika makna literer teks tidak mengatakan apa
yang benar megenai Tuhan.
- Jika teks bertentangan dengan teks yang lain.
- Jika teks tampaknya harus ditafsir alegoris.
- Jka teks menampilkan kata-kata yang bermaknya
ganda.
- Jika teks memuat pengulangan yang telah
diketahui sebelumnya.
- Jika teks memuat penggambaran yang beragam.
- Jika muncul kata-kata yang sinonim.
- Jika ada hal-hal yang tidak normal muncul di
dalam teks.
- Jika teks memuat permainan kata.
- Jika teks memuat simbol-simbol.
Perkembangan penafsiran alegoris
Kekristenan
perdana yang banyak berjumpa dengan filsafat Yunani menjadikan
tafsir alegoris sebagai solusi untuk memahami pesan-pesan Alkitab. Secara khusus, penafsiran Alegoris diwariskan
oleh gereja-gereja Barat yang memang banyak begumul dengan filsafat Yunani.
Contoh konkret terlihat pada zaman Patristik ketika Bapa-bapa gereja memahami
bahwa Perjanjian Lama sebagai Alkitab orang Kristen harus digunakan
untuk mendukung Perjanjian Baru. Dengan demikian metode yang digunakan adalah
metode alegoris. Secara khusus Origenes mengatakan bahwa
Alkitab adalah tempat berkumpulnya alegori-alegori yang penuh dengan simbol.[5] Sama seperti
manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh maka
Alkitab juga dibagi dalam tiga makna, yaitu literal (dipadankan dengan tubuh),
moral (jiwa), alegoris (roh).[5] Dari ketiga
tingkatan ini, menurut Origenes, Alegorislah yang paling penting.[5]
Perkembangan kemudian
Setelah
Abad Pertengahan, khususnya sejak zaman Reformasi, tafsir alegoris mulai
ditinggalkan.[5] Alkitab diyakini
dapat menafsir dirinya sendiri (scriptura scripturae interprets).[9] Sikap reformasi
ini memang tidak mematikan pendekatan terhadap Alkitab, termasuk pendekatan
alegoris.[9] Akan tetapi,
sikap tersebut mendorang para penafsir untuk lebih berfokus persoalan gramatika
dan sejarah teks.[



Komentar
Posting Komentar