Pentingnya Hermeneutik
Hermeneutik adalah ilmu penafsiran,
penafsiran dalam hal ini adalah Alkitab. Dengan demikian terlihat pentingnya
hermeneutik yang dihubungkan langsung dengan Alkitab. Maka hermeneutik
berhubungan erat dengan Alkitab, sehingga perlu diketahui pentingnya
hermeneutik yang berhubungan erat dengan Alkitab tadi.
1. Firman Allah
yang menyelamatkan manusia
Hermeneutik sebagai upaya dari
penafsiran yang berhubungan dengan Alkitab
karena
firman Allah yang menyelamatkan manusia. Dalam Roma 10:13-14
dituliskan: “Barangsiapa berseru kepada
Tuhan akan diselamatkan, tetapi bagaimana seseorang bisa menyerukan nama Tuhan
jika mereka tidak percaya, dan bagaimana bisa percaya jika tidak mendengar
tentang Tuhan, dan bagaimana bisa mendengar tentang Dia jika tidak ada yang
memberitakan-Nya?
Maka
secara langsung dapat diketahui yaitu pemberitaan firman akan terjadi jika ada
penyelidikan terhadap Alkitab terlebih dahulu, dengan demikian dibutuhkan
penafsiran atau hermeneutik. Mengapa penafsiran dibutuhkan? Jelas sekali yaitu supaya
firman itu dipahami secara benar dan secara tepat. Dengan penafsiran
yang tepat maka seseorang akan memahami Allah, baik
pribadi-Nya maupun karya-Nya.
Dengan mengenal Allah secara benar
melalui pemahaman Alkitab yang benar sudah tentu dimungkinkan seseorang
dikaruniai iman yang olehnya dia dapat diselamtakan. Dalam hal ini harga
matinya adalah melalui Roh Kudus yang turun kepada seseorang melalui firman
Allah datang ke hatinya.Tanpa gerakan Roh Kudus dan firman Allah yang
menghasilkan iman keselamatan, manusia yang terhilang selamanya tidak dapat
mengenal keadaan diri mereka. Betapa hebatnya malapetakan akibat dosa dan
betapa hebatnya akibat kasih karunia hanya dapat dipahami seseorang dengan baik
melalui pemahaman yang benar dalam penafisran yang benar pula.
2. Firman Allah
sebagai makanan Rohani
Hermeneutik berhubungan dengan
Alkitab dan Alkitab atau firman Allah adalah sebagai makanan Rohani sebagai
kenyataannya. Yoh 6:63, 17:17 adalah fakta bahwa setiap pengikut Yesus
memerlukan makan rohani untuk menguatkan hidup kerohaniannya. Masalahnya
sekarang adalah sering orang mengabaikan kebutuhan rohani dan sangat
mementingkan pemenuhan kebutuhan jasmaninya, padahal kesehatan tubuh jasmani
sangat tergantung pada makanan jasmaninya dan hal yang sama juga pada kebutuhan
rohani seseorang.
Bukti yang dapat terlihat dari fakta
bahwa banyak orang yang kurang memperhatikan kebutuhan rohaninya
adalah banyak orang Kristen yang tidak rutin, tekun apalagi dengan teliti
menyelidiki firman Allah yaitu Alkitab sebagai upaya penafsiran. Padahal
“kesehatan” hidup rohani seorang Kristen berhubungan erat dengan kepentingan
orang Kristen. Sebab dengan kerohanian yang makin kuat dan dewasa, pada satu
pihak orang Kristen dapat menahan segala serangan, godaan, pukulan dari sijahat
dan dunia. Di lain pihak dapat menjalankan perintah dan kehendak Tuhan. Ini
sangat penting. Karena orang Kristen tidak hanya ditebus untuk hidup suci atau
tidak melakukan hal-hal yang kurang baik, tetapi orang Kristen juga ditetapkan
untuk melakukan kehendak Allah, hal-hal yang baik (Yoh 4:34).
Hanya dengan kerohanian yang
sehatlah, kehidupan orang Kristen dapat lebih bermakna dan produktif.
3. Firman Allah:
petunjuk Allah untuk hidup Kristen
Kehidupan etis sebagai sesuatu yang harus
dijalani semua orang baik orang percaya maupun yang tidak percaya. Kehidupan
etis ini berarti penuh dengan pilihan-pilihan dalam keputusan-keputusan. Namun
terdapat suatu perbedaan antara orang Kristen dan Non Kristen: Orang Kristen
dapat memperoleh petunjuk-petunjuk Tuhan melalui firman Allah. Firman Allah
menjadi pelita dan terang dalam perjalanan mereka (Mz 119:105). Mencari
kehendak Allah adalah hal yang sangat penting, sebab tanpa petunjuk Allah, kita
akan sering melakukan kesalahan, mendatangkan kerugian bagi diri kita dan orang
lain, dan tidak dapat menjalankan rencana Allah.
Ini berarti kita tidak dapat
memperoleh bahagia, damai sejahtera dan berkat dari Allah. Bahkan ini juga
berarti kita menyakiti hati Allah. Sudah tentu tidak seorangpun ingin semuaini terjadi. Untuk
mencegah semuanya ini, orang Kristen harus setia menyelidiki Alkitab.
4. Firman Allah:
Senjata rohani orang Kristen
Dalam kisah “Pencobaan Tuhan Yesus”
setelah berpuasa dan lapar (Mat 4:1-13) terlihat suatu kenyataan bahwa iblispun
sangat menguasai Alkitab. Tetapi tujuan dari iblis memakai Alkitab adalah
hendak menjatuhkan Tuhan Yesus. Hal yang sama juga terjadi dalam hidup orang
percaya segala zaman termasuk zaman sekarang ini.
Si jahat dalam hal ini menjatuhkan
orang percaya dengan pelbagai cara, dan salah satu diantaranya adalah dengan
menyalahtafsirkan Alkitab. Dengan demikian tidaklah mengherankan, jika
pada setiap zaman pengikut Kristus selalu berhadapan dengan begitu banyak
pengajaran bidat, yang katanya juga berdasarkan Alkitab. Selain ini seorang
Kristenpun diserang oleh iblis dengan pelbagai godaan dan dosa. Ditambah orang
Kristen juga harus menghadapi si Aku yang lama dan godaan dari dunia.
Jadi demi melawan segala serangan
iblis, demi membedakan pengajaran yang benar dan salah, demi menolak bermacam
godaan, orang Kristen harus berpegang teguh pada firman Allah, senjata rohani
mereka (Ibr 4:12, Ef 6:12,17).
5. Firman Allah:
Dasar teologi
Alkitab tidaklah sistematis,
sehingga dibutuhkan usaha mensistematiskan Alkitab sebagai dasar iman
kepercayaan yang mudah dipahami dan dipertahankan. Hasil dari penyusunan secara sistematik ini adalah teologi. Tetapi
perlu digarisbawahi bahwa tidak semua orang Kristen memiliki teologi yang
persis sama. Berdasarkan kebutuhan zaman dan latar belakang yang berbeda ,
terutama penafsiran yang berlainan, gereja telah menghasilkan teologi-teologi
yang berbeda. Dengan demikian orang yang berada di luar dan di dalam gereja,
menemui suatu kesulitan besar untuk menentukan mana teologi yang benar atau
lebih tepat mana teologi yang berdasarkan firman Allah.
Dengan kenyataan ini tidak
mengherankan pada akhirnya ada pemimpin gereja yang berpendapat bahwa
perselisihan dan perbedaan teologi adalah perselisihan dan perdebatan
penafsiran Alkitab. Jadi jelaslah jika ingin menjadi seorang Kristen yang baik,
mau tidak mau kita harus dengan aktif dan teliti menafsirkan Alkitab.
Penafsiran yang tepat terhadap Alkitab menjadi dasar untuk membangun teologi,
bukan sebaliknya. Tugas ini akan terlihat makin penting pada saat oknum-oknum
tertentu mencoba memutarbalikkan Firman Allah dengan sengaja atau tidak
sengaja.
6. Firman Allah:
Dasar pengajaran dan khotbah
Dalam hal ini setiap pekerja Tuhan,
bahkan semua orang percaya yang mencintai Tuhan dan pekerjaan-Nya dengan
segenap hati, perlu menguasai hermeneutik, karena hermeneutik membantu menafsirkan arti
sesungguhnya dari Alkitab. Hal ini memungkinkan pemberian pengajaran
yang murni dalam jemaat Allah. Pastilah semua orang percaya setuju bahwa
pelayanan dengan penafsiran yang murni ini sangat diperlukan.
Diharapkan melalui pengajaran
sedemikian jemaat dapat maju dalam kebutuhan moral, rohani
dan pelayanan. Dan pada suatu hari jemaat akan bertumbuh menjadi bait Allah
yang kudus (Ef 2:19-22), tempat manusia bertemu dengan Allah dan juga tempat
Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia.
7. Firman Allah:
Dasar pengharapan Kristen
Jemaat mula-mula terkenal karena
pola hidup mereka yang berbeda dengan perilaku hidup masyarakat secara umum
zaman itu. Perbedaan prilaku hidup itu selain mendapat sorotan dengan upaya
menyindir ternyata lebih jauh dari itu mereka juga dianiaya baik secara
lokal/insidentil sampai secara global/sistematis yang dikoordinasi oleh
pemerintah saat itu. Dalam 1Pet 1:6,7 mereka disamakan dengan emas yang diuji
oleh api.
Bukan saja demikian, sama dengan
orang lain, orang Kristen juga diancam oleh kesulitan hidup, problema dalam
pelayanan bahkan bayang-bayang maut. Jadi bagaimana orang Kristen dapat
bertahan dalam penganiayaan? Bagaimana orang Kristen dapat bersyukur menghadapi
tantangan dalam pelayanan dan menghadapi maut? Jawabannya sederhana yaitu mereka percaya akan janji dan berkat yang
diberikan oleh Allah dalam Alkitab. Sehingga iman kepercayaan ini
membangkitkan pengharapan yang tidak akan padam, pengharapan akan kebangkitan
yang mulia dan bagian di surga yang tidak dapat binasa (I Pet 1:3-4)
8. Firman Allah:
Buku yang paling terkenal
Alkitab dicetak dalam jumlah yang
sangat besar dari tahun ke tahun, dalam berbagai bahasa dan didistribusikan ke
hampir setiap pelosok dunia. Tahun 1980 saja Alkitab telah diterjemahkan ke
dalam 1668 bahasa, dan dicetak sebanyak 36 juta jilid. Dalam sejarah manusia,
Alkitab sudah membuktikan pengaruhnya yang tidak terhitung banyaknya.
Tetapi kenyataan di samping itu
adalah ada banyak juga pihak lain yang tidak senang dengan Alkitab. Mereka
sebagian berpandangan bahwa Alkitab itu penuh dengan kumpulan mitos, yang
dianggap sebagai penghalang kemajuan manusia itu sendiri. Ada juga yang
berpandangan bahwa Alkitab telah dipakai sebagai senjata kolonialis, ada juga
yang memandangnya sebagai kumpulan cerita yang tidak praktis, kurang bermoral
dsb.
Menghadapi
dua pandangan yang sangat berbeda ini, adalah merupakan kewajiban setiap orang
Kristen untuk berbicara tentang kebenaran. Tetapi perlu tetap diingat tugas
ini tidaklah mudah namun harus dilakukan. Untuk meyakinkan mereka yang menganggap
Alkitab itu baikdan memeberi penjelasan yang memadai kepada mereka yang
menganggap Alkitab itu jelek, orang Kristen sendiri harus terlebih dahulu
menguasai isi Alkitab. Disinilah terlihat kepentingan hermeneutik.
9. Firman Allah:
Kitab yang sulit dimengerti
Firman Allah adalah perkataan Allah
yang sempurna yang disampaikan kepada manusia yang tidak sempurna. Perbedaan
ini jelas membuat banyak sekali jurang pemisah yang olehnya terjadi banyak
kesulitan pemahaman dari pesan ke pada penerima pesan. Alkitab sulit
dimengerti, bukan saja karena ia adalah sebuah kitab suci, tetapi di dalamnya
terdapat banyak faktor yang menyebabkan ia memang sulit dimengerti. Contoh
sederhana adalah masalah penggunaaan bahasa kuno zaman itu yang harus dipahami
oleh bahasa modern zaman kini.
Selanjutnya pengalaman, kebudayaan,
cara berkomunikasi dari pengarang-pengarang Alkitabpun sangat berbeda dengan
kita sekarang ini. Pembaca-pembaca
Alkitab hari ini, pada dasarnya adalah pihak ketiga, bukan pembaca atau
pendengar secara langsung dari penulis Alkitab. Ditambah lagi hari ini kita
tidak memiliki naskah-naskah asli yang ditulis oleh pengarang-pengarang Alkitab,
dan jangan lupa jarak antara kitab Wahyu (kitab yang termuda) dengan kita
sekarang ini hampir 2000 tahun.
Dengan
pertimbangan-pertimbangan ini serta kesulitan-kesulitan yang segera terlihat
jelas penafsiran bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Walaupun demikian orang
Kristen tidak perlu merasa kecil hati, sebab jika Allah berkehendak
menyampaikan isi hati-Nya melalui Alkitab, maka Allah yang baik itu pasti
bersedia menolong mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena kecintaan
pada sabda-Nya itu.


Komentar
Posting Komentar