Definisi istilah & posisi teologis (Essensi) Hermeneutika
Istilah
hermeneutik (Yun, ‘ermeneutike) tidak berasal dari dalam kekristenan,
namun dari istilah ini terjadilah reformasi kekristenan. Secara
sederhana hermeneutik berarti ilmu tafsir; tafsiran terhadap ungkapan
tulisan. Walaupun harus diakui bahwa beberapa unsur penting dengan
sendirinya hilang, seperti: gaya bahasa, aksentuasi, mimik, dan suasana hati
penulis. Dengan demikian hermeneutik belumlah menjadi satu-satunya
cara yang paling ampuh untuk menyatakan nilai valid dari suatu data.
Hermeneutik dipakai secara luas dalam ilmu linguistic,
sebab dari dalamnya paling tidak dapat ditemukan makna tersirat dari apa yang
tersurat. Termasuk juga dalam biblical study, hermeneutik
memberikan sumbangan besar dalam menemukan prinsip sebenarnya yang tersembunyi
dari dalam teks Alkitab. Secara substansi, Alkitab adalah kebenaran Allah
yang dalam prakteknya ditulis dengan melibatkan seluruh aspek kemanusiaan dari
penulis dan konteksnya. Tentu saja hermeneutik mencoba “membedah”
kebenaran tersebut dari sudut pandang penulis awal yang coba dibahasakan
kembali dalam konteks masa kini.
Pengertian
Literal
Hermeneutik secara etimologi dipakai
sebagai adjektiva (kata sifat) ketika mendefinisikan kata benda, yaitu
sebagai ucapan yang utuh dan padu yang memaksudkan (meaning) apa yang
diatributkan kepada sesuatu hal yang eksis dan segala sesuatu yang berkaitan
dengan substansi hal tersebut. Dari penelusuran ini terlihat jelas bahwa hermeneutik
berarti “yang memaksudkan sesuatu” atau “yang menunjuk sesuatu”.
Dalam
pemahaman semantic dengan kata hermeneia memiliki pengertian
sebagai pemindahan atau penerjemahan pikiran ke dalam bahasa; juga berkaitan
dengan kata techne yang berarti kemampuan atau seni tertentu.
Penelusuran ini menghasilkan pemahaman bahwa hermeneutik muncul juga
dalam pengertian sebagai seni divinasi atau ramalan (mantike).
Lamb,
menerjemahkan hermenutik dengan “interpretasi”, yang dimaksud disini
adalah “interpretasi wangsit”. Dengan perkataan lain, Lamb lebih melihat
tugas hermeneutik dalam batasan menerjemahkan sabda-sabda dewa.
Artinya ia melihat hermeneutik sebagai wujud kemampuan meramal (mantike)
dari dalam agama Yunani. Hal ini beriringan dengan sikap para pendeta-pendeta
Yunani dalam meramalkan masa depan sambil menjadi abdi bicara sang dewa.
Tentu saja kekhususan ini membawa dampak pada pembatasan kerja hermeneutik
hanya dalam bidang keagamaan, padahal hermeneutik seharusnya dapat
dipakai secara luas sebagai ilmu tafsir terhadap disiplin ilmu lainnya.
Hermeneutik dalam kaitannya dengan fungsi,
berguna untuk mempertunjukan (show), menjelaskan (make clear),
dan menerangkan (the meaning of). Dengan demikian, tugas dari hermeneutik
adalah mempertunjukan, menjelaskan dan menerangkan makna kata tulis yang
tersembunyi dari suatu sumber tulisan guna menemukan arti sebenarnya yang
dimaksud oleh sumber. Secara sederhana hermeneutik berarti
seni atau ketrampilan menemukan arti kata ucap dibalik makna kata tulis, baik
yang bersumber dari manusia ataupun dewa, dalam konteks masa lalu, kini maupun
ramalan.
Pengertian
Teologis
Sebagai
bagian dari disiplin ilmu menuntut hermeneutik untuk bersifat netral dan
umum dipakai oleh semua bidang penelitian, termasuk teologi. Dunia
teologi tidak dapat dipisahkan dari hermeneutik, sebab melalui hermeneutiklah
suatu kajian terhadap kebenaran ditemukan dan diimplementasikan secara nyata
dalam perjumpaan antara Tuhan dengan umat. Mengingat tugas penting dari hermeneutik,
maka sudah seharusnya ia menjadi salah satu bidang favorit dari para seminarian.
Hermeneutik
menjadi jembatan antara dari Alkitab
sebagai sumber kebenaran tentang Allah dengan tindakan mengaktualisasikan
kebenaran. Tidak jarang perilaku atau ajaran yang menyimpang terjadi
sebagai hasil dari tafsiran atau interpretasi yang menyimpang.
Sejarah gereja telah memberikan bukti kesalahan tafsir dari tokoh-tokohnya,
yang berakibat munculnya ajaran-ajaran yang keliru. Tidak selesai disitu,
tidak jarang gereja mengalami perpecahan karena adanya perbedaan cara pandang
dalam melihat Alkitab.
Dalam
diktat Metode Mempelajari Alkitab Permulaan (MMAP) dijelaskan bahwa, hermeneutik
adalah langkah-langkah sistematis dalam menyibakkan atau membukakan kebenaran
Allah melalui frame tertentu. Frame tersebut adalah konteks, gramatikal,
literal, tujuan penulis dan sistematika dari keseluruhan kitab dalam
Alkitab. Pada akhirnya sifat its sui ipsius interpress dari
Alkitab akan terpelihara.
Pengertian
Praktikal
Sudah
disebutkan di atas bahwa hermeneutik adalah “jembatan
antara”. Dua sisi yang menjadi pijakan dari hermeneutik adalah
pijakan dogmatis dan pijakan praksis. Artinya Alkitab
adalah satu-satunya sumber yang diijinkan Allah sehingga menusia dapat mengenal
dan mengetahui kebenaran, sekaligus dari Alkitab jugalah manusia memperoleh
cara atau pola hidup yang bersesuaian dengan kebenaran Allah. Alkitab
memiliki nilai kebenaran mutlak (K) tentang Allah dan untuk menyingkapkannya
haruslah dengan “membongkar” semua makna, symbol, tanda-tanda, ungkapan,
istilah bahkan frase yang ada di dalamnya.
Permasalahannya
adalah apa yang seharusnya dibongkar di atas telah tercatat dalam Alkitab yang
kurun waktu “pengumpulannya” kurang lebih 1500 tahun dengan jumlah penulis
kurang lebih 40 orang. Jadilah Alkitab sebagai karya Allah yang memenuhi
unsur-unsur budaya, konteks, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pola, serta masa
tertentu harus di hadirkan kembali secara sederhana baik dalam budaya, konteks,
bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pola serta masa yang lain.
Demikianlah
seharusnya fungsi dari hermeneutik diletakkan. Baik dalam upaya menelaah
Alkitab sebagai rancang bangun teologi maupun menggunakan Alkitab sebagai
pedoman hidup praksis dihadapan Allah yang kepadanya hidup akan
dipertanggung jawabkan.
Hermeneutik
an sich
Lingkungan
Non-Yahudi:
Istilah
hermeneutik justru pada awalnya diperkenalkan secara luas di Eropa dalam
kebudayaannya dengan bahasa Latin oleh Johann Dannhauer sebagai teolog kota
Strasbourg. Ia menggunakan hermeneutik dalam fungsi menemukan kevalidan
dari disiplin-disiplin ilmu yang bersumber dari data teks. Pemahamannya
merupakan bagian dari semangat renaissance untuk kembali menemukan
kebenaran melalui penelusuran terhadap teks-teks kuno. Sepertinya sumber
ini diilhami oleh tulisan Aristoteles dalam bukunya Peri Hermeneias.
Dipihak
lain, Wilhelm Dilthey sebagai ahli hermeneutik modern, menemukan bahwa hermeneutik
sudah muncul justru di abad 16 ketika Protestanisme menggemakan semangat
Sola Scriptura. Para protestanisme yang adalah pengikut
Luther menggunakan hermeneutik dalam dua hal, yaitu (1) menafsirkan teks
Alkitab dan (2) memberikan bantahan terhadap Katolikisme yang
menggunakan otoritas gereja dalam menafsirkan Alkitab. Semangat protestanisme
adalah semangat untuk kembali pada kebenaran Alkitab, sebab protestan secara etimologi
adalah pro – testamentum (berpihak pada testament/perjanjian
[Alkitab]).
Zaman
Klasik[4]
Secara
tradisional hermeneutik dianggap berasal dari kata Hermes, yang
dalam mitologi Yunani adalah nama dari salah seorang dewa. Tentu
saja penelusuran ini tidak mendapat dukungan dari para hermeneutis
berikutnya. Mereka justru melihat hermeneutik dalam tiga kerangka
penelusuran yaitu: pertama, jalan yang mengartikannya sebagai sarana untuk
memberi penjelasan rasional atas mitologi homerik; kedua,
menitikberatkan pada peran interpretasi dan ramalan dalam khazanah agama
Yunani kuno; serta ketiga, mencari segala sesuatu yang mirip dengan pengertian
kata hermeneutik dalam teks-teks Yunani kuno.
Walaupun
demikian, prinsip ketigalah yang menjadi pilihan dalam memberikan penguraian
pengertian hermeneutik, seperti halnya Jean Grondin yang berpendapat
bahwa kata hermeneutik ketika digunakan oleh teks-teks babon
tidak pernah mendapat perhatian penelitian secara khusus, meskipun penelitian
pantas dilakukan guna menemukan hubungan keterkaitan dari ketiga prinsip di
atas. Melalui cara menyusun kembali (rekonstruksi) konteks
digunakannya kata hermeneutik pada saat itu, maka pengertian kata hermeneutik
dapat diperoleh tanpa harus terganggu dengan penjelasan secara
kontemporer. Dasarnya adalah prinsip pengandaian terhadap penggunan kata hermeneutik
bukan sebagai istilah teknis pada waktu itu, tetapi lebih kepada istilah yang
banyak dijumpai dalam percakapan populer kala itu, seperti yang banyak terdapat
dalam tulisan-tulisan Yunani kuno yang ditemukan dan masih bertahan sampai sekarang.
Pengertian
masa kini tentang istilah hermeneutik pada awalnya ditemukan dalam
tulisan-tulisan Plato, yang selanjutnya pada masa kini istilah tersebut
dikenal sebagai hermeneutik. Istilah hermeneutik digunakan
oleh Plato dalam tiga tulisannya yaitu dalam Politicus 260 d 11, Epinomis
975 c 6 dan Definitions 414 d 4. Walaupun demikian, secara etimologi
tetap tidak mendapat penjelasan keterkaitan antara istilah hermeneutik
dengan istilah hermeneia dan hermeneus.
Plato
sendiri ternyata memang tidak konsisten dalam menggunakan istilah hermeneutik
sebagai sebuah definisi, sebab dari ketiga bukunya hanya Politicuslah
yang sungguh-sungguh bersumber dari Plato, selebihnya adalah karya para Academia.
Buku Definitions menggunakan hermeneutik yang bersifat Adjektiva
dalam mendefiniskan kata benda, yaitu sebagai ucapan yang utuh dan padu yang memaksudkan
apa yang diatributkan kepada sesuatu hal yang eksis dan segala sesuatu yang
berkaitan dengan substansi hal tersebut.
Dalam
hal ini jelas bahwa hermeneutik memiliki pengertian sebagai “yang
memaksudkan sesuatu” atau “yang menunjuk sesuatu”. Secara semantic,
istilah hermeneutik juga memiliki keterkaitan dalam pengertian hermeneia,
yaitu pemindahan atau penerjemahan pikiran ke dalam bahasa. Selanjutnya
dalam buku Epinomis dan Politicus hermeneutik juga dipakai
sebagai adjektiva. Berdasarkan contoh-contoh penggunaan di atas,
dapat disimpulkan bahwa hermeneutik memiliki pengertian lain sebagai
kemampuan atau seni tertentu atau techne.
Hal
penting diperhatikan dalam buku Epinomis sebuah catatan yang bersifat Platonik
adalah ditemukannya pembahasan mengenai pengetahuan yang membawa orang pada
gerbang kearifan. Dalam buku ini dinyatakan bahwa mantike, yang
berarti ramalan (divination) dan hermeneutik bukanlah cara untuk
membawa orang pada pintu gerbang pengetahuan itu. Ternyata ramalan atau hermeneutik
tidak serta merta menghasilkan kearifan, sebab pengerahuan ini hanya membawa
orang untuk mengetahui dan mengenali apa yang dikatakan, bukannya untuk
mengetahui apakah yang diucapkan itu adalah sebuah kearifan, dan bukan juga
untuk mengenalinya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh dari sebuah ramalan.
Berdasarkan
fakta-fakta yang tidak menjelaskan di atas, beberapa ahli modern kemudian
melakukan usaha menyatukan pengertian dari hermeneutik dengan ramalan.
Leon Robin menjelaskannya sebagai “tafsiran atas wangsit”, dipihak lain, Lamb
menjelaskannya sebagai tafsiran. Dalam hal ini maksudnya adalah tafsiran
terhadap suara-suara gaib, ilham dari langit dan sebagainya. Permasalahan
penting disini adalah tidak ditemukannya data-data pasti untuk mengetahui bahwa
istilah hermeneutik memang digunakan hanya untuk menjelaskan tafsiran terhadap
wangsit.
Ternyata
penelusuran istilah melalui media agama-agama Yunani tidak memberikan
pengertian yang mendalam terhadap penjelasan istilah hermeneutik, maka
penelusuran kembali dilakukan dengan menggunakan dasar tulisan-tulisan
Plato. Dalam bukunya, Politicus dan Epinomis,
ditemukan bahwa pengertian kata hermeneutik tidak sama dengan Mantike,
namun keduanya tetap memiliki hubungan. Dari buku-bukunya yang lain,
misalnya Phaedrus dan Timaeus, Plato sepertinya menerima
kenyataan tradisional pada waktu itu bahwa kemampuan meramal terkait erat
dengan mania atau kondisi ekstase. Ketika seorang peramal
berkata-kata dalam keadaan ekstase, hal ini dijelaskan secara ilmiah
oleh profetes. Keterkaitan antara ramalan mantike dan profetes
dalam Timeneus ternyata paralel dengan mantike dan hermeneutik.
Berdasarkan
penelusuran di atas, kemampuan hermeneutik seseorang bergantung pada
kemampuannya menjelaskan makna apa yang diucapkan menggunakan seni ramalan mantike,
sementara sikap hermeneutis adalah sikap yang menjadi perantara peramal dengan
orang lain, seperti seorang nabi diantara Tuhan dan ciptaan-Nya. Buku Epinomis
menjelaskan bahwa perantara bertugas untuk “menyambung lidah”. Dia memang
bisa menjelaskan isi ramalan atau wahyu, namun dipihak lain ia tidak dapat
menjelaskan apakah itu nantinya adalah sebuah realita atau tidak. Pada
akhirnya, tugas hermeneutik adalah menjelaskan “apa makna sesuatu”, sementara
untuk menemukan apakah hal itu benar atau tidak adalah tugas dari disiplin ilmu
lain misalnya filsafat.
Pengertian
yang ditemukan di atas sama dengan pengertian yang dianut oleh Danhauer pada
abad XVII. Dalam persepektifnya, dua disiplin ilmu yang paling dasar
adalah logika dan hermeneutik. Logika berguna untuk menentukan
klaim kebenaran pengetahuan dengan cara memberikan pembuktian bagaimana
pengetahuan itu diturunkan dari prinsip rasional yang paling tinggi.
Sementara hermeneutik berguna untuk menjelaskan apa sesungguhnya yang
dimaksudkan oleh seseorang. Hermeneutik akan memilah-milah
pengertian yang dilekatkan kepada “tanda-tanda” yang dipakai, tanpa harus
menjelaskan apa sesungguhnya yang ada di pikirannya. Pada akhirnya
ditemukanlah dua jenis kebenaran, kebenaran hermeneutik yang diperoleh
melalui apa yang dimaksud, serta kebenaran logis yang diperoleh melalui
pembuktian apakah benar atau salah.
Cara
ini sekaligus memisahkan hermeneutik dari sisi makna religiusnya.
Pengertian hermeneutik pada akhirnya menjadi lebih umum, karena pada saat
terdapat usaha untuk memilah-milah makna maka hermeneutik akan
berperan. Tentu saja makna hanya ditemukan dalam bahasa dan kesimpulan
semacam ini membuktikan betapa signifikan dan tajamnya pengertian umum istilah hermeneutik
yang berarti “memaksudkan sesuatu” di dalam masyarakat Yunani kuno.
Dari
pengertian ini, sampailah pada penelusuran pengertian kata hermeneia dan
hermeneus. Hermeneia atau kalimat yang diucapkan adalah
pengalihan “apa yang dimaksud” pada level pikiran ke dalam media bahasa.
Bahasa yang diucapkan adalah pikiran yang diucapkan, sebuah penerjemahan atau
sebuah penafsiran pikiran ke dalam bahasa. Hal inilah yang menyebabkan
bahasa Latin dalam fleksibilitasnya yang tinggi menerjemahkan hermeneia
dengan interpretation. Walaupun demikian hermeneia juga
dapat berarti gaya (style). Hal ini terlihat dalam tulisan
Aristoteles yang berjudul Peri Hermeneia. Penyebab bahasa Yunani
kuno menggunakan kata yang sama untuk menyatakan karakter bahasa, pernyataan
dan gaya sudah cukup jelas, sebab gaya tidak lain adalah metode untuk
memaksudkan dan menyampaikan mekna kepada orang lain. Bahkan bahasa
sendiri sebenarnya adalah sebuah gaya, karena bahasa menjadi sarana untuk
memberikan pengertian kepada orang lain. Pada akhirnya, hermeneia
memiliki tiga fungsi sekaligus yaitu: memaksudkan sesuatu lewat bahasa,
menerjemahkan pikiran ke dalam ekspresi dan membuat orang lain menjadi paham.
Lingkungan
Yahudi
Ilmu
Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar
tahun 1567 AD. Namun demikian prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah
dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa Israel.
Hermeneutik Yahudi
- Pusat Ibadah Yahudi.
Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra
(457 SM), pada waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah pembuangan.
Pusat ibadah orang Yahudi dahulu adalah Yerusalem dimana mereka beribadah
dengan mempersembahkan korban di Bait Suci. Tetapi karena di tanah
pembuangan mereka tidak mungkin beribadah ke Yerusalem, maka mereka
menciptakan pusat ibadah baru, yaitu dengan menggiatkan kembali
pengajaran dari Kitab-kitab Taurat. Pengajaran Taurat itu menjadi sumber
penghiburan dan kekuatan yang sangat berharga untuk mempertahankan diri
dari pengaruh kafir di tanah pembuangan.
Usaha
pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok para imam adalah
menghilangkan gap bahasa yaitu dengan menterjemahkan Kitab-kitab Taurat
itu ke dalam bahasa Aram, karena orang-orang Yahudi di pembuangan tidak lagi
bisa berbahasa Ibrani. Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu exposisi
karena mereka juga harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka
terjemahkan itu, khususnya tentang pelaksanaan hukum-hukum Taurat. Karena
sumbangannya yang besar itulah Ezra disebut sebagai Bapak Hermeneutik
Pertama. (Ne 8:1-8 Ezr 8:15-20)
- Tempat Ibadah Sinagoge.
Untuk menunjang pemulihan kembali pengajaran kitab-kitab Taurat,
didirikanlah sinagoge di tanah pembuangan untuk menggantikan tempat ibadah
Bait Suci (Yerusalem). Fungsi utama sinagoge adalah sebagai tempat
orang-orang Yahudi berkumpul menaikkan doa-doa, membaca Taurat dan
mempelajarinya dengan teliti, juga sekaligus menjadi tempat mereka
memelihara tradisi Yahudi dan melakukan kegiatan sosial lainnya.
Sinagoge
Agung adalah
kelompok para ahli-ahli Kitab jaman itu yang terdiri dari 120 anggota, dibentuk
oleh Ezra sepulangnya mereka kembali ke Palestina. Tugas utama kelompok ini
adalah menafsirkan kitab-kitab Taurat. (Ne 8:9-13) Oleh karena itu bisa
dikatakan inilah sekolah menafsir yang pertama didirikan.
Setelah
semakin banyak orang-orang Yahudi akhirnya diijinkan pulang kembali ke tanah
Palestina, tradisi mempelajari Taurat dan memelihara tradisi Yahudi ini tetap
dibawa ke tanah air mereka dan sinagoge lokal pun mulai didirikan di
tempat-tempat dimana mereka tinggal (meskipun Bait Suci sudah dibangun kembali).
Itu sebabnya pada jaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul kita menjumpai banyak
sinagoge di kota-kota di Israel, yang dipimpin oleh seorang yang disebut
“kepala rumah ibadah”. (Mrk. 5:22; Luk. 13:14; Kis. 13:5-14:1)
- Sekolah-Sekolah Menafsir Yahudi. Melihat
pentingnya mempelajari kitab-kitab, maka dalam perkembangan selanjutnya,
(setelah Ezra dan Nehemia mati), bermunculanlah sekolah-sekolah menafsir
formal, diantaranya:
- Sekolah Yahudi Palestina. Sekolah ini mengikuti tradisi
yang dipakai oleh Ezra dalam menafsir kitab-kitab Taurat, yaitu
menekankan metode penafsiran literal. Mereka menerima otoritas mutlak
Firman Allah, dan tujuan utama mereka adalah menginterpretasikan
Hukum-Hukum Taurat. Hasil penafsiran mereka ini kemudian bercampur dengan
tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman itu, sehingga tulisan ini
dikemudian hari dikenal dengan nama “Tradisi Lisan” (the Oral
Law). Tetapi sayang sekali bahwa tradisi lisan ini akhirnya diberikan
otoritas yang sejajar yang dengan tulisan Kitab-kitab Taurat.
Pada
abad 2 Masehi dikumpulkanlah seluruh Tradisi Lisan yang pernah ditulis yang
disebut “Mishna” yang artinya “doktrin lisan dan pengajarannya”. Dalam
Mishna ini terdapat dua macam tafsiran:
- HalakahPenafsiran (eksegesis) resmi terhadap hukum-hukum dalam kitab-kitab Taurat yang bersifat sangat legalistik, dengan memperhatikan sampai ke titik dan komanya.
- HagadahPenafsiran seluruh Alkitab PL, tetapi yang tidak berhubungan langsung dengan hukum, yang tujuannya adalah untuk kesalehan kehidupan beragama.
Perkembangan
selanjutnya adalah para ahli kitab membuat buku tafsiran dari buku Mishna, yang
disebut Gemara. Kedua buku Mishna dan Gemara, inilah yang akhirnya
membentuk buku (kitab) Talmud.
- Sekolah Yahudi Aleksandria. Didirikan oleh kelompok
masyarakat Yahudi yang sudah tercampur dengan budaya dan pikiran Yunani
(kaum Hellenis). Kerinduan mereka yang paling utama adalah
menterjemahkan kitab-kitab PL ke dalam bahasa Yunani Modern, sebagai
hasilnya adalah buku (kitab) Septuaginta. Penambahan kitab-kitab
Apokrifa dalam Septuaginta menunjukkan bahwa mereka menerima penafsiran
Hagadah dari sekolah Yahudi Palestina.
Namun
sayang sekali, karena pengaruh yang besar dari filsafat Yunani, orang Yahudi
mengalami kesulitan dalam menerapkan cara hidup sesuai dengan pengajaran
Taurat. Sebagai jalan keluar muncullah cara interpretasi alegoris yang
dipakai untuk menjembatani kedua cara hidup yang bertentangan itu.
Aristobulus (160 SM) dikenal sebagai penulis
Yahudi yang pertama menggunakan metode alegoris. Ia menyimpulkan bahwa filsafat
Yunani dapat ditemukan dalam kitab-kitab Taurat melalui penafsiran alegoris.
Philo (20-54 M) adalah penafsir Yahudi di
Aleksandria yang paling terkenal. Menurut prinsip menafsir yang dipakai oleh
Philo, penafsiran literal adalah untuk orang-orang yang belum dewasa karena
hanya melihat sebatas huruf-huruf yang kelihatan (tubuh); sedangkan penafsiran
alegoris adalah untuk mereka yang sudah dewasa, karena sanggup melihat arti
yang tersembunyi dari jiwa yang paling dalam (jiwa). Ia percaya bahwa
pada saat penulis PL menulis, sesungguhnya mereka dalam keadaan pasif dan tidak
menguasai diri. Satu contoh penafsiran alegori darinya adalah mengenai
empat sungai dalam Kejadian 2:10-14. Keempat sungai tersebut memiliki
arti tertentu: Pison, kebajikan dan kebijaksanaan; Gihon, keberanian; Tigris,
penguasaan diri; dan Efrat, keadilan. Beberapa prinsip tafsir yang
mengharusan perluanya tafsir alegoris bagi Philo adalah:
-
Jika arti harfiah menyatakan sesuatu yang tidak hormat kepada Allah
-
Jika suatu pernyataan tersebut bertentangan dengan pernyataan lain dalam
Alkitab
-
Jika suatu teks menyatakan dirinya secara alegori
-
Jika suatu ucapan diulang-ulang atau kata-kata digunakan secara berlebihan
-
Jika terjadi pengulangan sesuatu yang sudah diketahui
-
Jika suatu ungkapan berubah-ubah
-
Jika suatu sinonim dipakai
-
Jika terdapat kemungkinan permainan kata
-
Jika ada ketidak biasaan dalam angka atau masa dalam tata bahasa
-
Jika terdapat symbol
- Sekolah Kaum Karait. Kelompok dari sebuah sekte
Yahudi ini menolak otoritas buku-buku tradisi lisan dan juga metode
penafsiran Hagadah. Mereka lebih cenderung mengikuti metode penafsiran
literal, kecuali bila sifat dari kalimatnya tidak memungkinkan. Sebagai
akibatnya mereka menolak dengan tegas metode penafsiran alegoris.
Selain
sekolah-sekolah di atas, ada juga sekolah-sekolah lain yang kurang dikenal,
yaitu Kabalis, Yahudi Spanyol, Yahudi Perancis, Yahudi Modern.
Lingkungan
Apostolik
Mencakup
masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang
dipakai adalah metode penafsiran literal. Dengan inspirasi dari Roh
Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan Perjanjian Lama dengan
tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.
- Yesus Kristus, Penafsir
Sempurna. Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak
memberikan penafsiran kitab-kitab PL. (Yoh 5:39; Luk 24:27,44). Dengan
cara demikian Yesus telah membuka pikiran para murid untuk mengerti Firman
Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah Firman yang menjadi Manusia
(incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran Allah
dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap
penafsiran para ahli Taurat (mis: Mat. 15:1-9; Mrk. 7:1-7; Mat. 23:1-33;
22:29. Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus: Mat. 10:5,6;
12:1-4,15-21; 13:1-9; 18:23; 19:3-9; 21:42-44; 22:41-46; 24:36-39; Luk.
11:29,30; 21:20-24 24:27-44.
- Para Rasul, Penulis-Penulis
Yang Mendapatkan Inspirasi Dari Allah. Mereka adalah contoh
penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan
inspirasi yang Allah berikan kepada mereka tanpa salah. Mereka menolak
prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisi-tradisi dan
dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang
mengambil alih kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah
menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini menjadi contoh yang sangat
berguna bagi para penafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh
prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: Rom. 3:1-23;
9:6-13; Gal. 3:1-29; 4:21-31; 1 Kor. 9:9-12; 10:1-11; Ibr. 6:20-7:21;
8-8-12; 10:1-14,37-11:40; 1 Pet. 2:4-10; 2 Pet 3:1-13
Lingkungan
Bapak-bapak Gereja
Masa
periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600
M). Pembagian masa-masanya adalah sbb.:
- 95 – 202 M. Tidak ada
banyak catatan mengenai perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa
itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja terlalu sibuk mempertahanan
doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat
itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang
sehat. Sebagai akibatnya beberapa dari mereka jatuh pada penggunaan metode
alegoris dalam penafsiran mereka, seperti Barnabas dan Justin Martyr.
- 202 – 325 M. Pada
permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi oleh Sekolah
Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara
agama Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa
orang-orang Yahudi menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem
penafsiran yang sudah sangat dikenal sebelumnya. Ketika kekristenan
tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak mungkin
dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan
penafsiran alegoris karena seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam
dari pada arti harafiah.
Bapak
Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan
Origen. Tetapi meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot
yang kuat dalam penafsiran alegoris.
Origen
adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar
tapi juga ahli kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode
penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab memberikan 3 arti, sama halnya manusia
dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai
arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya
Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.
- 325 – 600 M. Pengaruh
besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya terhadap Sekolah
Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran
mereka dapat diringkaskan sebagai berikut.: ilmiah, menggunakan prinsip
literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris mereka memakai metode
tipologi.
Tokoh-tokoh
Sekolah Antiokia adalah: Diodorus dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia dan
Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab,
tapi menerima prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah.
Selama
abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi
Gereja Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.
- Gereja Bagian TimurTokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga alegoris), Basil dari Caeserea (literal), Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan historis).
- Gereja Bagian BaratTokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan secara alegoris), Ambrose (alegoris ektrim), Jerome (sumbangannya terbesar adalah menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgate. Secara teori ia mengikuti penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan. Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab. Tugas penafsir adalah menemukan kebenaran Alkitab bukan memberi arti kepada Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).
Hermeneutik Abad Pertengahan
Masa
periode tahun 600 – 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan,
yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap
karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya melanjutkan tradisi yang
sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi
gereja. Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi
otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan sebagai pengesahan akan apa yang
dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja kadang
mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.
Alkitab
lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi
pengajaran-pengajaran yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris
menjadi paling dominan.
Dua
tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah:
- Thomas Aquinas. Meskipun
ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan
penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab
memegang otoritas tertinggi.
- John Wycliffe. Ia sering
disebut sebagai “Bintang Fajar Reformasi” karena kegigihannya menyerang
pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas
Alkitab. Karena keyakinannya itulah ia terdorong untuk menterjemahkan
Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga setiap orang
bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.
Menjelang
berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya
belajar bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan
dicetaknya Alkitab, maka kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan
lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa otoritas Alkitab lebih tinggi dari
pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya Reformasi.
Hermeneutik Reformasi
Periode
ini terjadi pada tahun 1517 – 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan
95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.
- Perjuangan reformasi. Dengan
bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang
memperjuangkan “sola scriptura” (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi.
Secara umum isi perjuangan Reformasi adalah sbb.:
- Alkitab adalah Firman Allah
yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.
- Alkitab harus dipelajari dalam
bahasa aslinya.
- Alkitab adalah satu-satunya
otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.
- Alkitab adalah otoritas
tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.
- Gereja harus tunduk pada otoritas
kebenaran Alkitab.
- Alkitab harus
diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.
- Semua pemahaman dan ekposisi
Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran Alkitab.
- Tokoh reformasi.
- Martin Luther. 95 tesisnya merupakan
serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja. Martin percaya penuh
bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan
orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa
German supaya rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.
Prinsip
penafsiran Martin Luther:
- Untuk menafsir dengan benar
harus ada penerangan dari Roh Kudus.
- Alkitab adalah otoritas
tertinggi bukan gereja.
- Penafsir harus memberi
perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah. Penafsiran
alegoris tidak berlaku.
- Alkitab adalah jelas sehingga
orang percaya pasti dapat menafsirkannya.
- Fungsi menafsir Alkitab
adalah sentralitas dalam Kristus.
- Hukum Taurat menghukum
(mengikat), tetapi Injil membebaskan.
- John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir
ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang penafsiran alegoris,
tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin
tidak memaksakan pada penafsiran yang berpusatkan pada Kristus.
Prinsip
penafsiran John Calvin:
- Roh Kudus adalah vital dalam
pekerjaan penafsiran.
- Alkitab akan menafsirkan
Alkitab.
- Penafsiran harus literal;
penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis
Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan
studi kata dan memeriksa tata bahasa.
- Menolak penafsiran alegoris.
- Menolak otoritas gereja dalam
menginterpretasikan Alkitab.
- Teologia yang benar harus
dihasilkan dari eksegesis yang sehat.
Setelah
kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo
doktrin iman Kristen dan mensistematiskan teologianya. Tapi perdebatan dalam
masalah penafsiran terus berlangsung sampai pada masa berikutnya.
Hermeneutik Paska-Reformasi
Periode
ini adalah antara tahun 1600 – 1800 M. Periode ini dipenuhi dengan semangat
penafsiran literal Reformasi, tetapi akhir periode ini ditutup dengan penekanan
pada metode penafsiran devotional.
- Sesudah reformasi. Terjadi
banyak kontroversi dan perdebatan teologia yang akhirnya menjadi kepahitan
di antara para teolog dan mulai terjadi perpecahan. Dogmatisme
mulai meracuni gereja. Studi Alkitab akhirnya hanya dipakai untuk
membenarkan dogma dan teologia mereka sendiri.
- Gerakan peitisme. Gerakan ini
muncul sebagai reaksi Dogmatisme paska Reformasi, karena Alkitab telah
disalah gunakan sebagai pedang yang melukai dan merusak kemurnian hidup
rohani. Oleh karena itu mereka melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu
mempelajari Alkitab dan menafsirkannya secara pribadi untuk tujuan
memperkaya aplikasi kehidupan rohani. Meskipun motivasi ini baik, tetapi
berakibat negatif karena membuat tujuan penafsiran bukan lagi untuk
mengetahui apa yang Allah ingin kita ketahui, tapi hanya untuk mempererat
hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai hasilnya muncullah
kelompok-kelompok seperti Moravian, Puritan dan Quaker. Tokoh-tokoh
gerakan Pietisme ini adalah:
- Philipp Jakob Spener – Bapak Pietisme. Ia percaya
bahwa kemurnian hati lebih berharga daripada kemurnian doktrin. Ia
mendorong setiap orang percaya untuk mempelajari sendiri Firman Allah dan
mengaplikasikan kebenarannya dalam kehidupan praktis.
- August Hermann Francke. Sebagai murid Spener, ia juga
mengikuti prinsip-prinsip Pietisme. Menurutnya hanya orang Kristen lahir
baru yang dapat mengerti arti berita Alkitab. Ia juga mengkombinasikan
antara eksegesis dengan pengalaman. Tetapi segi negatif dari gerakan ini
muncul yaitu menjadi tindakan legalistik terhadap mereka yang bukan
anggota Pietisme dan mengabaikan teologia.
- Kritisisme.
Melihat kelemahan Pietisme dengan metode perenungan, banyak
teolog mulai melakukan pendekatan skolastis studi Alkitab. Banyak usaha
dilakukan dalam bidang kritik teks. Naskah-naskah Alkitab mulai
dievaluasi dan diteliti untuk pertama kalinya untuk mengetahui
keabsahannya sebagai kitab Kanon. Tokoh yang terkenal adalah Johann
August Ernesti.
- Rasionalisme. Dari
Kritisisme para teolog melanjutkan lebih jauh sampai melampaui batas yang
seharusnya, yaitu mereka menempatkan rasio manusia sebagai otoritas yang
lebih tinggi dari Alkitab. Rasio manusia, tanpa campur tangan Allah,
dianggap cukup untuk mengetahui Penyataan Allah. Apabila ada hal yang
tidak dapat dimengerti oleh intelek manusia, maka harus dibuang. Sebagai
akibatnya mereka berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena ditulis oleh
manusia. Mereka memperlakukan Alkitab tidak jauh berbeda seperti
buku-buku yang lain. Dua tokoh terkenal Rasionalisme adalah Hobbes,
Spinoza dan Semler. Tafsir ini mencapai puncaknya pada abad 19,
sehingga Alkitab tidak lagi dipandang sebagai kitab yang berotoritas.
- Alkitab harus diukur dengan
metode akademis modern dan moral manusia modern. Dengan demikian
ajaran tentang surga dan neraka, dan catatan tentang mujizat harus
ditolak. Bahkan, bahan-bahan tertentu yang rupanya salah disusun
oleh penulis Alkitab, sebaiknya disusun kembali.
- Mereka memberi definisi baru
bagi ilham atau wahyu. Ilham adalah kekuatan yang menstimulir
pengalaman agama; wahyu adalah penemuan manusia akan kebenaran
agama. Yang menjadi patokan dalam menafsir Alkitab adalah
semangat/jiwa Yesus atau pengalaman agama. Teologi adalah hasil
dan tanda dari pengalaman agama, sedangkan pengalaman agama tidak dapat
diungkapkan komplit dengan bahasa
- Hal supranatural diartikan
sebagai sesuatu yang melampaui hal yang bersifat materiil, misalnya
etika. Ini berlainan dengan golongan orthodox yang melihat hal
supranatural terjadi karena perintah Allah, atau sesuatu yang tidak
dapat dimengerti oleh pikiran manusia.
- Mempergunakan teori evolusi
atas agama dan dokumen agama tersebut. Metode Adolf van Harnack
menegaskan bahwa Tuhan Yesus adalah hanya seorang baik, tetapi teologi
Kristen dan pikiran Yunanilah yang melukiskan-Nya sebagai manusia –
Allah. Tugas penafsiran adalah melepaskan Alkitab dari teologi dan
filsafat ini.
- Penulis-penulis Alkitab hanya
mempergunakan konsep-konsep, cara-cara penyampaian yang terdapat pada
zaman mereka. Konsep-konsep demikian tidak berlaku untuk manusia modern.
- Karena begitu
menitik-beratkan metode sejarah untuk menafsir Alkitab, sehingga mereka
berpendapat bahwa agama terus berkembang, dan Alkitab sering ‘meminjam’
dari atau berbaur dengan konsep-konsep agama lain. Disamping ini,
karena mereka begitu menekankan makna suatu nubuat bagi pendengar zaman
tersebut, sehingga nubuat tidak bersifat memberitahukan sesuatu yang
belum terjadi. Nubuat tidak lebih dari berita yang dapat
dimengerti dengan penuh oleh pendengar zaman itu.
- Penafsiran mereka sangat
dipengaruhi oleh pikiran-pikiran filsafat. Dari Kant, mereka
mempelajari bahwa rasio tidak dapat membuktikan atau menyangkal
keberadaan Allah. Intisari agama adalah tekad moral atau
etika. Dari Deisme, mereka mengambil ide tentang penyangkalan
campur tangan Allah, teologi alamiah, penolakan mujizat. Pengaruh
filsafat George Wilhelm Friederich Hegel mengenai pandangan ide absolut
dan logika dialektika juga memberikan pengaruh besar. Idealism
absolute dari Hegel telah menggantikan sifat Allah yang diluar pengertian
manusia (transcendence) dengan sifat Allah yang menyatakan
diri-Nya melalui ruang dan waktu. Hegel juga mengajarkan bahwa
yang nyata adalah yang rasionil dan yang rasionil adalah yang
nyata. logika dialektika mulai dengan suatu thesis yang mengarah
kepada antithesis, dan kemudian melahirkan sintesis yang berada pada
tingkat yang lebih baru dan lebih tinggi.
Beberapa
tokoh yang penting dipelajari adalah:
- Ferdinand Christian Baur (1792
– 1860)
- Julius Wellhausen (1844 – 1918)
- Friedrich Daniel Ernst Schleimacher
(1768 – 1834)
- David Friedrich Strauss (1808 –
1874)
- J. C. K Von Hafmann (1810 –
1877)
Lingkungan
Filsafat
Zaman
Abad Pertengahan
Hermeneutik menjadi popular dan baku
pada abad ke 17 sebagai sebuah disiplin ilmu untuk menafsirkan Alkitab.
Penggunaannya secara khusus dalam theologia merupakan klimaks dari
penentangan terhadap Katolik sebagai pemegang status quo dengan
Protestan sebagai pembawa gerbong pembaharuan (reformasi). Sebagai
pemegang status quo, Katolik tetap berpegang pada tradisi-tradisi dan otoritas sacral
dalam menafsirkan Alkitab.
Dipihak
lain, Luther tidak dapat menerima hal tersebut. Baginya, “kepala
memang sama berambut, namun dalam berpendapat tentang Alkitab tentu saja akan
berbeda-beda”. Manusia yang memiliki iman dan mau membaca Alkitablah
yang berhak menafsirkan kandungan di dalamnya. Inilah sola scriptura.
Walaupun Luther sendiri memang tidak pernah memberikan rumusan tentang hermeneutik.
Justru St. Agustinuslah dalam De Doctrina Christiana yang membuat
paparan panjang lebar secara teoritis mengenai konsep penting hermeneutik
dalam hubungannya dengan bahasa dan pikiran manusia melalui konsep inkarnasi
dalam tubuh Kristen. Konsep penting tersebut adalah actus signatus dan
actus exercitus. Kedua konsep ini lahir dari dua macam “kata”
(Ing: word dan Lat: verbum), yaitu kata yang diucapkan (verbum
exterius/logos proforikos) dan kata yang ada dalam pikiran (verbum
interius/logos endiathethos).
Pada
saat seseorang mengucapkan sebuah kata (verbum exterius), maka pada saat
itu ia bertindak memberikan tanda-tanda (actus signatus) terhadap apa
yang dimaksudkan dalam pikirannya. Buah pikiran yang ada dalam pikirannya
terbentuk dari kata-kata batiniah (verbum interius). Kata-kata
batiniah ini bentuknya sangat abstrak dan hanya bisa dipahami dalam konteks
yang juga bersifat batiniah, ketika ingin diungkapkan keluar melalui ucapan
maka yang diplih adalah kata-kata jasmani (verbum exterius) dan tindakan
ini disebut actus signatus.
Menurut
Agustinus, proses memilih kata-kata bathin kemudian mengungkapkannya disebut
dengan actus exercitus. Hermeneutik sudah terjadi ketika
diri sendiri berusaha menerjemahkan kata-kata bathin ke dalam kata-kata
jasmani. Sama halnya pada saat orang lain sebagai pendengar berusaha
mengerti apa sesunguhnya yang dimaksud oleh pembicara/penulis lewat verbum
exterius-nya, ia harus berusaha sampai kepada verbum interius dengan
melakukan actus exercitus.
Sumbangan
penting dari Agustinus dalam perjalanan hermeneutik adalah menetapkan
makna hanya pada pernyatan. Ia menghubungkan konsep inkarnasi dengan
teori linguistic-nya dan memberikan pembuktian bahwa yang dinyatakan
dalam pernyataan adalah “lautan” makna yang tak terbatas, verbum cortis.
Artinya pemahaman tidaklah ditemukan hanya dari pernyataan yang disampaikan
oleh pembicara atau penulis, walaupun itu telah melewati proses penalaran yang
logis. Sebab logika yang hanya berpegang pada pernyataan (logos), serta
merta melupakan ada (being) dan bahasa.
Zaman
Modern
Dari
penelusuran zaman di atas, ternyata hermeneutik memiliki perbedaan dari
masa ke masa sesuai dengan konteks keberadaannya. Hal ini dinyatakan oleh
Paul Ricoeur dengan sebutan hermeneutik regional. Artinya hermeneutik
yang baru berada pada satu wilayah tertentu, seperti teks keagamaan, teks pada
umumnya, atau hanya persoalan dialog tatap muka dan hal-hal retorika
belaka. Hal ini menyebabkan munculnya dua gerakan dalam hermeneutik.
Pertama, gerakan yang berupaya mengangkat hermeneutik regional menjadi hermeneutik
universal. Kedua, de-regionalisasi yang memberikan
status epistemologis yang sama dengan ilmu-ilmu alam dan kemudian
mengangkatnya ke level ontologism. Upaya ini adalah usaha untuk
mendudukan hermeneutik bukan terbatas pada cara mengetahui, akan
tetapi sebagai cara mengada. Gerakan ini disebut radikalisasi,
sehingga hermeneutik tidak hanya bersifat umum tetapi juga sekaligus fundamental.
Beberapa tokoh diantaranya adalah:
Friedrich
Schleiermacher
Ia
adalah tokoh yang pertama kali memunculkan istilah de-regionalisasi,
yang utamanya bertujuan mengekstrak suatu persoalan umum dari aktivitas
interpretasi yang berbeda-beda. Ia hidup pada zaman yang memiliki
corak interpretasi ganda, yaitu interpretasi atas teks-teks klasik
(Yunani – Latin) dan tafsir atas Alkitab.
Ia
berupaya memberi jalan agar interpretasi filologi dan interpretasi
biblical sampai pada tingkatan seni tafsir, menjadi sebuah teknologi yang
bukan hanya sekedar kumpulan tata cara dan kaidah yang tidak saling
berkaitan. Semangat yang sama juga sejalan dengan upaya Kant dalam
tulisannya Critique of Pure Reason. Didalamnya ia menganggap bahwa
cara dan kapasitas mengetahui mesti dipertanyakan dahulu sebelum hakekat segala
sesuatu dihadapi dan diselidiki secara metafisis. Saperti
Schleiermacher yang menekankan usahanya pada bagaimana cara dan kemampuan serta
hakekat interpretasi dari pada mempersoalkan benar atau tidaknya sesuatu.
Sedari
dulu dipahami bahwa dalam proses hermeneutik sangatlah memungkinkan
untuk terjadi kesalahpahaman, yang oleh para teoritikus dan filologis dianggap
sebagai momok, tetapi oleh Schleiermacher diangap sebagai sebuah syarat
mencapai pemahaman. Dalam hubungannya dengan peluang kesalahpahaman,
Schleiermacher mengelompokkan hermeneutik menjadi hermeneutik longgar
dan hermeneutik ketat.
Hermeneutik
longgar adalah
pengandaian dalam tindak menafsir pemahaman muncul secara otomatis; sebaliknya,
hermeneutik ketat pengandaian yang muncul secara otomatis adalah
kesalahpahaman. Temuan Schleiermacher ini menyatakan bahwa kesalahpahaman
bukanlah factor x yang berpeluang terjadi, namun ia adalah bagian
integral dari kemungkinan interpretasi, yang oleh karenanya ia harus diawasi
dan disingkirkan.
Baginya,
tugas dari hermeneutik adalah mengisolasi proses pemahaman sehingga
muncul metode hermenetik yang independen. Dari prinsipnya
ini, ia telah memisahkan diri dengan metode hermeneutik sebelumnya yang
hanya berpijak pada penelaan bahasa asing atau teks-teks tertulis. Jenis hermeneutik
lama ini, yang juga disebut interpretasi objektif menggunakan bahasa
umum/bersama dengan tidak mengindahkan pengarang. Ketika makna dari sebuah
kata sudah ditemukan – entahkan seperti maksud dari pengarang – maka selesai
sudah tugas dari hermeneutik. Disisi lain, interpretasi jenis ini
juga bernilai negative, sebab penentuan maknanya hanyalah berdasarkan istilah
bahasa atau kata yang digunakan. Bagi Schleiermacher sasaran dari
interpretasi adalah subjektivitas dari pembicara atau pengarang, sedangkan
bahasa dapat saja diabaikan pengertiannya.
Hal
inilah yang menyebabkan Schleiermacher selain memberi perhatian pada pentingnya
interpretasi gramatikal juga pada interpretasi psikologis. Interpretasi
psikologis adalah uapaya menempatkan kepala interpreter ke dalam
kepala pengarang, berusaha melacak asal usul nilai batiniah dari setiap
ungkapannya. Usaha interpretasi psikologis tentu saja tidak dapat
mengabaikan aspek ramalan atau tebakan terhadap maksud sesungguhnya dari
pengarang. Inilah titik tersulitnya, sebab interpreter tentu saja
sangat sulit menemukan sisi subjektivitas yang komprehensif dari pengarang jika
ia tidak berusaha mengaitkannya dengan hal-hal lain disekitar pengarang.
Subjektivitas
yang komprehensif dari pengarang barulah dicapai apabila ia dibandingkan (to
be campared) dan diperhadapkan (to be contrasted) dengan orang-orang
semasanya. Kebuntuan di atas hanyalah bisa teratasi melalui upaya
mengklarifikasi hubungan karya tersebut dengan subjektivitas pengarang dan
dengan mengalihkan arah interpretasi empatik terhadap subjektivitas
pengarang menuju pengertian dan rujukan dari karya itu sendiri. Inilah
sumbangan penting dari Schleiermacher terhadap dunia hermeneutik.
Wilhelm
Dilthey
Masalah
kebuntuan hermeneutik dalam pengungkapan makna secara komprehensif juga
menjadi perhatian dari Dilthey. Ia telah menjadi titik klimaks
keuniversalan yang selama ini dicita-citakan oleh de-regionalisasi
persoalan-persoalan hermeneutik. Beranjak dari hal ini, ia
mempersiapkan jalan bagi tergantikannya epistemology oleh ontology
dalam hermeneutik. Dengan demikian dimulailah babak baru
radikalisasi yang menggantikan de-regionalisasi.
Ia
sudah ada dalam perjuangan dengan para pemikir hermeneutik sebelum
menggumuli masalah interpretasi regional ke ranah pengetahuan sejarah
yang lebih besar. Beberapa pemikir di zamannya antara lain:
Schleiermacher, L. Ranke dan J.D Drosen. Pemikir-pemikir jerman ini telah
memandang hermeneutik dalam realitas tertinggi bagi teks. Prinsip
kerja mereka adalah terlebih dahulu mempertanyakan persoalan keterpaduan
sejarah sebagai dokumen kemanusiaan yang besar sebelum mempersoalkan kepaduan
sebuah teks. Inilah ekspresi kehidupan fundamental bagi mereka.
Dalam
hal ini Dilthey terjebak pada dua peperangan. Pertama, dalam tugasnya
sebagai ahli hermeneutik dan sejarah, ia harus menentukan minat
menafsirkan teks-teks atau mengkaji keterkaitan historis yang melandasinya,
antara system yang diakronis dengan yang sinkronis. Kedua,
dalam semangat positivism ia harus memikirkan kemasukakalan
sejarah. Sehingga proyek besar yang dihadapi Dilthey adalah peran
penjelasan (explanation) akan alam dan pemahaman (understanding)
akan sejarah. Persoalan ini memberi dampak besar sekali lagi bagi hermeneutik,
sebab melalui persoalan ini hermeneutik menjadi terbagi-bagi antara
penjelasan menurut ilmu alam atau ranah intiuisi psikologisnya
Schleiermacher.
Untunglah
Dilthey tetap mengembalikan analisanya tentang manusia dalam kemanusiaan dan
melihat manusia sebagai individu. Tentu saja individu yang memiliki rasio
dan ego transcendental. Hal ini ia lakukan dalam keberadaannya
sebagai pengikut Kant. Dengan dasar ini dapat dilihat bahwa pijakan
Dilthey dalam membangun pemahamannya adalah dengan melihat manusia dari sudut
pandang psikologis. Manusia yang bertindak dalam komunitas masyarakat dan
sejarah. Pada akhirnya ia mengetengahkan prinsip kesaling terkaitan
dengan seluruh system kehidupan.
Konsep
kesaling terkaitan adalah buah pikir yang dipinjam Dilthey dari Husserl pada
tahun 1900 yang sebelumnya telah mengemukakan konsep intensionalitas.
Konsep intensionalitas adalah perangkat kesadaran untuk memaksudkan
suatu makna yang dapat dikenali. Sumbangan penting dari konsep ini
disebabkan oleh kehidupan mental yang tidak dapat dijajaki secara
langsung. Ia hanya dapat dikenali melalui apa yang dimaksudkan, lewat
kesaling terkaitan objektif dan melalui pengenalan akan wilayahnya.
Dalam
study Dilthey, hermeneutik mengalami pergeseran dari persoalan bagaimana
memasuki kepala pengarang atau orang lain menjadi bagaimana merekonstruksi
bentuk-bentuk yang jadi wadah bagi orang lain. Ia mereproduksi jejak
psikologis ke dalam wadah yang mengandung karakteristik benda materi, misalnya
teks atau monument/prasasti juga bahasa, walaupun tetap dalam semangat hermeneutik
psikologisnya Schleiermacher. Konsekuensi ini membawa Dilthey kembali
pada kajian filologis, sehingga ia pun menyatakan bahwa peran utama hermeneutik
adalah secara teoritis menetapkan validitas universal bagi interpretasi,
demi menghindari dorongan Romantisisme dan Subjektivisme Skeptis,
dimana validitas itu dapat menjadi landasan setiap kepastian sejarah.
Dari
konsep-komsep inilah Dilthey melakukan generalisasi bagi prinsip hermeneutik
dan lebih mendekatkannya dalam kehidupan manusia. Makna yang diperoleh,
nilai yang ada dan tujuan yang ada di masa depan merupakan alat untuk menyusun
ulang dinamika kehidupan melalui tiga dimensi waktu, masa lalu, masa kini dan
masa depan. Perbedaan antara hermeneutik psikologis dengan hermeneutik
eksegetikal terletak pada bagaimana membangun nilai objektif dari sebuah
kehidupan. Itulah sebabnya, ia memasukan hermeneutik kedalam wilayah
universal. Baginya, hermeneutik adalah pertemuan degan
pengetahuan sejarah universal, sebagai bentuk universalisasi individu.
Martin
Heidegger
Dengan
menempuh jalan yang lain tujuan, Heidegger menjadi berbeda dengan
Dilthey. Baginya, pemahaman bukanlah bagian dari kapasitas pengetahuan
manusia, tetapi lebih kepada kondisi ontologis manusia yang paling
fundamental. Di bagian pembukaan dari bukunya yang berjudul Being and
Time, ia berpendapat tujuan atau apa yang dicari adalah motivasi yang kuat yang
mengarahkan hermeneutis dalam mengolah pertanyaannya. Dalam hal
ini sangat kuat perbedaan antara Heidegger dengan para pengikut Kant (neo-Kantian),
sebab teori pengerahuan barulah dapat dilaksanakan apabila sebelumnya telah
dilakukan penelitian yang berpusatkan pada cara atau jalan yang membawa pada
pertemuan dengan suatu “yang ada” (a being), terlebih sebelum
pengetahuan itu menghadapi “yang ada” sebagai sebuah objek yang dihadapi
subjek.
Sebaliknya,
bagi Heidegger, kendati menekankan signifikansi Dasein di dalam Being
and Time dan dalam karya-karyanya yang belakangan sebagai “kita sebagai yang
ada di sana,” namun Dasein itu bukanlah sebagai subjek yang
menghadapi objek, akan tetapi sebagai suatu “yang ada” (a being) di
dalam Ada (Being). Dasein adalah tempat dimana pertanyaan
tentang “yang ada” lahir, atau dengan kata lain, menjadi tempat terjadinya
pengejawantahan. Dasein menjadi sangat penting dalam pemikiran
Heidegger, karena ia sendiri adalah suatu “yang ada” yang memahami Ada-nya
sendiri.
Oleh
karena itu, struktur Dasein sebagai suatu “yang ada” mesti memiliki
pra-pemahaman ontologism tentang ada-nya. Dari sisi ontologis, dampak
dari analisis atas Dasein ini sangat nyata, karena aturan Dasein tidak
akan dikenali dengan cara derivasi dari prinsip yang lebih tinggi
sebagaimana nyata dalam tradisi metafisika barat sebelum Heidegger, bahwa
manusia sebagai ini atau itu, hakekatnya begini dan begitu, akan tetapi lewat
klarifikasi atau penjernihan atau penyingkapan.
Hal
penting dalam penafsiran adalah interpretasi terhadap berbagai model “yang ada”
dalam keberadaannya yang paling dasar. Menurut Heidegger, proses fundamentalisasi
ini telah berhasil dicontohkan Kant dalam Kritik atas Rasio Murni-nya,
sebab pendekatan Kant disitu mencoba mengincar apa yang dimiliki oleh alam,
bukannya terletak pada teori pengetahuan. Logika transendentalnya adalah
logika a priori tentang ranah “yang ada” yang disebut alam.
Bagi
Heidegger, pemahaman bukanlah semata salah satu bentuk kapasitas kognitif
manusia, akan tetapi kemampuan paling dasar bagi manusia untuk hidup dan
menghayati dunianya. Pemahaman primer akan diperoleh manusia ketika ia
menginterpretasi dunianya menurut jalan atau cara dengan status filosofis yang
berbeda dengan apa yang berlangsung setiap harinya.
Dalam
usahanya untuk menemukan makna suatu kebenaran, Heidegger membaginya atas dua
prinsip. Pertama, kebenaran sebagai “kebertemuan”; kedua, kebenaran
sebagai “keterasingan”. Menurutnya, pemahaman bukanlah sekedar percakapan
tentang bagaimana menemukan pengiyaan (assertion) tentang dunia, tetapi
terletak pada keseluruhan penggalian terhadap cara mengada di dunia (mode in
being-in-the-world). Oleh karena itu, pemahaman tidak hanya sekedar
mengerti salah satu sisi dunia dengan menemukan fakta-fakta tertentu.
Lebih dari pada itu, pemahaman adalah proses ketersingkapan segala
kemungkinan-kemungkinan.
Pada
akhirnya, pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman dengan cara ini ini adalah
pengetahuan yang berbentuk know-how, yang lebih nyata bila dibandingkan
dengan know-that. Kemungkinan-kemungkinan dari pengetahuan semacam
ini menyebabkan manusia bukan lagi sibuk dengan urusan kebebasan memilih (libertas
indifferentiae), akan tetapi melibatkan sisi proyeksi. Bagi manusia,
untuk menjadi diri sendiri memerlukan interpretasi. Hal ini paling tidak
disebabkan oleh dua alasan. Pertama, seseorang tidak akan mampu menjadi
dirinya sendiri jika ia tidak menafsirkan siapa dirinya dan bagaimana agar ia
terus menjadi dirinya. Kedua, apa pun yang ia tafsirkan termasuk dirinya
sendiri, pada dasarnya juga merupakan sebuah interpretasi.
Dalam
Sistematika Teologi
Dari
tinjauan sejarah di atas, pada awalnya hermeneutik adalah bagian dari
disiplin ilmu. Setiap cabang atau disiplin ilmu memiliki hermeneutiknya
sendiri dalam menjelaskan dirinya. Paling tidak hermeneutik
digunakan dalam tiga aspek hidup. Pertama, sebagai sarana untuk
mengungkapkan wangsit dari dewa; Kedua, untuk merohanikan (allegorist)
sabda-sabda dan tulisan klasik yang telah dihasilkan sebelumnya; dan Ketiga,
menjadi sarana pembedahan ilmiah dari makna yang tersembunyi dari sebuah kata,
baik itu kata verbal maupun kata tulis.
Perjalanan
sejarah juga yang membawa dan menempatkan hermeneutik sebagai salah satu
disiplin ilmu yang berdiri sejajar dengan bidang ilmu lain. Tidak ada
lagi istilah hermeneutik dalam politik, hermeneutik dalam medis, hermeneutik
dalam religi, dll. Pada akhirnya hermeneutik menempati posisi yang
sejajar dengan bidang ilmu lain seperti politik, medis dan teologi.
Khusus
dalam kajian teologi, ia berdiri sejajar dengan disiplin ilmu teologi
lainnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa hermeneutik adalah bidang
ilmu dasar dalam rancang bangun teologi (dogmatika) dan rancang bangun praksis
(praktika). Jelas terlihat bahwa hermeneutik memiliki
kedudukan yang sama penting dengan bidang-bidang kajian teologi lainnya.
Ia tidak dapat di anak tirikan atau dianggap remeh, sekaligus tidak dapat
menjadi satu-satunya bidang yang disanjung sehingga meninggalkan kajian yang
lain. Artinya hermeneutik haruslah dipelajari sama seperti kajian
teologi lainnya, juga ia tidak dapat berdiri sendiri dalam usaha pembentangan
atau penyingkapan kebenaran Allah.
Dalam
Pekabaran Injil
Kekristenan
bertumbuh dari pemberitaan Injil. Dengan demikian keseluruhan kajian
teologi haruslah bermuara pada upaya pemberitaan Injil. Sama seperti
kajian teologi yang lain, hermeneutik juga memiliki peranan penting
dalam pekabaran Injil. Sebagai dasar pijakan, maka hermeneutik
juga memiliki peranan penting dalam memberikan arah perjalanan dan pertumbuhan
kekristenan. Selain itu, ia juga menjadi daya dorong dan daya gerak bagi
rancang bangun teologi yang bermuara pada tindakan nyata di dunia. Ia
menjadi dasar bangunan dogmatika untuk nantinya dijadikan pedoman dalam
membangun tingkah laku praktikal.
Lingkungan
Perkembangan Teologi
Hermeneutik Modern
Masa
periode ini adalah tahun 1800 – sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah
dilakukan masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu
penekanan terus bergeser dari satu ekstrim kepada ekstrim yang lain. Dalam era
modern ini serangan yang paling tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab,
sebagai fondasi dalam menafsir. Sebagai contohnya:
- Liberalisme. Rasionalisme
telah membuka era modern untuk lahirnya Liberalisme. Secara umum
diringkaskan pendekatan mereka adalah:
- Hal-hal yang tidak dapat
diterima oleh rasio harus ditolak.
- Inspirasi didefinisikan ulang,
yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia (penulis
Alkitab).
- Supranatural diartikan sebagai
alam pikiran abstrak manusia.
- Sesuai dengan pikiran evolusi,
maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan dengan pikiran
teologis modern.
- Menjunjung tinggi nilai etika,
tapi menolak tafsiran teologianya.
- Alkitab harus ditafsirkan
secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab sendiri.
- Neo Ortodoks. Karl
Barth tidak mau disebut sebagai penganut Liberalisme, ia tetap ingin
mencari kembali inti-inti Teologia Reformasi. Dalam pendekatannya Karl
Barth menolak baik inspirasi maupun ketidakbersalahan Alkitab karena
menurut Barth, Penyataan/Firman Allah baru akan terjadi apabila ada
pertemuan antara Allah dan manusia dalam Alkitab. Alkitab sendiri
bukanlah Firman Tuhan tetapi hanya saksi akan Firman Tuhan. Oleh karena
itu penafsiran Alkitab merupakan pekerjaan sia-sia kalau bukan Allah
sendiri yang bertemu dengan manusia.
- Konservatisme/injili. Gerakan
Konservatisme merupakan reaksi untuk melawan pikiran-pikiran modern.
Beberapa pendekatan mereka pada Alkitab adalah antara lain:
- Rasio harus ditaklukkan di
bawah otoritas Alkitab, karena rasio tidak cukup untuk menginterpretasi
Alkitab. Oleh karena itu Roh Kudus adalah vital untuk memberikan
penerangan supaya kita mengerti.
- Pendekatan penafsiran literal,
karena percaya pada ketidakbersalahan Alkitab.
- Percaya pada Penyataan yang
progresif, tetapi kebenaran tidaklah dibatasi oleh waktu sehingga berlaku
di sepanjang jaman.
- Golongan Dispensasi
- Golongan Fundamentalisme
- Golongan Moderat
- Golongan Alegori
- Hermeneutik Baru. Tokohnya adalah Rudolf
Bultman. Prinsip yang dipakai untuk menafsir adalah kita harus membaca
sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, karena manusia tidak boleh
mengabaikan intelektualitasnya. Otoritas Alkitab tidak diterima
sepenuhnya. Mereka bahkan meragukan apakah apa yang Alkitab katakan itu
sama dengan apa yang dituliskan. Tujuan utama Hermeneutik Baru
adalah mencoba menghindarkan diri dari kelemahan yang dimiliki
Liberalisme.
- Penasiran Sejarah Agama
- Penafsiran Permulaan ‘Jiwa
Universal’
- Penafsiran Sejarah Keselamatan
- Penafsiran Eskatologi
- Pelbagai Analisa
- Penafsiran Kontekstualisasi
- Penekanan pada tata bahasa dan
latar belakang



Komentar
Posting Komentar