Definisi istilah & posisi teologis (Essensi) Hermeneutika





 

 

Istilah hermeneutik (Yun, ‘ermeneutike) tidak berasal dari dalam kekristenan, namun dari istilah ini terjadilah reformasi kekristenan.  Secara sederhana hermeneutik berarti ilmu tafsir; tafsiran terhadap ungkapan tulisan.  Walaupun harus diakui bahwa beberapa unsur penting dengan sendirinya hilang, seperti: gaya bahasa, aksentuasi, mimik, dan suasana hati penulis.  Dengan demikian hermeneutik belumlah menjadi satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menyatakan nilai valid dari suatu data.

Hermeneutik dipakai secara luas dalam ilmu linguistic, sebab dari dalamnya paling tidak dapat ditemukan makna tersirat dari apa yang tersurat.  Termasuk juga dalam biblical study, hermeneutik memberikan sumbangan besar dalam menemukan prinsip sebenarnya yang tersembunyi dari dalam teks Alkitab.  Secara substansi, Alkitab adalah kebenaran Allah yang dalam prakteknya ditulis dengan melibatkan seluruh aspek kemanusiaan dari penulis dan konteksnya.  Tentu saja hermeneutik mencoba “membedah” kebenaran tersebut dari sudut pandang penulis awal yang coba dibahasakan kembali dalam konteks masa kini.

Pengertian Literal

Hermeneutik secara etimologi dipakai sebagai adjektiva (kata sifat) ketika mendefinisikan kata benda, yaitu sebagai ucapan yang utuh dan padu yang memaksudkan (meaning) apa yang diatributkan kepada sesuatu hal yang eksis dan segala sesuatu yang berkaitan dengan substansi hal tersebut.  Dari penelusuran ini terlihat jelas bahwa hermeneutik berarti “yang memaksudkan sesuatu” atau “yang menunjuk sesuatu”.

Dalam pemahaman semantic dengan kata hermeneia memiliki pengertian sebagai pemindahan atau penerjemahan pikiran ke dalam bahasa; juga berkaitan dengan kata techne yang berarti kemampuan atau seni tertentu.  Penelusuran ini menghasilkan pemahaman bahwa hermeneutik muncul juga dalam pengertian sebagai seni divinasi atau ramalan (mantike).

Lamb, menerjemahkan hermenutik dengan “interpretasi”, yang dimaksud disini adalah “interpretasi wangsit”.  Dengan perkataan lain, Lamb lebih melihat tugas hermeneutik dalam batasan menerjemahkan sabda-sabda dewa.  Artinya ia melihat hermeneutik sebagai wujud kemampuan meramal (mantike) dari dalam agama Yunani. Hal ini beriringan dengan sikap para pendeta-pendeta Yunani dalam meramalkan masa depan sambil menjadi abdi bicara sang dewa.  Tentu saja kekhususan ini membawa dampak pada pembatasan kerja hermeneutik hanya dalam bidang keagamaan, padahal hermeneutik seharusnya dapat dipakai secara luas sebagai ilmu tafsir terhadap disiplin ilmu lainnya.

Hermeneutik dalam kaitannya dengan fungsi, berguna untuk mempertunjukan (show), menjelaskan (make clear), dan menerangkan (the meaning of).  Dengan demikian, tugas dari hermeneutik adalah mempertunjukan, menjelaskan dan menerangkan makna kata tulis yang tersembunyi dari suatu sumber tulisan guna menemukan arti sebenarnya yang dimaksud oleh sumber.  Secara sederhana hermeneutik berarti seni atau ketrampilan menemukan arti kata ucap dibalik makna kata tulis, baik yang bersumber dari manusia ataupun dewa, dalam konteks masa lalu, kini maupun ramalan.

Pengertian Teologis

Sebagai bagian dari disiplin ilmu menuntut hermeneutik untuk bersifat netral dan umum dipakai oleh semua bidang penelitian, termasuk teologi.  Dunia teologi tidak dapat dipisahkan dari hermeneutik, sebab melalui hermeneutiklah suatu kajian terhadap kebenaran ditemukan dan diimplementasikan secara nyata dalam perjumpaan antara Tuhan dengan umat.  Mengingat tugas penting dari hermeneutik, maka sudah seharusnya ia menjadi salah satu bidang favorit dari para seminarian.

Hermeneutik menjadi jembatan antara dari Alkitab sebagai sumber kebenaran tentang Allah dengan tindakan mengaktualisasikan kebenaran.  Tidak jarang perilaku atau ajaran yang menyimpang terjadi sebagai hasil dari tafsiran atau interpretasi yang menyimpang.  Sejarah gereja telah memberikan bukti kesalahan tafsir dari tokoh-tokohnya, yang berakibat munculnya ajaran-ajaran yang keliru.  Tidak selesai disitu, tidak jarang gereja mengalami perpecahan karena adanya perbedaan cara pandang dalam melihat Alkitab.

Dalam diktat Metode Mempelajari Alkitab Permulaan (MMAP) dijelaskan bahwa, hermeneutik adalah langkah-langkah sistematis dalam menyibakkan atau membukakan kebenaran Allah melalui frame tertentu.  Frame tersebut adalah konteks, gramatikal, literal, tujuan penulis dan sistematika dari keseluruhan kitab dalam Alkitab.  Pada akhirnya sifat its sui ipsius interpress dari Alkitab akan terpelihara.

 

Pengertian Praktikal

Sudah disebutkan di atas bahwa hermeneutik  adalah “jembatan antara”.  Dua sisi yang menjadi pijakan dari hermeneutik adalah pijakan dogmatis dan pijakan praksis.  Artinya Alkitab adalah satu-satunya sumber yang diijinkan Allah sehingga menusia dapat mengenal dan mengetahui kebenaran, sekaligus dari Alkitab jugalah manusia memperoleh cara atau pola hidup yang bersesuaian dengan kebenaran Allah.  Alkitab memiliki nilai kebenaran mutlak (K) tentang Allah dan untuk menyingkapkannya haruslah dengan “membongkar” semua makna, symbol, tanda-tanda, ungkapan, istilah bahkan frase yang ada di dalamnya.

Permasalahannya adalah apa yang seharusnya dibongkar di atas telah tercatat dalam Alkitab yang kurun waktu “pengumpulannya” kurang lebih 1500 tahun dengan jumlah penulis kurang lebih 40 orang.  Jadilah Alkitab sebagai karya Allah yang memenuhi unsur-unsur budaya, konteks, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pola, serta masa tertentu harus di hadirkan kembali secara sederhana baik dalam budaya, konteks, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pola serta masa yang lain.

Demikianlah seharusnya fungsi dari hermeneutik diletakkan.  Baik dalam upaya menelaah Alkitab sebagai rancang bangun teologi maupun menggunakan Alkitab sebagai pedoman hidup praksis dihadapan Allah yang kepadanya hidup akan dipertanggung jawabkan.

Hermeneutik an sich

Lingkungan Non-Yahudi:

Istilah hermeneutik justru pada awalnya diperkenalkan secara luas di Eropa dalam kebudayaannya dengan bahasa Latin oleh Johann Dannhauer sebagai teolog kota Strasbourg.  Ia menggunakan hermeneutik dalam fungsi menemukan kevalidan dari disiplin-disiplin ilmu yang bersumber dari data teks.  Pemahamannya merupakan bagian dari semangat renaissance untuk kembali menemukan kebenaran melalui penelusuran terhadap teks-teks kuno.  Sepertinya sumber ini diilhami oleh tulisan Aristoteles dalam bukunya Peri Hermeneias.

Dipihak lain, Wilhelm Dilthey sebagai ahli hermeneutik modern, menemukan bahwa hermeneutik sudah muncul justru di abad 16 ketika Protestanisme menggemakan semangat Sola Scriptura.  Para protestanisme yang adalah pengikut Luther menggunakan hermeneutik dalam dua hal, yaitu (1) menafsirkan teks Alkitab dan (2) memberikan bantahan terhadap Katolikisme yang menggunakan otoritas gereja dalam menafsirkan Alkitab.  Semangat protestanisme adalah semangat untuk kembali pada kebenaran Alkitab, sebab protestan secara etimologi adalah pro testamentum (berpihak pada testament/perjanjian [Alkitab]).

Zaman Klasik[4]

Secara tradisional hermeneutik dianggap berasal dari kata Hermes, yang dalam mitologi Yunani adalah nama dari salah seorang dewa.  Tentu saja penelusuran ini tidak mendapat dukungan dari para hermeneutis berikutnya.  Mereka justru melihat hermeneutik dalam tiga kerangka penelusuran yaitu: pertama, jalan yang mengartikannya sebagai sarana untuk memberi penjelasan rasional atas mitologi homerik; kedua, menitikberatkan pada peran  interpretasi dan ramalan dalam khazanah agama Yunani kuno; serta ketiga, mencari segala sesuatu yang mirip dengan pengertian kata hermeneutik dalam teks-teks Yunani kuno.

Walaupun demikian, prinsip ketigalah yang menjadi pilihan dalam memberikan penguraian pengertian hermeneutik, seperti halnya Jean Grondin yang berpendapat bahwa kata hermeneutik ketika digunakan oleh teks-teks babon tidak pernah mendapat perhatian penelitian secara khusus, meskipun penelitian pantas dilakukan guna menemukan hubungan keterkaitan dari ketiga prinsip di atas.  Melalui cara menyusun kembali (rekonstruksi) konteks digunakannya kata hermeneutik pada saat itu, maka pengertian kata hermeneutik dapat diperoleh tanpa harus terganggu dengan penjelasan secara kontemporer.  Dasarnya adalah prinsip pengandaian terhadap penggunan kata hermeneutik bukan sebagai istilah teknis pada waktu itu, tetapi lebih kepada istilah yang banyak dijumpai dalam percakapan populer kala itu, seperti yang banyak terdapat dalam tulisan-tulisan Yunani kuno yang ditemukan dan masih bertahan sampai sekarang.

Pengertian masa kini tentang istilah hermeneutik pada awalnya ditemukan dalam tulisan-tulisan Plato,  yang selanjutnya pada masa kini istilah tersebut dikenal sebagai hermeneutik.  Istilah hermeneutik digunakan oleh Plato dalam tiga tulisannya yaitu dalam Politicus 260 d 11, Epinomis 975 c 6 dan Definitions 414 d 4.  Walaupun demikian, secara etimologi tetap tidak mendapat penjelasan keterkaitan antara istilah hermeneutik dengan istilah hermeneia dan hermeneus.

Plato sendiri ternyata memang tidak konsisten dalam menggunakan istilah hermeneutik sebagai sebuah definisi, sebab dari ketiga bukunya hanya Politicuslah yang sungguh-sungguh bersumber dari Plato, selebihnya adalah karya para Academia.  Buku Definitions menggunakan hermeneutik yang bersifat Adjektiva dalam mendefiniskan kata benda, yaitu sebagai ucapan yang utuh dan padu yang memaksudkan apa yang diatributkan kepada sesuatu hal yang eksis dan segala sesuatu yang berkaitan dengan substansi hal tersebut.

Dalam hal ini jelas bahwa hermeneutik memiliki pengertian sebagai “yang memaksudkan sesuatu” atau “yang menunjuk sesuatu”.  Secara semantic, istilah hermeneutik juga memiliki keterkaitan dalam pengertian hermeneia, yaitu pemindahan atau penerjemahan pikiran ke dalam bahasa.  Selanjutnya dalam buku Epinomis dan Politicus hermeneutik juga dipakai sebagai adjektiva.  Berdasarkan contoh-contoh penggunaan di atas, dapat disimpulkan bahwa hermeneutik memiliki pengertian lain sebagai kemampuan atau seni tertentu atau techne.

Hal penting diperhatikan dalam buku Epinomis sebuah catatan yang bersifat Platonik adalah ditemukannya pembahasan mengenai pengetahuan yang membawa orang pada gerbang kearifan.  Dalam buku ini dinyatakan bahwa mantike, yang berarti ramalan (divination) dan hermeneutik bukanlah cara untuk membawa orang pada pintu gerbang pengetahuan itu.  Ternyata ramalan atau hermeneutik tidak serta merta menghasilkan kearifan, sebab pengerahuan ini hanya membawa orang untuk mengetahui dan mengenali apa yang dikatakan, bukannya untuk mengetahui apakah yang diucapkan itu adalah sebuah kearifan, dan bukan juga untuk mengenalinya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh dari sebuah ramalan.

Berdasarkan fakta-fakta yang tidak menjelaskan di atas, beberapa ahli modern kemudian melakukan usaha menyatukan pengertian dari hermeneutik dengan ramalan.  Leon Robin menjelaskannya sebagai “tafsiran atas wangsit”, dipihak lain, Lamb menjelaskannya sebagai tafsiran.  Dalam hal ini maksudnya adalah tafsiran terhadap suara-suara gaib, ilham dari langit dan sebagainya.  Permasalahan penting disini adalah tidak ditemukannya data-data pasti untuk mengetahui bahwa istilah hermeneutik memang digunakan hanya untuk menjelaskan tafsiran terhadap wangsit.

Ternyata penelusuran istilah melalui media agama-agama Yunani tidak memberikan pengertian yang mendalam terhadap penjelasan istilah hermeneutik, maka penelusuran kembali dilakukan dengan menggunakan dasar tulisan-tulisan Plato.  Dalam bukunya, Politicus  dan Epinomis, ditemukan bahwa pengertian kata hermeneutik tidak sama dengan Mantike, namun keduanya tetap memiliki hubungan.  Dari buku-bukunya yang lain, misalnya Phaedrus  dan Timaeus, Plato sepertinya menerima kenyataan tradisional pada waktu itu bahwa kemampuan meramal terkait erat dengan mania atau kondisi ekstase.  Ketika seorang peramal berkata-kata dalam keadaan ekstase, hal ini dijelaskan secara ilmiah oleh profetes.  Keterkaitan antara ramalan mantike dan profetes dalam Timeneus ternyata paralel dengan mantike dan hermeneutik.

Berdasarkan penelusuran di atas, kemampuan hermeneutik seseorang bergantung pada kemampuannya menjelaskan makna apa yang diucapkan menggunakan seni ramalan mantike, sementara sikap hermeneutis adalah sikap yang menjadi perantara peramal dengan orang lain, seperti seorang nabi diantara Tuhan dan ciptaan-Nya.  Buku Epinomis menjelaskan bahwa perantara bertugas untuk “menyambung lidah”.  Dia memang bisa menjelaskan isi ramalan atau wahyu, namun dipihak lain ia tidak dapat menjelaskan apakah itu nantinya adalah sebuah realita atau tidak.  Pada akhirnya, tugas hermeneutik adalah menjelaskan “apa makna sesuatu”, sementara untuk menemukan apakah hal itu benar atau tidak adalah tugas dari disiplin ilmu lain misalnya filsafat.

Pengertian yang ditemukan di atas sama dengan pengertian yang dianut oleh Danhauer pada abad XVII.  Dalam persepektifnya, dua disiplin ilmu yang paling dasar adalah logika dan hermeneutik.  Logika berguna untuk menentukan klaim kebenaran pengetahuan dengan cara memberikan pembuktian bagaimana pengetahuan itu diturunkan dari prinsip rasional yang paling tinggi.  Sementara hermeneutik berguna untuk menjelaskan apa sesungguhnya yang dimaksudkan oleh seseorang.  Hermeneutik akan memilah-milah pengertian yang dilekatkan kepada “tanda-tanda”  yang dipakai, tanpa harus menjelaskan apa sesungguhnya yang ada di pikirannya.  Pada akhirnya ditemukanlah dua jenis kebenaran, kebenaran hermeneutik yang diperoleh melalui apa yang dimaksud, serta kebenaran logis yang diperoleh melalui pembuktian apakah benar atau salah.

Cara ini sekaligus memisahkan hermeneutik dari sisi makna religiusnya.  Pengertian hermeneutik pada akhirnya menjadi lebih umum, karena pada saat terdapat usaha untuk memilah-milah makna maka hermeneutik akan berperan.  Tentu saja makna hanya ditemukan dalam bahasa dan kesimpulan semacam ini membuktikan betapa signifikan dan tajamnya pengertian umum istilah hermeneutik yang berarti “memaksudkan sesuatu”  di dalam masyarakat Yunani kuno.

Dari pengertian ini, sampailah pada penelusuran pengertian kata hermeneia dan hermeneusHermeneia atau kalimat yang diucapkan adalah pengalihan “apa yang dimaksud” pada level pikiran ke dalam media bahasa.  Bahasa yang diucapkan adalah pikiran yang diucapkan, sebuah penerjemahan atau sebuah penafsiran pikiran ke dalam bahasa.  Hal inilah yang menyebabkan bahasa Latin dalam fleksibilitasnya yang tinggi menerjemahkan hermeneia dengan interpretation.  Walaupun demikian hermeneia juga dapat  berarti gaya (style).  Hal ini terlihat dalam tulisan Aristoteles yang berjudul Peri Hermeneia.  Penyebab bahasa Yunani kuno menggunakan kata yang sama untuk menyatakan karakter bahasa, pernyataan dan gaya sudah cukup jelas, sebab gaya tidak lain adalah metode untuk memaksudkan dan menyampaikan mekna kepada orang lain.  Bahkan bahasa sendiri sebenarnya adalah sebuah gaya, karena bahasa menjadi sarana untuk memberikan pengertian kepada orang lain.  Pada akhirnya, hermeneia memiliki tiga fungsi sekaligus yaitu: memaksudkan sesuatu lewat bahasa, menerjemahkan pikiran ke dalam ekspresi dan membuat orang lain menjadi paham.

Lingkungan Yahudi

Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar tahun 1567 AD. Namun demikian prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa Israel.

Hermeneutik Yahudi

  1. Pusat Ibadah Yahudi.  Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra (457 SM), pada waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah pembuangan. Pusat ibadah orang Yahudi dahulu adalah Yerusalem dimana mereka beribadah dengan mempersembahkan korban di Bait Suci. Tetapi karena di tanah pembuangan mereka tidak mungkin beribadah ke Yerusalem, maka mereka menciptakan pusat ibadah baru, yaitu dengan menggiatkan kembali pengajaran dari Kitab-kitab Taurat. Pengajaran Taurat itu menjadi sumber penghiburan dan kekuatan yang sangat berharga untuk mempertahankan diri dari pengaruh kafir di tanah pembuangan.

Usaha pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok para imam adalah menghilangkan gap bahasa yaitu dengan menterjemahkan Kitab-kitab Taurat itu ke dalam bahasa Aram, karena orang-orang Yahudi di pembuangan tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu exposisi karena mereka juga harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka terjemahkan itu, khususnya tentang pelaksanaan hukum-hukum Taurat. Karena sumbangannya yang besar itulah Ezra disebut sebagai Bapak Hermeneutik Pertama.  (Ne 8:1-8 Ezr 8:15-20)

  1. Tempat Ibadah Sinagoge.  Untuk menunjang pemulihan kembali pengajaran kitab-kitab Taurat, didirikanlah sinagoge di tanah pembuangan untuk menggantikan tempat ibadah Bait Suci (Yerusalem). Fungsi utama sinagoge adalah sebagai tempat orang-orang Yahudi berkumpul menaikkan doa-doa, membaca Taurat dan mempelajarinya dengan teliti, juga sekaligus menjadi tempat mereka memelihara tradisi Yahudi dan melakukan kegiatan sosial lainnya.

Sinagoge Agung adalah kelompok para ahli-ahli Kitab jaman itu yang terdiri dari 120 anggota, dibentuk oleh Ezra sepulangnya mereka kembali ke Palestina. Tugas utama kelompok ini adalah menafsirkan kitab-kitab Taurat. (Ne 8:9-13) Oleh karena itu bisa dikatakan inilah sekolah menafsir yang pertama didirikan.

Setelah semakin banyak orang-orang Yahudi akhirnya diijinkan pulang kembali ke tanah Palestina, tradisi mempelajari Taurat dan memelihara tradisi Yahudi ini tetap dibawa ke tanah air mereka dan sinagoge lokal pun mulai didirikan di tempat-tempat dimana mereka tinggal (meskipun Bait Suci sudah dibangun kembali). Itu sebabnya pada jaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul kita menjumpai banyak sinagoge di kota-kota di Israel, yang dipimpin oleh seorang yang disebut “kepala rumah ibadah”. (Mrk. 5:22; Luk. 13:14; Kis. 13:5-14:1)

  1. Sekolah-Sekolah Menafsir Yahudi. Melihat pentingnya mempelajari kitab-kitab, maka dalam perkembangan selanjutnya, (setelah Ezra dan Nehemia mati), bermunculanlah sekolah-sekolah menafsir formal, diantaranya:
    1. Sekolah Yahudi Palestina. Sekolah ini mengikuti tradisi yang dipakai oleh Ezra dalam menafsir kitab-kitab Taurat, yaitu menekankan metode penafsiran literal. Mereka menerima otoritas mutlak Firman Allah, dan tujuan utama mereka adalah menginterpretasikan Hukum-Hukum Taurat. Hasil penafsiran mereka ini kemudian bercampur dengan tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman itu, sehingga tulisan ini dikemudian hari dikenal dengan nama “Tradisi Lisan” (the Oral Law). Tetapi sayang sekali bahwa tradisi lisan ini akhirnya diberikan otoritas yang sejajar yang dengan tulisan Kitab-kitab Taurat.

Pada abad 2 Masehi dikumpulkanlah seluruh Tradisi Lisan yang pernah ditulis yang disebut “Mishna” yang artinya “doktrin lisan dan pengajarannya”. Dalam Mishna ini terdapat dua macam tafsiran:

      1. Halakah
        Penafsiran (eksegesis) resmi terhadap hukum-hukum dalam kitab-kitab Taurat yang bersifat sangat legalistik, dengan memperhatikan sampai ke titik dan komanya.
      2. Hagadah
        Penafsiran seluruh Alkitab PL, tetapi yang tidak berhubungan langsung dengan hukum, yang tujuannya adalah untuk kesalehan kehidupan beragama.

Perkembangan selanjutnya adalah para ahli kitab membuat buku tafsiran dari buku Mishna, yang disebut Gemara. Kedua buku Mishna dan Gemara, inilah yang akhirnya membentuk buku (kitab) Talmud.

    1. Sekolah Yahudi Aleksandria. Didirikan oleh kelompok masyarakat Yahudi yang sudah tercampur dengan budaya dan pikiran Yunani (kaum Hellenis). Kerinduan mereka yang paling utama adalah menterjemahkan kitab-kitab PL ke dalam bahasa Yunani Modern, sebagai hasilnya adalah buku (kitab) Septuaginta. Penambahan kitab-kitab Apokrifa dalam Septuaginta menunjukkan bahwa mereka menerima penafsiran Hagadah dari sekolah Yahudi Palestina.

Namun sayang sekali, karena pengaruh yang besar dari filsafat Yunani, orang Yahudi mengalami kesulitan dalam menerapkan cara hidup sesuai dengan pengajaran Taurat. Sebagai jalan keluar muncullah cara interpretasi alegoris yang dipakai untuk menjembatani kedua cara hidup yang bertentangan itu.

Aristobulus (160 SM) dikenal sebagai penulis Yahudi yang pertama menggunakan metode alegoris. Ia menyimpulkan bahwa filsafat Yunani dapat ditemukan dalam kitab-kitab Taurat melalui penafsiran alegoris.

Philo (20-54 M) adalah penafsir Yahudi di Aleksandria yang paling terkenal. Menurut prinsip menafsir yang dipakai oleh Philo, penafsiran literal adalah untuk orang-orang yang belum dewasa karena hanya melihat sebatas huruf-huruf yang kelihatan (tubuh); sedangkan penafsiran alegoris adalah untuk mereka yang sudah dewasa, karena sanggup melihat arti yang tersembunyi dari jiwa yang paling dalam (jiwa).  Ia percaya bahwa pada saat penulis PL menulis, sesungguhnya mereka dalam keadaan pasif dan tidak menguasai diri.  Satu contoh penafsiran alegori darinya adalah mengenai empat sungai dalam Kejadian 2:10-14.  Keempat sungai tersebut memiliki arti tertentu: Pison, kebajikan dan kebijaksanaan; Gihon, keberanian; Tigris, penguasaan diri; dan Efrat, keadilan.  Beberapa prinsip tafsir yang mengharusan perluanya tafsir alegoris bagi Philo adalah:

-          Jika arti harfiah menyatakan sesuatu yang tidak hormat kepada Allah

-          Jika suatu pernyataan tersebut bertentangan dengan pernyataan lain dalam Alkitab

-          Jika suatu teks menyatakan dirinya secara alegori

-          Jika suatu ucapan diulang-ulang atau kata-kata digunakan secara berlebihan

-          Jika terjadi pengulangan sesuatu yang sudah diketahui

-          Jika suatu ungkapan berubah-ubah

-          Jika suatu sinonim dipakai

-          Jika terdapat kemungkinan permainan kata

-          Jika ada ketidak biasaan dalam angka atau masa dalam tata bahasa

-          Jika terdapat symbol

 

    1. Sekolah Kaum Karait. Kelompok dari sebuah sekte Yahudi ini menolak otoritas buku-buku tradisi lisan dan juga metode penafsiran Hagadah. Mereka lebih cenderung mengikuti metode penafsiran literal, kecuali bila sifat dari kalimatnya tidak memungkinkan. Sebagai akibatnya mereka menolak dengan tegas metode penafsiran alegoris.

Selain sekolah-sekolah di atas, ada juga sekolah-sekolah lain yang kurang dikenal, yaitu Kabalis, Yahudi Spanyol, Yahudi Perancis, Yahudi Modern.

Lingkungan Apostolik

Mencakup masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang dipakai adalah metode penafsiran literal.  Dengan inspirasi dari Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan Perjanjian Lama dengan tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.

  1. Yesus Kristus, Penafsir Sempurna. Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak memberikan penafsiran kitab-kitab PL. (Yoh 5:39; Luk 24:27,44). Dengan cara demikian Yesus telah membuka pikiran para murid untuk mengerti Firman Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah Firman yang menjadi Manusia (incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap penafsiran para ahli Taurat (mis: Mat. 15:1-9; Mrk. 7:1-7; Mat. 23:1-33; 22:29. Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus: Mat. 10:5,6; 12:1-4,15-21; 13:1-9; 18:23; 19:3-9; 21:42-44; 22:41-46; 24:36-39; Luk. 11:29,30; 21:20-24 24:27-44.
  2. Para Rasul, Penulis-Penulis Yang Mendapatkan Inspirasi Dari Allah. Mereka adalah contoh penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan inspirasi yang Allah berikan kepada mereka tanpa salah. Mereka menolak prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisi-tradisi dan dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang mengambil alih kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini menjadi contoh yang sangat berguna bagi para penafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: Rom. 3:1-23; 9:6-13; Gal. 3:1-29; 4:21-31; 1 Kor. 9:9-12; 10:1-11; Ibr. 6:20-7:21; 8-8-12; 10:1-14,37-11:40; 1 Pet. 2:4-10; 2 Pet 3:1-13

 

Lingkungan Bapak-bapak Gereja

Masa periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600 M). Pembagian masa-masanya adalah sbb.:

  1. 95 – 202 M.  Tidak ada banyak catatan mengenai perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja terlalu sibuk mempertahanan doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang sehat. Sebagai akibatnya beberapa dari mereka jatuh pada penggunaan metode alegoris dalam penafsiran mereka, seperti Barnabas dan Justin Martyr.
  2. 202 – 325 M.  Pada permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi oleh Sekolah Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara agama Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa orang-orang Yahudi menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem penafsiran yang sudah sangat dikenal sebelumnya. Ketika kekristenan tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak mungkin dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan penafsiran alegoris karena seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam dari pada arti harafiah.

Bapak Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan Origen. Tetapi meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot yang kuat dalam penafsiran alegoris.

Origen adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar tapi juga ahli kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab memberikan 3 arti, sama halnya manusia dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.

  1. 325 – 600 M.  Pengaruh besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya terhadap Sekolah Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran mereka dapat diringkaskan sebagai berikut.: ilmiah, menggunakan prinsip literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris mereka memakai metode tipologi.

Tokoh-tokoh Sekolah Antiokia adalah: Diodorus dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia dan Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab, tapi menerima prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah.

Selama abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi Gereja Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.

    1. Gereja Bagian Timur
      Tokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga alegoris), Basil dari Caeserea (literal), Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan historis).
    2. Gereja Bagian Barat
      Tokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan secara alegoris), Ambrose (alegoris ektrim), Jerome (sumbangannya terbesar adalah menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgate. Secara teori ia mengikuti penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan. Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab. Tugas penafsir adalah menemukan kebenaran Alkitab bukan memberi arti kepada Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).

 

Hermeneutik Abad Pertengahan

Masa periode tahun 600 – 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan, yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi gereja.  Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan sebagai pengesahan akan apa yang dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja kadang mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.

Alkitab lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi pengajaran-pengajaran yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris menjadi paling dominan.

Dua tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah:

  1. Thomas Aquinas. Meskipun ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab memegang otoritas tertinggi.
  2. John Wycliffe. Ia sering disebut sebagai “Bintang Fajar Reformasi” karena kegigihannya menyerang pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas Alkitab. Karena keyakinannya itulah ia terdorong untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga setiap orang bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.

Menjelang berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya belajar bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan dicetaknya Alkitab, maka kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa otoritas Alkitab lebih tinggi dari pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya Reformasi.

 

Hermeneutik Reformasi

Periode ini terjadi pada tahun 1517 – 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.

  1. Perjuangan reformasi. Dengan bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang memperjuangkan “sola scriptura” (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi. Secara umum isi perjuangan Reformasi adalah sbb.:
    1. Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.
    2. Alkitab harus dipelajari dalam bahasa aslinya.
    3. Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.
    4. Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.
    5. Gereja harus tunduk pada otoritas kebenaran Alkitab.
    6. Alkitab harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.
    7. Semua pemahaman dan ekposisi Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran Alkitab.

 

  1. Tokoh reformasi.
    1. Martin Luther. 95 tesisnya merupakan serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja. Martin percaya penuh bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa German supaya rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.

Prinsip penafsiran Martin Luther:

      1. Untuk menafsir dengan benar harus ada penerangan dari Roh Kudus.
      2. Alkitab adalah otoritas tertinggi bukan gereja.
      3. Penafsir harus memberi perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah. Penafsiran alegoris tidak berlaku.
      4. Alkitab adalah jelas sehingga orang percaya pasti dapat menafsirkannya.
      5. Fungsi menafsir Alkitab adalah sentralitas dalam Kristus.
      6. Hukum Taurat menghukum (mengikat), tetapi Injil membebaskan.

 

    1. John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang penafsiran alegoris, tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin tidak memaksakan pada penafsiran yang berpusatkan pada Kristus.

Prinsip penafsiran John Calvin:

      1. Roh Kudus adalah vital dalam pekerjaan penafsiran.
      2. Alkitab akan menafsirkan Alkitab.
      3. Penafsiran harus literal; penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan studi kata dan memeriksa tata bahasa.
      4. Menolak penafsiran alegoris.
      5. Menolak otoritas gereja dalam menginterpretasikan Alkitab.
      6. Teologia yang benar harus dihasilkan dari eksegesis yang sehat.

Setelah kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo doktrin iman Kristen dan mensistematiskan teologianya. Tapi perdebatan dalam masalah penafsiran terus berlangsung sampai pada masa berikutnya.

 

Hermeneutik Paska-Reformasi

Periode ini adalah antara tahun 1600 – 1800 M. Periode ini dipenuhi dengan semangat penafsiran literal Reformasi, tetapi akhir periode ini ditutup dengan penekanan pada metode penafsiran devotional.

  1. Sesudah reformasi. Terjadi banyak kontroversi dan perdebatan teologia yang akhirnya menjadi kepahitan di antara para teolog dan mulai terjadi perpecahan. Dogmatisme mulai meracuni gereja. Studi Alkitab akhirnya hanya dipakai untuk membenarkan dogma dan teologia mereka sendiri.
  2. Gerakan peitisme. Gerakan ini muncul sebagai reaksi Dogmatisme paska Reformasi, karena Alkitab telah disalah gunakan sebagai pedang yang melukai dan merusak kemurnian hidup rohani. Oleh karena itu mereka melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu mempelajari Alkitab dan menafsirkannya secara pribadi untuk tujuan memperkaya aplikasi kehidupan rohani. Meskipun motivasi ini baik, tetapi berakibat negatif karena membuat tujuan penafsiran bukan lagi untuk mengetahui apa yang Allah ingin kita ketahui, tapi hanya untuk mempererat hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai hasilnya muncullah kelompok-kelompok seperti Moravian, Puritan dan Quaker. Tokoh-tokoh gerakan Pietisme ini adalah:
    1. Philipp Jakob Spener – Bapak Pietisme. Ia percaya bahwa kemurnian hati lebih berharga daripada kemurnian doktrin. Ia mendorong setiap orang percaya untuk mempelajari sendiri Firman Allah dan mengaplikasikan kebenarannya dalam kehidupan praktis.
    2. August Hermann Francke. Sebagai murid Spener, ia juga mengikuti prinsip-prinsip Pietisme. Menurutnya hanya orang Kristen lahir baru yang dapat mengerti arti berita Alkitab. Ia juga mengkombinasikan antara eksegesis dengan pengalaman. Tetapi segi negatif dari gerakan ini muncul yaitu menjadi tindakan legalistik terhadap mereka yang bukan anggota Pietisme dan mengabaikan teologia.
    3. Kritisisme.   Melihat kelemahan Pietisme dengan metode perenungan, banyak teolog mulai melakukan pendekatan skolastis studi Alkitab. Banyak usaha dilakukan dalam bidang kritik teks. Naskah-naskah Alkitab mulai dievaluasi dan diteliti untuk pertama kalinya untuk mengetahui keabsahannya sebagai kitab Kanon. Tokoh yang terkenal adalah Johann August Ernesti.
    4. Rasionalisme. Dari Kritisisme para teolog melanjutkan lebih jauh sampai melampaui batas yang seharusnya, yaitu mereka menempatkan rasio manusia sebagai otoritas yang lebih tinggi dari Alkitab. Rasio manusia, tanpa campur tangan Allah, dianggap cukup untuk mengetahui Penyataan Allah. Apabila ada hal yang tidak dapat dimengerti oleh intelek manusia, maka harus dibuang. Sebagai akibatnya mereka berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena ditulis oleh manusia. Mereka memperlakukan Alkitab tidak jauh berbeda seperti buku-buku yang lain. Dua tokoh terkenal Rasionalisme adalah Hobbes, Spinoza dan Semler.  Tafsir ini mencapai puncaknya pada abad 19, sehingga Alkitab tidak lagi dipandang sebagai kitab yang berotoritas.
      1. Alkitab harus diukur dengan metode akademis modern dan moral manusia modern.  Dengan demikian ajaran tentang surga dan neraka, dan catatan tentang mujizat harus ditolak.  Bahkan, bahan-bahan tertentu yang rupanya salah disusun oleh penulis Alkitab, sebaiknya disusun kembali.
      2. Mereka memberi definisi baru bagi ilham atau wahyu.  Ilham adalah kekuatan yang menstimulir pengalaman agama; wahyu adalah penemuan manusia akan kebenaran agama.  Yang menjadi patokan dalam menafsir Alkitab adalah semangat/jiwa Yesus atau pengalaman agama.  Teologi adalah hasil dan tanda dari pengalaman agama, sedangkan pengalaman agama tidak dapat diungkapkan komplit dengan bahasa
      3. Hal supranatural diartikan sebagai sesuatu yang melampaui hal yang bersifat materiil, misalnya etika.  Ini berlainan dengan golongan orthodox yang melihat hal supranatural terjadi karena perintah Allah, atau sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia.
      4. Mempergunakan teori evolusi atas agama dan dokumen agama tersebut.  Metode Adolf van Harnack menegaskan bahwa Tuhan Yesus adalah hanya seorang baik, tetapi teologi Kristen dan pikiran Yunanilah yang melukiskan-Nya sebagai manusia – Allah.  Tugas penafsiran adalah melepaskan Alkitab dari teologi dan filsafat ini.
      5. Penulis-penulis Alkitab hanya mempergunakan konsep-konsep, cara-cara penyampaian yang terdapat pada zaman mereka.  Konsep-konsep demikian tidak berlaku untuk manusia modern.
      6. Karena begitu menitik-beratkan metode sejarah untuk menafsir Alkitab, sehingga mereka berpendapat bahwa agama terus berkembang, dan Alkitab sering ‘meminjam’ dari atau berbaur dengan konsep-konsep agama lain.  Disamping ini, karena mereka begitu menekankan makna suatu nubuat bagi pendengar zaman tersebut, sehingga nubuat tidak bersifat memberitahukan sesuatu yang belum terjadi.  Nubuat tidak lebih dari berita yang dapat dimengerti dengan penuh oleh pendengar zaman itu.
      7. Penafsiran mereka sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran filsafat.  Dari Kant, mereka mempelajari bahwa rasio tidak dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Allah.  Intisari agama adalah tekad moral atau etika.  Dari Deisme, mereka mengambil ide tentang penyangkalan campur tangan Allah, teologi alamiah, penolakan mujizat.  Pengaruh filsafat George Wilhelm Friederich Hegel mengenai pandangan ide absolut dan logika dialektika juga memberikan pengaruh besar.  Idealism absolute dari Hegel telah menggantikan sifat Allah yang diluar pengertian manusia (transcendence) dengan sifat Allah yang menyatakan diri-Nya melalui ruang dan waktu.  Hegel juga mengajarkan bahwa yang nyata adalah yang rasionil dan yang rasionil adalah yang nyata.  logika dialektika mulai dengan suatu thesis yang mengarah kepada antithesis, dan kemudian melahirkan sintesis yang berada pada tingkat yang lebih baru dan lebih tinggi.

Beberapa tokoh yang penting dipelajari adalah:

  • Ferdinand Christian Baur (1792 – 1860)
  • Julius Wellhausen (1844 – 1918)
  • Friedrich Daniel Ernst Schleimacher (1768 – 1834)
  • David Friedrich Strauss (1808 – 1874)
  • J. C. K Von Hafmann (1810 – 1877)

 

Lingkungan Filsafat

Zaman Abad Pertengahan

Hermeneutik menjadi popular dan baku pada abad ke 17 sebagai sebuah disiplin ilmu untuk menafsirkan Alkitab.  Penggunaannya secara khusus dalam theologia merupakan klimaks dari penentangan terhadap Katolik sebagai pemegang status quo dengan Protestan sebagai pembawa gerbong pembaharuan (reformasi).  Sebagai pemegang status quo, Katolik tetap berpegang pada tradisi-tradisi dan otoritas sacral dalam menafsirkan Alkitab.

Dipihak lain, Luther tidak dapat menerima hal tersebut.  Baginya, “kepala memang sama berambut, namun dalam berpendapat tentang Alkitab tentu saja akan berbeda-beda”.  Manusia yang memiliki iman dan mau membaca Alkitablah yang berhak menafsirkan kandungan di dalamnya.  Inilah sola scriptura.  Walaupun Luther sendiri memang tidak pernah memberikan rumusan tentang hermeneutik.  Justru St. Agustinuslah dalam De Doctrina Christiana yang membuat paparan panjang lebar secara teoritis mengenai konsep penting hermeneutik dalam hubungannya dengan bahasa dan pikiran manusia melalui konsep inkarnasi dalam tubuh Kristen.  Konsep penting tersebut adalah actus signatus  dan actus exercitus.  Kedua konsep ini lahir dari dua macam “kata” (Ing: word dan Lat: verbum), yaitu kata yang diucapkan (verbum exterius/logos proforikos) dan kata yang ada dalam pikiran (verbum interius/logos endiathethos).

Pada saat seseorang mengucapkan sebuah kata (verbum exterius), maka pada saat itu ia bertindak memberikan tanda-tanda (actus signatus) terhadap apa yang dimaksudkan dalam pikirannya.  Buah pikiran yang ada dalam pikirannya terbentuk dari kata-kata batiniah (verbum interius).  Kata-kata batiniah ini bentuknya sangat abstrak dan hanya bisa dipahami dalam konteks yang juga bersifat batiniah, ketika ingin diungkapkan keluar melalui ucapan maka yang diplih adalah kata-kata jasmani (verbum exterius) dan tindakan ini disebut actus signatus.

Menurut Agustinus, proses memilih kata-kata bathin kemudian mengungkapkannya disebut dengan actus exercitusHermeneutik sudah terjadi ketika diri sendiri berusaha menerjemahkan kata-kata bathin ke dalam kata-kata jasmani.  Sama halnya pada saat orang lain sebagai pendengar berusaha mengerti apa sesunguhnya yang dimaksud oleh pembicara/penulis lewat verbum exterius-nya, ia harus berusaha sampai kepada verbum interius dengan melakukan actus exercitus.

Sumbangan penting dari Agustinus dalam perjalanan hermeneutik adalah menetapkan makna hanya pada pernyatan.  Ia menghubungkan konsep inkarnasi dengan teori linguistic-nya dan memberikan pembuktian bahwa yang dinyatakan dalam pernyataan adalah “lautan” makna yang tak terbatas, verbum cortis.  Artinya pemahaman tidaklah ditemukan hanya dari pernyataan yang disampaikan oleh pembicara atau penulis, walaupun itu telah melewati proses penalaran yang logis. Sebab logika yang hanya berpegang pada pernyataan (logos), serta merta melupakan ada (being) dan bahasa.

 

Zaman Modern

Dari penelusuran zaman di atas, ternyata hermeneutik memiliki perbedaan dari masa ke masa sesuai dengan konteks keberadaannya.  Hal ini dinyatakan oleh Paul Ricoeur dengan sebutan hermeneutik regional.  Artinya hermeneutik yang baru berada pada satu wilayah tertentu, seperti teks keagamaan, teks pada umumnya, atau hanya persoalan dialog tatap muka dan hal-hal retorika belaka.  Hal ini menyebabkan munculnya dua gerakan dalam hermeneutik.  Pertama, gerakan yang berupaya mengangkat hermeneutik regional menjadi hermeneutik universal.  Kedua, de-regionalisasi yang memberikan status epistemologis yang sama dengan ilmu-ilmu alam dan kemudian mengangkatnya ke level ontologism.  Upaya ini adalah usaha untuk mendudukan hermeneutik bukan terbatas pada cara mengetahui, akan tetapi sebagai cara mengada.  Gerakan ini disebut radikalisasi, sehingga hermeneutik tidak hanya bersifat umum tetapi juga sekaligus fundamental.  Beberapa tokoh diantaranya adalah:

 

 

Friedrich Schleiermacher

Ia adalah tokoh yang pertama kali memunculkan istilah de-regionalisasi, yang utamanya bertujuan mengekstrak suatu persoalan umum dari aktivitas interpretasi yang berbeda-beda.  Ia hidup pada zaman yang memiliki corak interpretasi ganda, yaitu interpretasi atas teks-teks klasik (Yunani – Latin) dan tafsir atas Alkitab.

Ia berupaya memberi jalan agar interpretasi filologi dan interpretasi biblical sampai pada tingkatan seni tafsir, menjadi sebuah teknologi yang bukan hanya sekedar kumpulan tata cara dan kaidah yang tidak saling berkaitan.  Semangat yang sama juga sejalan dengan upaya Kant dalam tulisannya Critique of Pure Reason.  Didalamnya ia menganggap bahwa cara dan kapasitas mengetahui mesti dipertanyakan dahulu sebelum hakekat segala sesuatu dihadapi dan diselidiki secara metafisis.  Saperti Schleiermacher yang menekankan usahanya pada bagaimana cara dan kemampuan serta hakekat interpretasi dari pada mempersoalkan benar atau tidaknya sesuatu.

Sedari dulu dipahami bahwa dalam proses hermeneutik sangatlah memungkinkan untuk terjadi kesalahpahaman, yang oleh para teoritikus dan filologis dianggap sebagai momok, tetapi oleh Schleiermacher diangap sebagai sebuah syarat mencapai pemahaman.  Dalam hubungannya dengan peluang kesalahpahaman, Schleiermacher mengelompokkan hermeneutik menjadi hermeneutik longgar dan hermeneutik ketat.

Hermeneutik longgar adalah pengandaian dalam tindak menafsir pemahaman muncul secara otomatis; sebaliknya, hermeneutik ketat pengandaian yang muncul secara otomatis adalah kesalahpahaman.  Temuan Schleiermacher ini menyatakan bahwa kesalahpahaman bukanlah factor x yang berpeluang terjadi, namun ia adalah bagian integral dari kemungkinan interpretasi, yang oleh karenanya ia harus diawasi dan disingkirkan.

Baginya, tugas dari hermeneutik adalah mengisolasi proses pemahaman sehingga muncul metode hermenetik yang independen.  Dari prinsipnya ini, ia telah memisahkan diri dengan metode hermeneutik sebelumnya yang hanya berpijak pada penelaan bahasa asing atau teks-teks tertulis.  Jenis hermeneutik lama ini, yang juga disebut interpretasi objektif menggunakan bahasa umum/bersama dengan tidak mengindahkan pengarang.  Ketika makna dari sebuah kata sudah ditemukan – entahkan seperti maksud dari pengarang – maka selesai sudah tugas dari hermeneutik.  Disisi lain, interpretasi jenis ini juga bernilai negative, sebab penentuan maknanya hanyalah berdasarkan istilah bahasa atau kata yang digunakan.  Bagi Schleiermacher sasaran dari interpretasi adalah subjektivitas dari pembicara atau pengarang, sedangkan bahasa dapat saja diabaikan pengertiannya.

Hal inilah yang menyebabkan Schleiermacher selain memberi perhatian pada pentingnya interpretasi gramatikal juga pada interpretasi psikologisInterpretasi psikologis adalah uapaya menempatkan kepala interpreter ke dalam kepala pengarang, berusaha melacak asal usul nilai batiniah dari setiap ungkapannya.  Usaha interpretasi psikologis tentu saja tidak dapat mengabaikan aspek ramalan atau tebakan terhadap maksud sesungguhnya dari pengarang.  Inilah titik tersulitnya, sebab interpreter tentu saja sangat sulit menemukan sisi subjektivitas yang komprehensif dari pengarang jika ia tidak berusaha mengaitkannya dengan hal-hal lain disekitar pengarang.

Subjektivitas yang komprehensif dari pengarang barulah dicapai apabila ia dibandingkan (to be campared) dan diperhadapkan (to be contrasted) dengan orang-orang semasanya.  Kebuntuan di atas hanyalah bisa teratasi melalui upaya mengklarifikasi hubungan karya tersebut dengan subjektivitas pengarang dan dengan mengalihkan arah interpretasi empatik terhadap subjektivitas pengarang menuju pengertian dan rujukan dari karya itu sendiri.  Inilah sumbangan penting dari Schleiermacher terhadap dunia hermeneutik.

 

Wilhelm Dilthey

Masalah kebuntuan hermeneutik dalam pengungkapan makna secara komprehensif juga menjadi perhatian dari Dilthey.  Ia telah menjadi titik klimaks keuniversalan yang selama ini dicita-citakan oleh de-regionalisasi persoalan-persoalan hermeneutik.  Beranjak dari hal ini, ia mempersiapkan jalan bagi tergantikannya epistemology oleh ontology dalam hermeneutik.  Dengan demikian dimulailah babak baru radikalisasi yang menggantikan de-regionalisasi.

Ia sudah ada dalam perjuangan dengan para pemikir hermeneutik sebelum menggumuli masalah interpretasi regional ke ranah pengetahuan sejarah yang lebih besar.  Beberapa pemikir di zamannya antara lain: Schleiermacher, L. Ranke dan J.D Drosen.  Pemikir-pemikir jerman ini telah memandang hermeneutik dalam realitas tertinggi bagi teks.  Prinsip kerja mereka adalah terlebih dahulu mempertanyakan persoalan keterpaduan sejarah sebagai dokumen kemanusiaan yang besar sebelum mempersoalkan kepaduan sebuah teks.  Inilah ekspresi kehidupan fundamental bagi mereka.

Dalam hal ini Dilthey terjebak pada dua peperangan.  Pertama, dalam tugasnya sebagai ahli hermeneutik dan sejarah, ia harus menentukan minat menafsirkan teks-teks atau mengkaji keterkaitan historis yang melandasinya, antara system yang diakronis dengan yang sinkronis.  Kedua, dalam semangat positivism ia harus memikirkan kemasukakalan sejarah.  Sehingga proyek besar yang dihadapi Dilthey adalah peran penjelasan (explanation) akan alam dan pemahaman (understanding) akan sejarah.  Persoalan ini memberi dampak besar sekali lagi bagi hermeneutik, sebab melalui persoalan ini hermeneutik menjadi terbagi-bagi antara penjelasan menurut ilmu alam atau ranah intiuisi psikologisnya Schleiermacher.

Untunglah Dilthey tetap mengembalikan analisanya tentang manusia dalam kemanusiaan dan melihat manusia sebagai individu.  Tentu saja individu yang memiliki rasio dan ego transcendental.  Hal ini ia lakukan dalam keberadaannya sebagai pengikut Kant.  Dengan dasar ini dapat dilihat bahwa pijakan Dilthey dalam membangun pemahamannya adalah dengan melihat manusia dari sudut pandang psikologis.  Manusia yang bertindak dalam komunitas masyarakat dan sejarah.  Pada akhirnya ia mengetengahkan prinsip kesaling terkaitan dengan seluruh system kehidupan.

Konsep kesaling terkaitan adalah buah pikir yang dipinjam Dilthey dari Husserl pada tahun 1900 yang sebelumnya telah mengemukakan konsep intensionalitas.  Konsep intensionalitas adalah perangkat kesadaran untuk memaksudkan suatu makna yang dapat dikenali.  Sumbangan penting dari konsep ini disebabkan oleh kehidupan mental yang tidak dapat dijajaki secara langsung.  Ia hanya dapat dikenali melalui apa yang dimaksudkan, lewat kesaling terkaitan objektif dan melalui pengenalan akan wilayahnya.

Dalam study Dilthey, hermeneutik mengalami pergeseran dari persoalan bagaimana memasuki kepala pengarang atau orang lain menjadi bagaimana merekonstruksi bentuk-bentuk yang jadi wadah bagi orang lain.  Ia mereproduksi jejak psikologis ke dalam wadah yang mengandung karakteristik benda materi, misalnya teks atau monument/prasasti juga bahasa, walaupun tetap dalam semangat hermeneutik psikologisnya Schleiermacher.  Konsekuensi ini membawa Dilthey kembali pada kajian filologis, sehingga ia pun menyatakan bahwa peran utama hermeneutik adalah secara teoritis menetapkan validitas universal bagi interpretasi, demi menghindari dorongan Romantisisme dan Subjektivisme Skeptis, dimana validitas itu dapat menjadi landasan setiap kepastian sejarah.

Dari konsep-komsep inilah Dilthey melakukan generalisasi bagi prinsip hermeneutik dan lebih mendekatkannya dalam kehidupan manusia.  Makna yang diperoleh, nilai yang ada dan tujuan yang ada di masa depan merupakan alat untuk menyusun ulang dinamika kehidupan melalui tiga dimensi waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan.  Perbedaan antara hermeneutik psikologis dengan hermeneutik eksegetikal terletak pada bagaimana membangun nilai objektif dari sebuah kehidupan.  Itulah sebabnya, ia memasukan hermeneutik kedalam wilayah universal.  Baginya, hermeneutik  adalah pertemuan degan pengetahuan sejarah universal, sebagai bentuk universalisasi individu.

 

Martin Heidegger

Dengan menempuh jalan yang lain tujuan, Heidegger menjadi berbeda dengan Dilthey.  Baginya, pemahaman bukanlah bagian dari kapasitas pengetahuan manusia, tetapi lebih kepada kondisi ontologis manusia yang paling fundamental.  Di bagian pembukaan dari bukunya yang berjudul Being and Time, ia berpendapat tujuan atau apa yang dicari adalah motivasi yang kuat yang mengarahkan hermeneutis dalam mengolah pertanyaannya.  Dalam hal ini sangat kuat perbedaan antara Heidegger dengan para pengikut Kant (neo-Kantian), sebab teori pengerahuan barulah dapat dilaksanakan apabila sebelumnya telah dilakukan penelitian yang berpusatkan pada cara atau jalan yang membawa pada pertemuan dengan suatu “yang ada” (a being),  terlebih sebelum pengetahuan itu menghadapi “yang ada” sebagai sebuah objek yang dihadapi subjek.

Sebaliknya, bagi Heidegger, kendati menekankan signifikansi Dasein di dalam Being and Time dan dalam karya-karyanya yang belakangan sebagai “kita sebagai yang ada di sana,” namun Dasein itu bukanlah sebagai subjek yang menghadapi objek, akan tetapi sebagai suatu “yang ada” (a being) di dalam Ada (Being).  Dasein adalah tempat dimana pertanyaan tentang “yang ada” lahir, atau dengan kata lain, menjadi tempat terjadinya pengejawantahan.  Dasein menjadi sangat penting dalam pemikiran Heidegger, karena ia sendiri adalah suatu “yang ada” yang memahami Ada-nya sendiri.

Oleh karena itu, struktur Dasein sebagai suatu “yang ada” mesti memiliki pra-pemahaman ontologism tentang ada-nya.  Dari sisi ontologis, dampak dari analisis atas Dasein ini sangat nyata, karena aturan Dasein  tidak akan  dikenali dengan cara derivasi dari prinsip yang lebih tinggi sebagaimana nyata dalam tradisi metafisika barat sebelum Heidegger, bahwa manusia sebagai ini atau itu, hakekatnya begini dan begitu, akan tetapi lewat klarifikasi atau penjernihan atau penyingkapan.

Hal penting dalam penafsiran adalah interpretasi terhadap berbagai model “yang ada” dalam keberadaannya yang paling dasar.  Menurut Heidegger, proses fundamentalisasi ini telah berhasil dicontohkan Kant dalam Kritik atas Rasio Murni-nya, sebab pendekatan Kant disitu mencoba mengincar apa yang dimiliki oleh alam, bukannya terletak pada teori pengetahuan.  Logika transendentalnya adalah logika a priori tentang ranah “yang ada” yang disebut alam.

Bagi Heidegger, pemahaman bukanlah semata salah satu bentuk kapasitas kognitif manusia, akan tetapi kemampuan paling dasar bagi manusia untuk hidup dan menghayati dunianya.  Pemahaman primer akan diperoleh manusia ketika ia menginterpretasi dunianya menurut jalan atau cara dengan status filosofis yang berbeda dengan apa yang berlangsung setiap harinya.

Dalam usahanya untuk menemukan makna suatu kebenaran, Heidegger membaginya atas dua prinsip.  Pertama, kebenaran sebagai “kebertemuan”; kedua, kebenaran sebagai “keterasingan”.  Menurutnya, pemahaman bukanlah sekedar percakapan tentang bagaimana menemukan pengiyaan (assertion) tentang dunia, tetapi terletak pada keseluruhan penggalian terhadap cara mengada di dunia (mode in being-in-the-world).  Oleh karena itu, pemahaman tidak hanya sekedar mengerti salah satu sisi dunia dengan menemukan fakta-fakta tertentu.  Lebih dari pada itu, pemahaman adalah proses ketersingkapan segala kemungkinan-kemungkinan.

Pada akhirnya, pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman dengan cara ini ini adalah pengetahuan yang berbentuk know-how, yang lebih nyata bila dibandingkan dengan know-that.  Kemungkinan-kemungkinan dari pengetahuan semacam ini menyebabkan manusia bukan lagi sibuk dengan urusan kebebasan memilih (libertas indifferentiae), akan tetapi melibatkan sisi proyeksi.  Bagi manusia, untuk menjadi diri sendiri memerlukan interpretasi.  Hal ini paling tidak disebabkan oleh dua alasan.  Pertama, seseorang tidak akan mampu menjadi dirinya sendiri jika ia tidak menafsirkan siapa dirinya dan bagaimana agar ia terus menjadi dirinya.  Kedua, apa pun yang ia tafsirkan termasuk dirinya sendiri, pada dasarnya juga merupakan sebuah interpretasi.

 

Dalam Sistematika Teologi

Dari tinjauan sejarah di atas, pada awalnya hermeneutik adalah bagian dari disiplin ilmu.  Setiap cabang atau disiplin ilmu memiliki hermeneutiknya sendiri dalam menjelaskan dirinya.  Paling tidak hermeneutik digunakan dalam tiga aspek hidup.  Pertama, sebagai sarana untuk mengungkapkan wangsit dari dewa; Kedua, untuk merohanikan (allegorist) sabda-sabda dan tulisan klasik yang telah dihasilkan sebelumnya; dan Ketiga, menjadi sarana pembedahan ilmiah dari makna yang tersembunyi dari sebuah kata, baik itu kata verbal maupun kata tulis.

Perjalanan sejarah juga yang membawa dan menempatkan hermeneutik sebagai salah satu disiplin ilmu yang berdiri sejajar dengan bidang ilmu lain.  Tidak ada lagi istilah hermeneutik dalam politik, hermeneutik dalam medis, hermeneutik dalam religi, dll.  Pada akhirnya hermeneutik menempati posisi yang sejajar dengan bidang ilmu lain seperti politik, medis dan teologi.

Khusus dalam kajian teologi, ia berdiri sejajar dengan disiplin ilmu teologi lainnya.  Bahkan dapat dikatakan bahwa hermeneutik adalah bidang ilmu dasar dalam rancang bangun teologi (dogmatika) dan rancang bangun praksis (praktika).  Jelas terlihat bahwa hermeneutik memiliki kedudukan yang sama penting dengan bidang-bidang kajian teologi lainnya.  Ia tidak dapat di anak tirikan atau dianggap remeh, sekaligus tidak dapat menjadi satu-satunya bidang yang disanjung sehingga meninggalkan kajian yang lain.  Artinya hermeneutik haruslah dipelajari sama seperti kajian teologi lainnya, juga ia tidak dapat berdiri sendiri dalam usaha pembentangan atau penyingkapan kebenaran Allah.

 

 

Dalam Pekabaran Injil

Kekristenan bertumbuh dari pemberitaan Injil.  Dengan demikian keseluruhan kajian teologi haruslah bermuara pada upaya pemberitaan Injil.  Sama seperti kajian teologi yang lain, hermeneutik juga memiliki peranan penting dalam pekabaran Injil.  Sebagai dasar pijakan, maka hermeneutik juga memiliki peranan penting dalam memberikan arah perjalanan dan pertumbuhan kekristenan.  Selain itu, ia juga menjadi daya dorong dan daya gerak bagi rancang bangun teologi yang bermuara pada tindakan nyata di dunia.  Ia menjadi dasar bangunan dogmatika untuk nantinya dijadikan pedoman dalam membangun tingkah laku praktikal.

 

Lingkungan Perkembangan Teologi

Hermeneutik Modern

Masa periode ini adalah tahun 1800 – sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah dilakukan masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari satu ekstrim kepada ekstrim yang lain. Dalam era modern ini serangan yang paling tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam menafsir. Sebagai contohnya:

  1. Liberalisme.  Rasionalisme telah membuka era modern untuk lahirnya Liberalisme. Secara umum diringkaskan pendekatan mereka adalah:
    1. Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh rasio harus ditolak.
    2. Inspirasi didefinisikan ulang, yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia (penulis Alkitab).
    3. Supranatural diartikan sebagai alam pikiran abstrak manusia.
    4. Sesuai dengan pikiran evolusi, maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan dengan pikiran teologis modern.
    5. Menjunjung tinggi nilai etika, tapi menolak tafsiran teologianya.
    6. Alkitab harus ditafsirkan secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab sendiri.
    7. Neo Ortodoks.  Karl Barth tidak mau disebut sebagai penganut Liberalisme, ia tetap ingin mencari kembali inti-inti Teologia Reformasi. Dalam pendekatannya Karl Barth menolak baik inspirasi maupun ketidakbersalahan Alkitab karena menurut Barth, Penyataan/Firman Allah baru akan terjadi apabila ada pertemuan antara Allah dan manusia dalam Alkitab.  Alkitab sendiri bukanlah Firman Tuhan tetapi hanya saksi akan Firman Tuhan. Oleh karena itu penafsiran Alkitab merupakan pekerjaan sia-sia kalau bukan Allah sendiri yang bertemu dengan manusia.
    8. Konservatisme/injili. Gerakan Konservatisme merupakan reaksi untuk melawan pikiran-pikiran modern. Beberapa pendekatan mereka pada Alkitab adalah antara lain:
    9. Rasio harus ditaklukkan di bawah otoritas Alkitab, karena rasio tidak cukup untuk menginterpretasi Alkitab. Oleh karena itu Roh Kudus adalah vital untuk memberikan penerangan supaya kita mengerti.
    10. Pendekatan penafsiran literal, karena percaya pada ketidakbersalahan Alkitab.
    11. Percaya pada Penyataan yang progresif, tetapi kebenaran tidaklah dibatasi oleh waktu sehingga berlaku di sepanjang jaman.
  • Golongan Dispensasi
  • Golongan Fundamentalisme
  • Golongan Moderat
  • Golongan Alegori
  1. Hermeneutik Baru. Tokohnya adalah Rudolf Bultman. Prinsip yang dipakai untuk menafsir adalah kita harus membaca sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, karena manusia tidak boleh mengabaikan intelektualitasnya. Otoritas Alkitab tidak diterima sepenuhnya. Mereka bahkan meragukan apakah apa yang Alkitab katakan itu sama dengan apa yang dituliskan. Tujuan utama Hermeneutik Baru adalah mencoba menghindarkan diri dari kelemahan yang dimiliki Liberalisme.
  2. Penasiran Sejarah Agama
  3. Penafsiran Permulaan ‘Jiwa Universal’
  4. Penafsiran Sejarah Keselamatan
  5. Penafsiran Eskatologi
  6. Pelbagai Analisa
  7. Penafsiran Kontekstualisasi
  8. Penekanan pada tata bahasa dan latar belakang

 


Komentar

Postingan Populer