Metode, Pengamatan, Penyelidikan, Penafsiran
Metode Alegoris
Metode Alegoris berangkat dari suatu
asumsi bahwa dibalik arti harafiah yang sudah biasa dan jelas itu terdapat arti
sesungguhnya (kedua) yang lebih dalam yang perlu ditemukan oleh orang Kristen
yang lebih dewasa. Dalam menafsirkan perikop Alkitab mereka membandingkan
masing-masing fakta/informasi yang sudah jelas untuk membuka kebenaran rohani
tersembunyi dibalik pengertian literalnya. Metode Alegoris tidak hanya
populer di gereja-gereja purba, karena dalam gereja modern sekarangpun masih
banyak ditemukan cara penafsiran Alkitab seperti ini. Mereka sering berpendapat
bahwa apa yang Allah katakan melalui penulis-penulis Alkitab bukanlah arti yang
sesungguhnya. Bahaya dari metode ini adalah tidak adanya batasan dan aturan secara
Alkitabiah untuk memeriksa kebenaran beritanya. Bahkan tujuan dan maksud
penulisanpun akhirnya diabaikan sama sekali.
Metode Mistis.
Banyak ahli tafsir Alkitab
menggolongkan metode penafsiran Mistis sama dengan metode penafsiran Alegoris,
karena memang sangat mirip. Penganut metode ini biasanya percaya bahwa
ada arti rohani dibalik semua arti harafiah yang kelihatan. Dan mereka
memberikan bobot yang lebih berat kepada hasil penafsiran mistis daripada arti
yang sudah biasa. Bahaya dari cara penafsiran ini terletak
pada keragaman dan ketidak-konsistenan hasil penafsiran mereka, sehingga tidak
terkontrol banyaknya ragam hasil penafsiran mereka yang sering kali justru
memecah belah jemaat. Hal ni juga memberikan kesulitan dalam
mempertanggung jawabkan doktrin kejelasan (clarity) Alkitab, dan justru
sebaliknya mereka membuat Alkitab tidak jelas dan Allah seakan-akan bermain
tebak-tabakan dengan penafsir untuk menemukan arti rohani dari setiap ayat. Dan
bahaya yang paling besar adalah penafsir menjadi otoritas tertinggi dalam
menentukan kebenaran penafsirannya.
Metode Perenungan (Devotional).
Tujuan metode penafsiran ini adalah
hanya pada pengaplikasiannya saja sehingga penganut metode ini menafsirkan
Alkitab dalam konteks pengalaman hidup mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa
Alkitab ditulis memang untuk tujuan pengkudusan pribadi semata-mata oleh karena
itu arti rohani ayat-ayat tsb. hanya akan dapat ditemukan dari terang
pergumulan rohani pribadi. Oleh karena itu yang paling penting dalam mengerti
Alkitab adalah apa yang Tuhan katakan kepada saya pribadi. Bahaya
dari metode penafsiran ini adalah menjadikan Firman Tuhan menjadi pusat
aplikasi pribadi saja dan mengabaikan memahami karya Tuhan dan campur tangan
Tuhan dalam sejarah. Kelemahan yang lain dari metode ini adalah
akhirnya jatuh pada kesalahan yang sama dengan metode Alegoris dan Mistis,
karena mereka akhirnya mengalegoriskan
dan merohanikan Firman Tuhan untuk bisa sesuai dengan kebutuhan pribadi.
Metode Rasional.
Metode Rasional sangat digemari pada
masa sesudah Reformasi, namun demikian dampaknya masih terasa sampai jaman
modern ini dalam berbagai macam bentuk penafsiran yang pada dasarnya bersumber
pada metode Rasional. Penganut metode Rasional berasumsi bahwa Alkitab bukanlah
otoritas tertinggi yang harus menjadi panutan. Alkitab ditulis oleh manusia
maka berarti merupakan hasil karya rasio manusia. Oleh karena itu kalau ada
bagian-bagian Alkitab yang tidak dapat diterima oleh rasio manusia maka bisa
dikatakan bahwa bagian Alkitab tsb. hanyalah mitos saja. Meskipun metode ini disebut sebagai
“rasional” dalam kenyataan metode penafsiran ini adalah metode yang paling tidak rasional. Jelas bahwa penganut
metode ini sebenarnya tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh
para penulis Alkitab, sebaliknya mereka hanya memperhatikan pada apa yang
mereka pikir penulis Alkitab katakan. Rasio mereka pakai menjadi standard
kebenaran yang lebih tinggi dari Firman Tuhan (Alkitab). Mereka menafsirkan
Alkitab hanya untuk mencari aplikasi bagi standard moral mereka saja.
Metode Literal (Harafiah).
Metode Literal adalah metode
penafsiran Alkitab yang paling tua, karena metode inilah yang dipakai pertama
kali oleh Bapak Hermeneutik Ezra. Metode ini juga yang dipakai oleh
Tuhan Yesus dan para rasul. Metode penafsiran Literal berasumsi bahwa kata-kata
yang dipakai dalam Alkitab adalah kata-kata yang memiliki arti seperti yang
diterima oleh manusia normal pada umumnya, yang memiliki arti yang jelas dan
dapat dipertanggung jawabkan oleh akal sehat manusia. Tujuan Allah memberikan
FirmanNya adalah supaya dimengerti oleh manusia oleh karena itu Allah memakai
bahasa dan hukum-hukum komunikasi manusia untuk menafsirkan arti dan maksudnya.
Yang dimaksud dengan “literal” (harafiah) adalah arti yang biasa yang diterima
secara sosial dan adat istiadat setempat dalam konteks dimana penulis Alkitab
itu hidup. Oleh karena itu apabila arti ayat-ayat Alkitab tidak jelas maka
penafsir harus kembali melihat konteks bahasa dan budaya (sejarah) dimana
penulis itu hidup dan penafsir harus menafsirkan ayat-ayat itu sesuai dengan
terang dan pertimbangan konteks bahasa dan budaya (sejarah) itu. Hal-hal
yang perlu dipahami dalam menggunakan metode Literal:
- Metode Literal tidak berarti
tidak mengakui adanya arti figuratif dari ayat-ayat tertentu dalam
Alkitab.
- Metode Literal tidak berarti
tidak mengakui adanya arti rohani dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.
- Metode Literal tidak berarti
mengabaikan tujuan aplikasi pribadi dalam penafsiran.
- Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti
yang dalam yang harus ditemukan dalam penafsiran.
Beberapa
kelalaian dalam menafsir Alkitab:
- Tidak mempercayai Otoritas
Alkitab
- Melalaikan bahasa asli
- Memberi pengertian baru diluar
konteks
- Melalaikan konteks
- Mengabaikan latar belakang
- Hanya menitik beratkan pada
bagian tertentu
- Kurang memperhatikan
bentuk/struktur
- Memakai Alkitab untuk mencapai
tujuan
- Penafsiran harfiah yang kaku
- Imajinasi yang tidak terkontrol
General
Principles of Interpretation
Asumsi awal
Pekerjaan
hermeneutik diawali dengan asumsi perihal otoritatif. Apakah otoritas
kebanaran ada pada tradisi, akal budi atau kitab suci? Bagi kelompok
Katolik, tradisi adalah otoritatif; bagi kelompok rationalism (didalamnya
berdiri kokoh liberalism dan modernism) akal budi adalah otoritatif; sedangkan
kelompok Injili memandang kitab suci sebagai otoritatif. Bagi kelompok
ini peraturan pertama mengenai penafsiran adalah Alkitab adalah penentu
terakhir.
Pokok
mengenai otoritas alkitabiah sering dikaitkan dengan persoalan mengenai
inspirasi dari Alkitab. Seseorang tidak akan mempercayai Alkitab
sepenuhnya sebagai otoritas apabila ia meragukan bahwa Alkitab adalah inspirasi
Firman Allah. Otoritas berkaitan dengan kemauan, ketaatan dan
melakukannya. Inspirasi berhubungan dengan intelektualitas, pengertian dan
pengetahuan. Sehingga inspirasi yang benar hanya akan lahir dari otoritas
yang benar.
Sui
Ipsius Interpress
Alkitab
menyatakan bahwa penafsiran pertama kali dikerjakan oleh iblis (Kej.
3:1-5). Perhatikanlah bahwa iblis tidak menolak bahwa Allah lah yang
telah mengatakan firman-Nya, namun ia memberikan pengertian yang keliru.
Kesalahan terjadi karena penambahan dan pengurangan nilai kebenaran.
Kej.
2:16 –
17
vs
Kej. 3:1, 4
Tidak
boleh makan
+ raba, boleh makan semua
Nama
pohon
disebutkan
nama pohon tidak disebutkan
Makan
– makan
makan saja
Pasti
akan Mati
tidak akan kami mati, melainkan jadi….
Pengurangan
adalah hanya mengutip bagian yang disenangi, dan meninggalkan yang sisa; penambahan
adalah menyatakan apa yang lebih dari apa yang diungkapkan Alkitab. Sikap
yang tepat adalah membiarkan Alkitab menerangkan dirinya sendiri.
Alkitab akan menginterpretasikan dirinya sendiri apabila kita mempelajarinya
secara wajar.
Peranan
Roh Kudus
Beberapa
bagian Alkitab yang perlu disimak:
Matius
13:9
II
Korintus 4:3-4
I
Korintus 2:14
Yohanes
16:13
Objektifitas
Pengalaman
pribadi – apapun pengalaman itu – harus disesuaikan dengan Alkitab dan
diinterpretasikan. Pengalaman pribadi hanya akan bernilai apabila
ditafsirkan menurut terang Alkitab. Pengalaman pribadi merupakan hal yang
penting dalam perjalanan iman, namun berartinya ia hanya apabila ditempatkan
pada jalan yang benar dan wajar.
Motivasi
utama Alkitab
Pada
saat Allah mewahyukan kebenaran-Nya dan Roh Kudus mengawasi penulisannya, maka
semua dimaksudkan agar terjadi perjumpaan dan percakapan antara Allah dengan
manusia. Alkitab hadir untuk membentuk kehidupan manusia, namun perlu
untuk memikirkan dua hal berikut ini:
- Beberapa ayat tidak dapat
diaplikasikan dengan cara yang sama persis, seperti pada saat
ditulis. Misalnya Imamat 7:1-5, sebab Perjanjian Baru menulis Efesus
2:15.
- Aplikasi haruslah lahir dari
interpretasi yang tepat
Setiap
orang adalah penafsir
Prinsip
ini merupakan asalah satu dari tujuan reformasi gereja pada abad 16.
Selama beberapa abad, orang percaya telah begitu bergantung pada otoritas
gereja dalam menafsirkan Alkitab dan itu menjadi alat gereja untuk memeras
jemaat. Reformasi menyebabkan setiap pribadi mampu diperengkapi untuk
menafsir Alkitab, sehingga ia dapat mengalami perjumpaan dan percakapan dengan
Allah. Bahkan Roh Kudus memberikan kepekaan kepada pembaca sehingga mampu
memahami pesan Tuhan bagi dirinya. Allah sendiri meminta setiap orang
percaya untuk memiliki waktu khusus dalam perjumpaan dan percakapan dengan
Allah.
Peranan
sejarah gereja
Sejarah
telah membuktikan bagaimana Allah menang dalam memelihara sabda-Nya, dan bakan
sejarah gereja telah menjadi bukti bahwa gereja tidak lah dalam posisi
menentukan apa yang Alkitab ajarkan, namun apa yang Alkitab tetapkan untuk
diajarkan oleh gereja. Penafsiran dari gereja mempunyai otoritas hanya
sepanjang itu diajarkan dan diakui oleh Alkitab. Sejarah tidak
dimaksudkan menjadi penentu dalam penafsiran Alkitab, karena sejarah juga yang
membuktikan bahwa ada waktu-waktu dimana gereja bersikap tidak jujur terhadap
Alkitab.
Janji
Allah yang kekal
Sebagian
besar dari Alkitab berisi janji. Ini berarti bahwa janji-janji dari Allah
yang terdapat dalam Alkitab merupakan sarana Allah mengungkapkan kehendak-Nya
atas manusia.
Grammatical
Principles of Interpretation
Alkitab
hanya memiliki satu pengertian dan harus ditafsirkan hurufiah
Komunikasi
adalah prinsip penting dalam menyampaikan sebuah pesan. Komunikasi sebuah
pesan bermaksud pertama menyampaikan buah pikiran dan kedua bahwa bahasa adalah
sarana terpenting dan dapat dipercaya dari sebuah komunikasi. Sebagai
penerima pesan penting bagi kita untuk memikirkan dua hal yaitu pertama suatu
keinginan untuk tidak melaksanakan apa yang dipesankan atau kedua keinginan
untuk melaksanakan apa yang dipesankan. Dua pokok pikiran ini akan
mendorong kita melihat setiap isi Alkitab. Beberapa role yang
harus dipahami:
- 1.
Tafsirkan perkataan-perkataan sesuai dengan pengertian perkataan-perkataan
tersebut pada masa penulis
- 2.
Tafsirkan suatu perkataan dalam hubungannya dengan kalimat dan konteks
- 3.
Tafsirkanlah suatu bagian Alkitab sesuai dengan konteksnya
- a.
Makna figurative
- b.
Makna Nubuatan
Historical
Principles of Interpretation
Bagian
berbicara perihal tata-cara/susunan historical dari teks.
Pertanyaan-pertanyaan seperti kepada siapa dan oleh siapa kitab ditulis?
Apa dan bagaimana latar belakang serta kebiasaan konteks sekitar teks?
Merupakan bagian dari hal-hal yang diperhitungkan dalam bagian ini.
Beberapa aturan main yang penting untuk diperhatikan:
Alkitab
hanya dapat dimengerti dalam terang sejarah Alkitabiah
Sejarah
konteks seputar teks perlu untuk dipelajari, beberapa pertanyaan yang penting
diajukan adalah:
- Kepada siapa kitab itu ditulis?
- Apa latar belakang dari penulis
dan kepenulisan?
- Apakah pengalaman, kejadian
atau kesempatan pengakibat pesan disampaikan?
- Siapakah pemeran utama dalam
kitab?
Misalnya:
Apa
makna yang kita dapat temukan dalam kitab Kejadian pasal 1 – 11?
Bandingkanlah itu dengan Musa sebagai penulis dan Israel sebagai penerima
pesan.
Biasanya
kita cenderung membacanya dengan desakan: Apa yang Allah katakan kepada
saya? Bandingkanlah dengan rumusan: Apa yang dikehendaki Allah untuk
disampaikan penulis kepada pembaca/pendengar dalam original meaning?
Dengan demikian tidak terjadi ‘lompatan sejarah’ guna menemukan makna dan nilai
kebenaran. Harus diperhatikan perihal adanya kontinuitas penyataan dalam
Alkitab antara OT dan NT; OT World dan modern World sebab kesemuanya
terdiri dari: same God, same world, same kind of people.
Sehingga nilai historis tetap dapat dipertahankan dan bahkan dipelihara
maknanya, barulah dicari maknanya dalam konteks modern.
Progresifitas
dan continuity penyataan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Secara
sepintas terlihat adanya perbedaan penampilan antara Perjanjian Lama dengan
Perjanjian Baru, bahkan tidak jarang kita membaginya dengan sebutan masa kutuk
dan masa anugerah. Hal ini memberikan indikasi bahwa Perjanjian Lama
adanya penyataan yang keliru tentang Allah dan yang sejati hanya dapat
ditemukan dalam Perjanjian Baru. Padahal sejarah telah memberi bukti yang
bertolak belakang dengan asumsi kebanyakan orang tadi.
Seharusnya
kita menempatkan Perjanjian Lama dalam panggung yang sama ketika melihat
Perjanjian Baru, bahkan hanya dengan memahami Perjanjian Lama kita dapat
memahami Perjanjian Baru. Dalam pengertian lain, Perjanjian Baru adlah
sebuah commentary terhadap Perjanjian Lama. Ini terbukti misalnya dalam
aspek penyataan Allah mengenai maksud dan rencana keselamatan manusia, yang
mistery bagi Perjanjian Lama tetapi tersingkap dalam Perjanjian Baru;
sebaliknya nilai mistery karya Allah melalui Yesus Kristus menjadi dapat
dipahami dalam gambaran Perjanjian Lama. Misalnya, untuk mengerti
ungkapan dalam Yohanes 3:14, maka kita perlu memahami apa yang musa perbuat
atas orang Israel (Bil. 21:9).
Fakta
dan peristiwa historical sebagai symbol kebenaran rohani hanya apabila
dinyatakan demikian
Symbol
(Yun, Sunbolon) adalah tanda pengingat, tujuannya adalah menghadirkan
suatu objek tertentu dalam wujud perlambangan agar makna yang sebenarnya dapat
terus diingat. Symbol digunakan untuk menyatakan sesuatu oleh hubungan,
asosiasi, keserupaan secara kebetulan, untuk memperlihatkan hal-hal yang
sebenarnya tidak terlihat. Misalnya : 1 Kor. 10:1-4:
SIMBOL
ARTI
Melintasi
laut dan awan (Kel.
14:22)
Merujuk pada baptisan
Bukit
batu yang mengeluarkan air (Bil. 20:11)
Merujuk pada Kristus
Bisa
saja ada orang yang menafsirkan bagian tersebut secara literal sebagai
penyataan bahwa laut merah adalah symbol dari darah Kristus, yang menyediakan
suatu jalan ke Kanaan Sorgawi. Namun, tentu saja tafsiran seperti ini
tidak dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya contoh tafsir alegoris
terhadap permohonan Paulus agar Filemon memberi pengampunan kepada Onesimus,
yang kemudian ditafsirkan sebagai Filemon sebagai symbol Allah, Onesimus
sebagai symbol umat dan Paulus sebagai symbol Kristus. Ini berbeda dengan
penyataan bahwa apa yang diminta Paulus kepada Filemon atas nama Onesimus
adalah apa yang telah Kristus lakukan kepada kita. Aplikasi ini ditarik
dari peristiwa historis dengan tanpa mengubah pengertiannya.
Theological
Principles of Interpretation
Teologi
secara sederhana adalah study perihal Allah dan hubungan-Nya dengan
dunia. Alkitab memiliki peranan penting sebagai sumber study
teologi. Dalam prakteknya, teologi berupaya menarik kesimpulan
dari berbagai topic yang luas dan penting dalam Alkitab. Bahkan terbukti
bahwa prinsip-prinsip teologislah yang telah membentuk suatu doktrin.
Grammatikal
sebagai pembimbing pemahaman teological
Peraturan
ini membawa kita pada sebuah prinsip bahwa hanya dengan mengerti apa yang
dikatakan oleh ayat, frase atau pasal kita baru dapat menemukan pengertian
sejatinya. Misalnya: Ibrani 10:26. Kebanyakan orang menggunakan
bagian ini untuk mengajarkan bahwa adalah mungkin bagi orang Kristen untuk
kehilangan keselamatannya. Padahal bagian ini berbicara perihal
orang-orang Yahudi yang mempercayai kurban-kurban persembahan binatang sebagai
antisipasi dari Mesias yang akan datang, dengan tidak menyadari bahwa Ia telah
datang. Penulis kitab Ibrani menyatakan fakta dari pengorbanan
Kristus. Pernyataan ini mengatakan bahwa sekali orang-orang Yahudi ini
mengerti sebab-sebab dari kematian Yesus dan dengan sengaja mengabaikannya,
degan cara kembali pada korban-korban persembahan mereka, maka tidak ada lagi
pengorbanan yang akan Allah sediakan pada masa yang akan datang.
Kesimpulan
hanya setelah memahami
Amsal
18:3 berkata: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah
kebodohan dan kecelaannya.” Adalah suatu kebodohan untuk tiba pada
kesimpulan tanpa mendengarkan semua argumentasi. Demikian juga, adalah
suatu kesalahan untuk menetapkan kesimpulan-kesimpulan mengenai sesuatu doktrin
tertentu sebelum mempelajari segala sesuatu yang dikatakan Alkitab mengenai
pokok tersebut. Misalnya ketika kita berhadapan dengan beberapa bagian
Perjanjian Baru yang seoalah-olah menyatakan bahwa kita ada diluar jangkauan
hukum Taurat (Gal. 5:18), sehingga kita dapat melakukan segala sesuatu dengan
sesukanya. Seharusnya kita perlu memperhadapkan bagian tersebut dengan
tulisan Paulus dalam Roma 6:1-4.
Tidak
ada pertentangan dalam pengajaran sekalipun itu terlihat kontras
Alkitab
kaya akan hal-hal yang terlihat memiliki “makna ganda” yang keduanya saling
bertentangan. Kontradiksi ini menjadi alasan bagi sebagian orang untuk
melihat betapa cacatnya Alkitab itu. Padahal kita mereka belum memikirkan
secara dalam paradox tersebut, yang sebenarnya tidaklah bertentangan.
Beberapa hal yang dianggap sebagai penyesatan Alkitab adalah:
- Trinitas
- Dua sifat Kristus
- Sumber dan adanya kejahatan
- Pemilihan berdaulat dan pra
pengetahuan Allah
- Ungkapan Allah menyesal (Kej.
6:6; Kel. 32:14; II Sam. 24:16; Yun. 3:10; band, Bil. 23:19)
Ajaran
harus dibangun berdasarkan study Alkitabiah
Pada
akhirnya tafsir biblikallah yang harus menjadi perhatian dari setiap penafsir
Alkitab, sebab hanya dengan menggunakan prosedur penyelidikan biblikallah maka
hasil yang didapatkan adalah Alkitabiah. Beberapa hal yang harus
dijadikan sebagai pengarah tafsir adalah asumsi:Focus in Biblical
Interpretation
- Alkitab adalah penyataan Allah
yang tidak dapat dibatasi oleh waktu
- Alkitab berisi tulisan dengan
melibatkan unsur-unsur seputar penulisannya
- Allah memberikan pengilhaman
dengan melibatkan seluruh keberadaan penulis
- Baik penulis, teks, maupun
original audience merupakan hal yang sama pentingnya untuk diperhatikan
guna menemukan makna kekinian.
Popular
and academic concern in biblical studies
Biasanya
kita terjebak pada dua kutub yang berbeda, yaitu: sebagai kelompok popular atau
kelompok akademik. Kedua ekstrim ini melihat Alkitab secara tidak tepat.
Kelompok
Popular:
- Melihat bahwa Alkitab adalah
buku yang tidak dapat dibatasi waktu
- Apa yang Allah ingin nyatakan
kepada saya?
Kelompok
Akademik:
- Alkitab adalah buku seputar
sejarah masa lalu dan harus dilihat dalam konteks masa lalu
- Apa yang dikehendaki penulis
atas pendengar/pembacanya kala itu?
Example
of Genesis 12:10-20
Alur
dramatic dari kisah Abraham:
12:10
Abraham pergi ke Mesir karena kelaparan
12:11-16
Abraham dan Sarai berencana dan Sarai diambil Firaun dan Abraham menjadi tambah
kaya
12:17
Tuhan menghukum Firaun karena Sarai
12:18-19
Firaun melepaskan Sarai kembali pada Abraham
12:20
Abraham meninggalkan Mesir dengan lebih kaya
Pengertian
Original
Implikasi Original
Demikianlah
mereka akan ada di Mesir
Rencana Allah atas semuanya
Keturunan
mereka akan ‘di jual’
Allah sudah mengingatkan sebelumnya
Intervensi
Allah atas
peristiwa
Allah berdaulat atas segala sesuatu
Dilepaskan
dari
Firaun
Percaya pada Allah adalah kunci kesuksesan
Definisi
istilah dan posisi teologis
Arti
Kata Hermeneutik
- Kata Hermeneutik dalam
bahasa Ibrani adalah pathar, yang artinya adalah menafsir” (to
interprete). Sedangkan kata bendanya adalah pithron,
artinya “tafsiran” (interpretation). Kata ini paling umum digunakan
dalam konotasi menafsirkan mimpi, karena mimpi berwujud simbol yang
artinya tidak jelas. Kej 41:8,12,15.
- Kata Hermeneutik dalam
bahasa Yunani adalah hermeneutikos, berasal dari kata hermeneuo,
artinya “menafsir” (to interprete). Kata benda yang dipakai
adalah hermeneia, artinya “tafsiran” (interpretation).
Kata ini ambil dari kata Hermes, yaitu nama dewa
Yunani yang tugasnya membawa berita-berita dari dewa-dewa kepada manusia.
Kis. 14:11-12.
Definisi
Hermeneutik
- Non-Kristen. Hermeneutik
dimengerti sebagai ilmu umum tentang linguistik; atau peraturan-peraturan
yang dipergunakan untuk mencari arti sesungguhnya atau
menafsir/menjelaskan suatu pengertian yang tidak jelas artinya.
- Kristen. Hermeneutik adalah
bagian dari ilmu Teologia Biblika yang dalam perkembangannya memiliki tiga
pengertian:
- Ilmu
yang mempelajari teori-teori, prinsip-prinsip (aturan-aturan) dan
metode-metode penafsiran Alkitab.
“Hermeneutics is the science that teaches us the principles, laws, and methods of interpretations.” (L. Berkhof)
“Hermeneutics is the science of correct interpretation of the Bible.” (Bernard Ramm) - Seni
yang menguji kemampuan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip penafsiran
Alkitab.
- Ilmu yang mempelajari keseluruhan proses penafsiran
(konsep keseluruhan dari tugas penafsiran), terutama dalam dimensi
spiritual bagi kepentingan pertumbuhan rohani penafsir.



Komentar
Posting Komentar