Pengertian HERMENEUTIK

 


            Hermeneutik berasal dari kata “Hermeneutics (Inggris), dan kata ini berasal dari “hermeneuo” (Yunani). Arti kata ini adalah menginterpretasi, menjelaskan, atau menterjemahkan. Kata ini berhubungan dengan cerita mitos Yunani yaitu dewa Hermes yang bertugas sebagai penyambung berita dari para dewa kepada manusia. Dengan demikian dari sejak semula penggunaannya kata ini tidak dipakai untuk penafsiran Alkitab saja.

            Secara umum arti kata ini menunjukkkan penggunaannya pada peraturan-peraturan yang dipergunakan untuk mencari arti sesunguhnya misalnya kesenian, sejarah, literatur, purbakala dan penerjemahan. Bahkan dalam hidup sehari-hari untuk cara-cara tertentu kita harus menfsirkan sesuatu untuk memahami apa yang dilihat dan didengar oleh seseorang. Ketika kita mengendarai mobil dan di sebuah tikungan ada tanda “awas ada lobang 200 meter!”, seseorang pasti langsung menafsir tanda itu. Apakah rambu itu masih berlaku dan lupa dicabut, Apakah dalam jarak 200 ada lobang di depan atau apakah ada lobang sepanjang 200 meter? Dll. Dalam menentukan arti yang sebenarnya dari rambu inilah yang bersangkutan harus mempergunakan metode penafsiran.

            Dalam dunia teologi kata “hermeneutik” berarti menunjuk seluruh proses penafsiran yang membawa pembaca modern mengerti akan berita yang disampaikan Alkitab. Hermeneutik tidak hanya ternyata sebagai ilmu pengetahuan tetapi juga adalah kesenian. Sebagai ilmu pengetahuan hermeneutik menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari arti yang sesungguhnya dari Alkitab, prinsip yang dipergunakan merupakan satu sistem yang masuk akal, dapat diuji dan dipertahankan. Tetapi pada pihak lain sebagai suatu kesenian hermeneutikpun harus menghasilkan sesuatu yang indah, harmonis, bahkan pada kasus tertentu ia menuntut pendekatan yang berbeda dengan pendekatan ilmiah.

            Hal ini  berarti bukan setiap orang yang menghafal peraturan-peraturan hermeneutik, kemudian secara otomatis akan menjadi seorang penafsir yang ulung. Seorang penafsir Alkitab yang baik memerlukan sesuatu seperti rasa seni yang sanggup menyelami perasaan penulis, melihat keindahan bahasa penulis dan merubah karya penafsirannya menjadi sesuatu yang indah dibaca dan didengar.

            Dengan demikian kesimpulannya dari hermeneutik: Suatu bagian teologi yang bersifat ilmiah dan seni, yang memperhatikan hukum tertentu bahkan melibatkan diri si-penafsir sepenuhnya, dengan tujuan mencari maksud yang disampaikan oleh penulis Alkitab.

 

 

 

Penafsiran: Kebutuhan yang Nyata

            Orang awam sering berkata kepada Pendeta, pengajar atau guru yang berhubungan dengan keprofesionalan bidang Alkitab yaitu “Kita tidak perlu menafsir Alkitab tetapi baca saja dan lakukan”. Menurut mereka Alkitab bukanlah buku yang tidak jelas artinya dan mereka membantah bahwa sesungguhnya orang yang tidak punya kecerdasan otak sekalipun dapat membaca dan memahaminya. Hal ini ada kebenarannya karena terlalu banyak pendeta atau pengkhotbah, terlalu banyak menggali sekitarnya sehingga mengeruhkan air yang ada. Apa yang sebenarnya jelas waktu dibaca dibuat mereka menjadi tidak jelas.

            Kita jelas percaya bahwa dengan hanya membaca, percaya dan taat seharusnya memang Alkitab tidak menjadi buku yang sulit dipahami kalau dipelajari dengan seksama. Masalah manusia yang terutama bukanlah kesulitan memahami misalnya Filipi 2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah” bukanlah dalam pengertiannya, tetapi dengan hal mentaatinya. Dari sisi yang lain tentu kita menyetujui pandangan kaum awam tadi bahwa seringkali para pengkhotbah dan guru Alkitab terlalu sering cenderung menggali dahulu baru kemudian melihat. Dengan demikian jelas ia menutupi pengertian yang jelas dari teks itu, yang sering justru terdapat di permukaannya.

            Selanjutnya perlu juga dipahami bahwa menafsirkan Alkitab bukanlah bertujuan untuk mencari sesuatu yang unik yang sebelumnya belum pernah dilihat oleh orang manapun. Penafsiran yang bertujuan demikian biasanya dapat dihubungkan dengan kesombongan untuk melebihi kemampuan manusia yang lain. Maksudnya bukan mengatakan bahwa pemahaman yang tepat mengenai suatu ayat Alkitab tidak akan nampak unik bagi seorang yang baru mendengarnya untuk kali pertama. Akan tetapi maksudnya keunikan bukanlah tujuan utama dari sebuah penafsiran.

            Berarti secara sederhana dapat diungkapkan tujuan penafsiran adalah: Menemukan pengertian yang jelas dari teks itu. Dan faktor terpenting yang dapat disediakan untuk tugas itu adalah pikiran sehat yang sudah diterangi Tuhan. Patokan untuk penafsiran yang baik adalah; bahwa penafsiran itu membuat teks tersebut dapat dimengerti dengan baik. Oleh karena itu, penafsiran yang tepat akan melagakan pikiran dan sekaligus menempelak atau meneguhkan hati.

            Namun kalau hanya bertujuan memperjelas arti teks mengapa harus menafsir? Apakah tidak cukup jelas kalau hanya dengan membaca saja? Dalam satu sisi hal ini memang benar, tetapi dalam arti yang tepat alasan itu kurang realistis karena dua faktor yaitu: Sifat si pembaca dan sifat Firman Tuhan.

 

 

 

 

1. Sifat Pembaca: Sebagai Penafsir

            Mau  atau tidak mau, suka atau tidak seorang pembaca pada waktu yang sama juga adalah seorang penafsir. Untuk alasan inilah diperlukan usaha menafsir ketika seseorang membaca Alkitab. Pada waktu seseorang membaca tentu saja ia mengharapkan memahami apa yang sedang dibacanya. Dengan demikian kita juga cenderung ketika membaca Alkitab kita berfikir bahwa pengertian kita sama dengan maksud Roh atau maksud pengarang mula-mula Alkitab. Namun masalah datang segera karena ternyata kita menghayati suatu teks sesuai dengan keadaan kita, pengalaman kita, budaya kita, gagasan kata-kata yang telah kita miliki sebelumnya. Jelas saja penghayatan yang demikian tanpa disengaja akan menyesatkan atau menyebabkan kita menginterpretasi  bermacam-macam gagasan yang sebenarnya tidak terdapat dalam teks itu.

            Kebanyakan orang Kristen sekarang ketika membaca teks tentang jemaat yang beribadah, secara otomatis membayangkan orang-orang dalam gedung duduk di bangku gereja yang sama seperti milik gereja mereka sendiri. Kata yang lain seperti “keinginan tubuh” bisa langsung diartikan sebagai tubuh yaitu tubuh jasmani, tetapi sebenarnya tubuh di sana artinya adalah masalah rohani yaitu tabiat berdosa, dll. Itulah sebabnya, tanpa bermaksud demikian, pembaca sedang menafsirkan sementara ia membaca, dan sayang sekali terlalu sering seseorang menafsirkan secara tidak tepat.

            Sehingga jelas sekarang bahwa bagaimanapun juga pembaca Alkitab sudah terlibat dalam penafsiran. Karena terjemahan Alkitab bahasa apapun sudah merupakan suatu bentuk penafsiran. Apapun terjemahan yang dipakai, yang merupakan titik permulaan bagi diri seseorang, sebenarnya merupakan hasil akhir dari banyak karya ilmiah. Para penerjemah biasanya diminta untuk mengadakan pilihan tentang arti dan pilihan mereka itu akan mempengaruhi pengertian kita. Oleh karena itu, penerjemah yang baik mempertimbangkan masalah perbedaan bahasa kita.

            Perbedaan-perbedaan arti dalam gereja Kristen sekarang ini pun jadi berbeda misalnya ada yang percaya baptisan kanak-kanak tetapi sebagian lain lagi tidak. Sebagian gereja percaya baptisan selam tetapi sebagian lain percaya baptisan percik, sebagian gereja mengizinkan wanita untuk naik mimbar tetapi sebagian lainnya tidak. Masing-masing teks diangkat untuk mendukung pandangan mereka. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi?, jelas karena semua pembaca Alkitab pada saat yang sama juga menjadi seorang penafsir. Apa yang gamblang dari teks tidak semuanya gamblang bagi para pembaca.

            Selain perbedaan yang muncul di kalangan Kristen, ternyata perbedaan yang tajam ditunjukkan oleh para bidat yaitu selain patuh pada Alkitab ternyata juga patuh pada kekuasaan /otoritas yang lain. Dalam hal ini mereka membengkokkan kebenaran melalui cara mereka memilih ayat-ayat dari Alkitab sendiri, misalnya Saksi Yehovah yang menyangkal keilahian Kristus, Pembaptisan orang mati oleh Mormon, Penggunaan ular dalam ibadah oleh kelompok Appalachian, menegaskan bahwa ajaran mereka “didukung” oleh ayat Alkitab.

            Dengan adanya keanekaragaman ini, baik di dalam maupun di luar gereja, dan semua perbedaan di antara semua ahli sekalipun, yang seharusnya mengetahui “ketentuan-ketentuan” itu, tidaklah mengherankan jika ada orang yang menganjurkan supaya tidak ada penafsiran, hanyalah membaca. Tetapi sebagaimana yang terlihat, hal itu adalah pilihan yang keliru. Pencegah pada penafsiran yang buruk bukanlah tidak ada penafsiran, melainkan penafsiran yang baik, didasarkan pada pedoman pikiran sehat.

 

2. Sifat Firman Tuhan: Manusiawi dan Ilahi

            Alasan terpenting untuk kebutuhan menafsir terletak dalam sifat Firman Tuhan itu sendiri yaitu manusiawi dan ilahi. Alkitab adalah Firman Allah yang diberikan di dalam bahasa manusia dalam sejarah. Sifat rangkap inilah yang menuntut kita melakukan penafsiran.

            Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka ia selalu relevan, yaitu Alkitab berbicara kepada seluruh umat manusia, dalam segala zaman dan dalam segala kebudayaan. Oleh karena Alkitab itu adalah Firman Allah, maka harus didengarkan dan ditaati. Akan tetapi karena Allah memilih untuk mengucapkan firman-Nya melalui bahasa manusia dalam sejarah, maka setiap buku dalam Alkitab juga memiliki keistimewaan historis. Setiap dokumen dibatasi oleh bahasa, waktu dan kebudayaan di mana dokumen itu pada mulanya ditulis. Penafsiran Alkitab dibutuhkan karena “ketegangan” yang ada di antara relevansi kekekalan dengan keistimewaan historisnya.

            Tentu saja ada orang tertentu yang melihat;

1.       Alkitab hanyalah sebuah buku karangan manusia saja, dan bagi orang semacam ini penyelidikan Alkitab dibatasi dari sisi historisnya saja. Minat mereka adalah pada gagasan-gagasan agama Yahudi, Yesus atau gereja mula-mula. Itulah sebabnya tugas itu hanyalah tugas historis semata-mata.

2.      Sebaliknya ada orang yang berfikir mengenai Alkitab dari sisi relevansi kekekalannya saja, maka mereka cenderung memikirkan hanyalah sekumpulan dasar pikiran yang harus diyakini dan perintah-perintah yang harus ditaati (walalupun mereka memilih dengan teliti diantara berbagai dasar dan perintah itu). Contohnya Ul 22:5 “seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki” didesak secara harafiah. Tetapi mengabaikan hal yang lain secara harafiah seperti “jangan menanam dua jenis benih di kebun anggur” (22:9).

Bagaimanapun juga Alkitab bukanlah serangkaian dasar pikiran dan perintah. Alkitab bukanlah hanya sekumpulan perintah dari Atas dari Pemimpin Agung untuk ditaati sampai detail bahkan titik, koma. Bukan cara demikian Allah berbicara kepada manusia tetapi Ia lebih suka mengutarakan kebenaran-kebenaran-Nya yang kekal di dalam keadaan dan peristiwa khusus dalam sejarah manusia. Ini juga tentunya yang memberikan pengharapan kepada kita.

Justru karena Allah memilih untuk berbicara dengan lingkup sejarah manusia yang nyata, kita dapat meyakini bahwa perkataan yang sama ini akan berbicara berulang-ulang dalam sejarah kita sendiri yang “nyata” sebagaimana yang terjadi sepanjang sejarah manusia. Mengingat faktor kedua ini mengapa kita perlu penafsiran?

  1. Ketika berbicara melalui orang-orang yang nyata, dalam berbagai keadaan, selama lebih 1500 tahun, Firman Tuhan diungkapkan dalam pola kosa kata dan pikiran orang-orang itu dan dibatasi oleh kebudayaan pada zaman dan keadaan itu. Artinya firman Allah kepada kita, pertama-tama adalah firman-Nya kepada mereka. Jika mereka akan mendengarkan firman Allah, itu hanya bisa terjadi melalui peristiwa-peristiwa dan dalam bahasa yang dapat mereka mengerti. Masalah kita adalah bahwa zaman mereka begitu jauh dengan zaman kita, dan kadang-kadang pikiran merekapun sangat jauh dengan pikiran kita.
  2. Segi penting lain dari penafsiran adalah sisi manusiawi Alkitab ialah bahwa untuk menyampaikan firman-Nya kepada semua keadaan manusia. Allah memilih untuk menggunakan hampir setiap macam komunikasi yang ada: cerita sejarah, silsilah keturunan, macam-macam hukum, aneka jenis syair, nubuat, teka-teki, drama, riwayat hidup, perumpamaan, khotbah, wahyu, dll. Untuk menafsirkan dengan benar teks Alkitab “pada waktu itu” kita tidak hanya harus mengakui beberapa kaidah umum yang berlaku untuk semua perkataan Alkitab, tetapi mengerti secara khusus mengapa memakai gaya-gaya itu, sehingga bermanfaat secara benar bagi kita sekarang

 


Komentar

Postingan Populer