Syarat-Syarat Seorang Penafsir
Keyakinan
dasar orang Kristen seharusnya adalah bahwa semua orang percaya berhak mambaca
dan menafsirkan Alkitab. Namun perlu
diperhatikan bahwa seorang penafsir yang baik adalah seorang yang sudah
memperoleh persiapan yang memadai. Dengan demikian ada suatu keuntungan
lebih dalam hal ini yaitu masalah pendidikan teologi yang cukup baik, sehingga
ia dapat membaca dengan lancar bahkan menguasai bebarapa bahasa asing. Bahkan
ia juga akan lebih mudah mengerti isi Alkitab jika ia sudah memiliki
pengetahuan dasar tentang bahasa-bahasa yang dipakai oleh pengarang-pengarang
Alkitab.
Harus diakui pula untuk mempelajari
dan memahami bahasa asli itu tidaklah perkara yang mudah. Namun tidak berarti
bagi mereka yang tidak berkesempatan mempelajarai bahasa aslinya tidak dapat
mengerti Alkitab. Dan perlu dipahami juga bahwa mereka yang mengerti bahasa
aslipun bukan berarti mereka pasti lebih mengerti Alkitab. Yang jelas
pengetahuan bahasa asli walaupun hanya dasar-dasar saja sangat menolong upaya
penafsiran.
Selain bahasa, pengetahuan yang lain
juga diperlukan dalam penafsiran sepeerti sejarah, adat-istiadat, alam pikiran
penulis, geografis, daerah dan zaman Alkitab juga perlu. Secara mental dan
intelek seorang penafsir harus adalah seorang yang sehat, dapat berfikir dengan
jelas, teratur bahkan sedikit “berfantasi”. Selain itu diharapkan juga ia
seorang yang bersikap obyektif, terbuka, jangan membatasi diri pada pandangan
teologi belaka.
Di samping semua itu yang tidak
boleh dilupakan adalah pengalaman dan pertumbuhan kerohanian seseorang juga
mengambil peranan yang sangat penting. Banyak kebenaran Alkitab yang tidak
dapat dijelaskan sekarang, mungkin suatu hari nanti seiring pertambahan
pengatahuan dan kerohanian seorang penafsir menjadi lebih jelas dan konkrit.
Penafsiran berhubungan erat dengan kesusasteraan, sehingga seorang penafsir
yang ideal adalah seorang yang tertarik kepada pengetahuan dasar tentang
kesusasteraan.
Dengan demikian seorang penafsir
yang baik adalah seorang yang senang membaca dan sensitif terhadap apa yang ia
baca. Selain syarat-syarat ini, masih terdapat yang lain yang perlu dibicarakan
secara khusus.
1. Sudah lahir baru
Tentu saja seorang yang belum lahir
baru juga dapat mengerti arti kata-kata Alkitab, tetapi ini tidak berarti ia
sudah mengerti Alkitab. Bagi orang yang belum lahir baru segala sesuatu yang
bersifat rohani adalah kebodohan karena tidak masuk akal baginya (I Kor 2:14).
Penyebabnya jelas karena perhatian utama seorang yang belum lahir baru adalah
hal-hal duniawi, kepentingan pribadi dan selalu menghakimi Firman Allah dengan
pikiran yang sempit.
Contoh sederhana dalam hal ini
adalah Paulus sebelum diterangi Yesus, ia merasa sudah paham Alkitab dan Yesus
Kristus, tetapi barulah setelah lahir baru ia memahami firman Tuhan dalam arti
yang sesungguhnya, dan mengenal siapakah sebenarnya Tuhan Yesus. Hal ini tidak
berarti pendidikan Paulus tidak penting. Yang dimaksud di sini adalah sebelum
lahir baru, mata rohani seseorang belum terbuka untuk melihat kebenaran Allah.
2. Memiliki sikap dan motivasi yang benar
Kedua kenyataan ini kalau dimiliki
oleh seorang penafsir maka ia akan dapat berkat dari padanya, namun sebaliknya
terjadi jika motivasi dan sikap yang tidak benar dalam menafsir. Dengan
demikian beberapa sikap ini hendaknya dimiliki seorang penafsir antara lain:
a. Rindu firman
Allah (Mz 119:103)
Jika seseorang mencintai Allah, pasti orang itu mencintai firman-Nya.
Kemudian jika penyelidikan firman tidak didasari dengan suatu kerinduan yang
sungguh-sungguh terhadap firman, maka pekerjaan itu pastilah membosankan dan
tidak mendatangkan berkat. Kerinduan yang sedemikian digambarkan Yesus dalam
Mat 5:6 yaitu sebagai orang yang sedang lapar dan haus akan kebenaran. Ini
merupakan suatu keinginan naluri yang kuat, yang tidak dapat diabaikan begitu
saja. Jika seseorang datang kepada firman Allah dengan kerinduan demikian,
pasti ia akan dipuaskan
b. Sikap seorang
murid (Yes 50:4)
Karena seorang murid adalah seorang
yang sedang belajar, maka seorang murid yang baik adalah seorang yang bersedia
mengakui kekuranganyya dalam banyak hal terutama dalam firman. Kesediaan
mengakui kekurangan inilah yang menyiapkan hati yang bersedia untuk terus
belajar dengan rendah hati. Seorang murid dalam hal ini harus bersedia membayar
harga dalam penuntutannya menuju kebenaran Allah.
Seorang murid yang memiliki sikap
demikian pasti diberkati Allah. Gambaran seperti ini tampak dalam diri para
nabi PL maupun para Rasul di PB yang ketika firman Tuhan datang kepada mereka,
mereka tidak menolak atau membantah, tetapi dengan rendah hati menerima firman
Allah. Jelas , kadang-kadang firman Allah ini tidak enak diterima dan sulit
untuk dijalankan, tetapi sebagai seorang murid dan hamba Tuhan, mereka bersedia
berkorban untuknya. Sikap demikian juga hartus dimiliki oleh orang yang ingin
belajar Alkitab.
c.Memiliki iman
(Ibr 11:6)
Keyakinan
mutlak yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin menafsir Alkitab adalah
bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang tidak bersalah. Walaupn dalam Alkitab
terdapat mujizat-mujizat, ayat-ayat yang sulit dimengerti, tetapi bagi orang
yang beriman, yang percaya pada kebijaksanaan Allahsemua ini tidaklah menjadi
soal. Pembaca Alkitab sebaiknya diingatkan kembali bahwa manusia adalah ciptaan
Allah yang berkemampuan terbatas.
Kemampuan
seorang manusia akan bertambah dengan bertambahnya pengetahuan dan
pengalamannya. Tetapi bagaimanapun juga manusia adalah tetap ciptaan Allah yang
terbatas kemampuannya. Jika terdapat orang yang ingin mengandalkan kemampuannya
yang sangat terbatas untuk menghakimi firman Tuhan, itu jelas suatu usaha yang
pasti akan gagal. Adalah lebih bijaksana bagi pembaca Alkitab bersikap percaya
kepada firman Allah, dan menantikan pertolongan dari Allah, yang diberi
oleh-Nya pada waktu yang ditentukan, untuk mengerti firman-Nya.
d. Sikap rajin
dan teliti (Kis 17:11)
Seorang awam yang rajin membaca
Alkitab dan teliti dalam penyelidikannya mungkin akan lebih mengerti firman
Allah daripada seorang teolog yang tidak memperhatikan Alkitab. Dengan demikian
dapat dikatakan tidak ada jalan pendek/pintas bagi anak-anak Tuhan. Dalam hal
ini harus bersedia meluangkan waktu , mencari tempat yang tenang dan membaca
firman dengan tekun dan teliti. Seorang
murid yang malas belajar sudah tentu tidak sanggup mengiktui ujian dengn baik.
Seorang pekerja yang malas bekerja tentu tidak akan memperoleh hasil yang
menggembirakan. Begitu juga para penafsir Alkitab, jika mereka ingin mengerti
firman Allah, sikap yang harus dimiliki oelh mereka adalah tekun dan teliti
e. Memiliki
tekad menjalankan firman Allah (Mat 7:24-25; Yak 1:22)
Tekad untuk menjalankan firman Tuhan
adalah sangat penting. Sebab tanpa tekad demikian orang Kristen bagaikan orang
yang membangun fondasi rumahnya di atas pasir, tidak sebaliknya orang bijaksana
yang melakukan firman yang mendirikan rumahnya di atas batu karang (Mat
7:24-27). Akibat dari ini fatal yaitu sekalipun rumah kelihatan indah dan
megah, tetapi jika hujan, badai, angin datang menerpa akan langsung roboh.
Tanpa menjalankan firman Tuhan, firman itu merupakan pengetahuan yang abstrak,
teori yang tidak berfungsi. Sebaliknya firman Tuhan akan menjadi hidup,
berarti, bermanfaat, jika pembacsanya bersedia menjalankannya. Seorang yang
bersedia menjalankan firman Allah, ia juga akan diberikan penerangan yang baru
dari Allah.
Hal ini dapat dibuktikan dari banyak
pengkhotbah yang walaupun sering berkhotbah tetapi tidak akan kehabisan
penerangan dari Allah. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, mereka bukan saja
menyampaikan kebenaran Allah tetapi juga menjalankannya. Dengan demikian firman
Allah bagaikan mata air yang hidup, yang terus mengalir tiada henti.
3. Mohon penerangan dari Roh Kudus (Yoh 16:13)
Alkitab
bukan suatu buku manusia yang biasa, melainkan firman yang diilhamkan oleh
Allah. Jadi Roh Kudus adalah Pengarang yang sesungguhnya dari Alkitab, yang
bekerja dalam hati penulis-penulis Alkitab. Jadi untuk mengerti firman Tuhan,
seorang penafsir harus dengan rendah hati datang kepada Roh Kebenaran dan mohon
pertolongan daripada-Nya. Sudah tentu ini bukan pelajaran mudah, sebab orang
Kristen sering lebih senang bersandar pada diri sendiri dari pada Roh Kudus.
Sehingga kita tidak perlu heran, jika banyak orang Kristen yang menamakan diri
mereka bijaksana, justru tidak dapat menerima berkat dan kuasa
dari firman Allah



Komentar
Posting Komentar