Metode-Metode Penafsiran HERMENEUTIKA


Tujuan pokok penafsiran harus diketahui secara jelas oleh orang yang menaruh  minat pada usaha ini. Tujuannya sederhana sekali yaitu menemukan arti yang dimaksudkan oleh sang penulis pada saat dia menulis. Dalam perjalanan waktu ternyata para penafsir sudah mengembangkan beberapa metode yang dipakai dalam upaya ini. Metode-metode tersebut sebetulnya berawal dari berbagai cara pendekatan yang berbeda terhadap penafsiran kitab suci.

            Ketika cara-cara tersebut dikembangkan, cara-cara itu menjadi aneka sistem penafsiran yang luas, dengan masing-masing memiliki perangkat aturannya sendiri. Sebagai metode, masing-masing juga mencakup kelompok prinsip khususnya sendiri-sendiri. Berbagai metode tersebut antara lain:

 

1. Metode Alegoris

a. Asal mula

Metode ini dimulai dari penyatuan antara agama dan filsafat Yunani. Dengan munculnya filsafat, orang Yunani mulai menyadari bahwa mereka tidak mungkin menafsirkan tulisan-tulisan agama mereka secara harfiah dan tetap berpegang pada filsafat mereka. Jika kedua-duanya diambil secara harfiah, maka keduanya akan bertentangan. Karena kesetiaan baru mereka kepada filsafat, maka untuk membuat agar agama dan filsafat mereka tidak berbenturan mereka harus menyimpulkan bahwa tulisan-tulisan keagamaan mempunyai arti agak lain daripada arti harafiahnya. Metode yang mereka ciptakan untuk maksud tersebut adalah alegorisme.

 

b. Definisi

Metode ini beranggapan bahwa di balik arti yang jelas dan nyata dari kitab suci terdapat artinya yang sebenarnya. Metode ini yakin bahwa apa yang secara harfiah dikatakan oleh kitab suci hanya merupakan “kulit” luar yang menyembunyikan “hal” rohani yang sesungguhnya dari firman. Dalam membuat alegori, sebuah nas dengan arti harfiah yang jelas ditafsirkan dengan memakai perbandingan pokok demi pokok , yang memunculkan suatu arti rohani yang tersembunyi yang tidak jelas dalam bahasa biasa dari nas tersebut. Contoh: Penafsiran kitab Ayub dikatakan: “Ketiga sahabat Ayub itu merupakan bidat atau orang sesat, ketujuh anaknya adalah ketujuh rasul, ketujuhribu dombanya adalah umat Allah yang setia, dan tiga ribu unta dengan punggung berponok ini adalah bangsa-bangsa non-Yahudi yang bejat akhlaknya” (oleh: Paus Gregory Agung).

 

c. Evaluasi

Dalam perjalanan waktu terbukti bahwa metode penafsiran ini tidak memadai. Kesalahan metode ini bermula pada asumsi dasarnya yaitu bahwa apa yang difirmankan Allah dengan bahasa yang jelas bukanlah apa yang benar-benar Ia maksudkan. Metode ini berbahaya karena tidak ada batasan alkitabiah untuk memandu pelaksanaannya. Ini pasti mengundang pertentangan dan perdebatan antara penganut metode ini. Melalui metode ini, kitab suci ditafsirkan terlepas dari pengertiannya berdasarkan sejarah dan gramatika. Apa yang disampaikan secara jelas oleh penulis pertama kalinya secara nyaris diabaikan dan yang dikedepankan adalah apa yang penafsir ingin sampaikan. Alegorisme mengaburkan baik unsur harafiah maupun unsur kiasan dalam kitab suci. Dengan mengutamakan maksud penafsir dan mengabaikan maksud penulis pertama kalinya jelas metode ini gagal untuk mencapai tujuan pokok penafsiran.

 

 

2. Metode Mistis

a. Asal-usul

Metode ini hampir sama dengan metode alegoris. Asal-usul metode mistis bisa ditelusuri asalnya dari metode eksegesa Hagadis yang dikembangkan oleh orang-orang Yahudi Palestina pada masa intertestamental. Metode ini meliputi baik penafsiran secara alegoris maupun secara mistis atas Perjanjian Lama. Karena terlalu besar keinginan untuk menerapkan kitab suci dalam kehidupan orang-orang, para penafsir salah mengira penerapan itu sebagai penafsiran dan mereka menafsirkan ke dalam arti kitab suci dengan tidak jelas.

 

b. Definisi

Metode ini beranggapan bahwa di balik kata-kata dan penegrtiannya yang biasa itu tersembunyi aneka ragam arti. Metode ini melangkah lebih jauh daripada metode alegoris dengan membuka pintu bagi banyak ragam penafsiran. Dengan memakai metode ini, suatu nas kitab suci dengan arti harfiah yang jelas dapat ditafsirkan dengan sejumlah arti rohani yang tinggi. Karena mengaku ingin mencapai bukan hanya yang tersurat, tetapi juga yang tersirat atau spirit dari firman, maka fungsi dari metode ini juga disebut “spiritualisasi”. Sebagai contoh penafsiran: “Jangan membunuh” (Kel 20:13), dituliskan: “Waktu memakai tiga pengertian kitab suci pada perintah ini, ia mengatakan bahwa pengertian lahiriahnya adalah bahwa membunuh, membenci dan mendendam dilarang; pengertian rohaniahnya adalah bahwa melakukan kejahatan dan menghancurkan jiwa manusia dilarang; lalu pengertian surgawinya adalah bahwa bagi para malaikat, membenci Tuhan dan firman-Nya adalah sama dengan membunuh.

 

c. Evaluasi

Metode ini jelas berbahaya dan kurang berguna untuk penafsiran karena dapat menyesatkan. Kesalahan  dalam asumsi pokoknya melebihi kesalahan dari metode alegoris karena metode mistis menganggap kitab suci bisa mempunyai sejumlah arti. Dengan kata lain, waktu menulis kitab suci, Allah mempunyai banyak maksud lain di balik hal-hal yang secara nyata Ia firmankan. Kitab suci dengan demikian dianggap sebagai alat komunikasi yang jelas dari Allah menjadi sebuah teka-teki dan membuatnya mengatakan segala macam hal yang lain daripada hal yang Allah maksudkan. Metode ini tidak menentu dan tidak terikat apapun. Mereka masing-masing menjadi aturan penafsiran bagi diri mereka sendiri. Dengan mengutamakan maksud-maksud penafsir dan mengabaikan arti yang dimaksudkan oleh sang penulis, metode ini gagal mencapai tujuan pokok dari penafsiran dan harus dibuang.

 

 

3. Metode Pengabdian

a. Asal-usul

Berasal dari eksegesa Hagadis zaman intertestimental yaitu dalam usaha menerapkan ayat-ayat Alkitab pada kehidupan mereka, para ahli Taurat Yahudi mulai menafsirkan ayat-ayat itu dari segi situasi kehidupan mereka sendiri. Dalam sejarah gereja, metode ini paling banyak dipraktikkan di antara para orang saleh (pietis) zaman pasca reformasi. Karena itu metode ini juga dikenal sebagai metode penafsiran Pietis.

 

 

b. Definisi

Metode ini beranggapan bahwa Alkitab ditulis untuk pembinaan pribadi setiap orang percaya dan bahwa pengertiannya yang tersembunyi untuk setiap pribadi hanya bisa diungkapkan dengan cahaya rohani batiniah yang besar (1 Yoh 2:20 sering dipakai sebagai bukti). Metode ini memeriksa Alkitab untuk menemukan arti yang dapat membangun kehidupan rohani. Dalam menafsirkan hal yang paling penting bukanlah apa yang Allah katakan kepada orang lain, melainkan apa yang Allah katakan kepada sang penafsir. Jadi tujuannya mencari di balik arti harafiah yang jelas dari ayat-ayat itu pengertian rohani yang dapat diterapkan kepada kehidupan si orang percaya. Contoh: Ketika menafsir Mat 10:9-11 dengan arti bahwa waktu mereka mengadakan penginjilan mereka tidak boleh membawa perlengkapan materi dan juga tidak perlu membuat persiapan rohani

 

c. Evaluasi

Sistem dalam metode ini sangat berbahaya bagi penafsiran. Bahaya utamanya adalah ketika berusaha menerapkan Alkitab secara pribadi sang penafsir bisa mengabaikan arti harafiah yang jelas dari apa yang Allah firmankan kepada orang-orang pada situasi sejarah tertentu dahulu, sehingga dia menerapkan Alkitab dengan mengutamakan diri sendiri. Selanjutya bahaya lain adalah penafsiran ini bergantung pada alegorisasi dan tipologi berlebihan dan bisa menggantikan studi Alkitab tentang doktrin dan eksegesa yang justru sangat dibutuhkan. Memang seorang penafsir harus mengetahui bahwa Alkitab dimaksudkan untuk diterapkan secara penuh pengabdian, tetapi bahwa ini hanya bisa dilakukan secara tepat sesudah Alkitab ditafsirkan secara harafiah dan secara historis. Penafsiran pengabdian harus juga diselaraskan dengan penafsiran doktrin

 

 

4. Metode Penafsiran Rasionalistis

a. Asal-usul

Dimulai pasca reformasi  yang berpusat di Jerman dengan penekanan penelitian pada sejarah dan sastra dan berusaha mengurangi otoritas Alkitab

 

b. Definisi

Metode ini beranggapan bahwa alkitab bukan firman Allah yang diilhamkan dengan otoritas. Metode ini menafsirkan Alkitab sebagai dokumen buatan manusia dari segi nalar manusia. Jika Alkitab bisa diselaraskan dengan pengetahuan sang penafsir maka Alkitab harus dipahami sebagai apa yang tertulis di dalamnya, tetapi kalau tidak, Alkitab harus dianggap sebagai mitos atau dongeng, atau digunakan sebagai bantuan. Dengan demikian daya pikir seorang penafsir menjadi ukuran penafsiran, maka hal-hal adikodrati pasti disingkirkan. Contoh: Lazarus disebutkan hanya mengalami koma dan bukan sudah mati, Yesus hanya kelihatan berjalan di atas air dll.

 

c. Evaluasi

Metode ini lebih tepat disebut sebagai metode orang yang tidak percaya. Walaupun disebut rasional tetapi sebenarnya metode ini paling tidak rasional, karena kebenaran dianggap sebagai mitos belaka. Metode ini jelas meninggikan nalar melebihi otoritas firman Allah. Dengan metode ini seorang penafsir menjadikan dirinya standar kebenaran dan ia hanya melihat manfaat Alkitab untuk membenarkan kesimpulan-kesimpulannya. Metode ini jelas harus ditolak

 

5. Metode Harafiah

a. Asal-usul

Metode ini paling tua dimulai dari zaman Ezra “Bapak Hermeneutik”

 

b. Definisi

Metode ini beranggapan bahwa kata-kata dalam Alkitab dalam arti nyatanya yang jelas itu bisa dipercaya, bahwa Allah memaksudkan agar penyataan-Nya dipahami oleh semua orang yang percaya, bahwa kata-kata dalam Alkitab menyampaikan apa yang Allah ingin manusia ketahui, dan bahwa Allah mendasarkan penyampaian kebenaran itu pada berbagai peraturan biasa yang mengatur komunikasi tertulis, oleh karenanya Ia ingin agar kata-kata itu bisa ditafsirkan dengan peraturan-peraturan yang sama. Ini tidak berarti menolak keterlibatan Roh Kudus baik dalam penciptaan maupun dalam penafsiran Alkitab. Ungkapan “arti harafiah” bisa didefinisikan sebagai arti yang biasa dan yang diterima masyarakat yang dibawa oleh perkataan atau ungkapan di dalam konteks tertentunya. Tercakup di dalamnya arti satu kata tertentu yang dimaksudkan oleh penulis dan pembaca pertamanya. Disadari bahwa sebuah kata bisa mempunyai arti berbeda dalam konteks berbeda dan karenanya harus ditafsirkan dari segi penggunaan kontekstualnya. Metode ini berpendapat bahwa walaupun satu kata kemungkinan mempunyai bebarapa arti, dalam setiap pemnggunaan khusus kata itu biasanya akan mempunyai hanya satu arti yang diharapkan.

            Menafsirkan secara harafiah berati menjelaskan arti semula dari si pembicara atau penulis sesuai dengan penggunaan yang normal dan biasa dari kata-kata dan bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan:

  1. Arti harafiah tidak mengesampingkan kiasan.
  2. Metode harfiah tidak mengesampingkan arti rohaniah
  3. Penafsiran harafiah tidak mengesampingkan penerapan
  4. Metode harafiah tidak mengesampingkan kedalaman arti

 

c. Evaluasi

Metode ini menonjol di antara metode-metode lainnya sebagai satu-satunya cara pendekatan yang pantas, aman dan masuk akal untuk menafsirkan Alkitab. Setiap metode lain terbukti tidak memadai karena metode-metode lain itu kurang mempunyai batas-batas yang ditentukan Allah dan yang dirumuskan dengan baik.

 


Komentar

Postingan Populer